TEKNOLOGI PENGEMASAN SEDIAAAN AMPUL


TEKNOLOGI PENGEMASAN SEDIAAAN AMPUL

DISUSUN OLEH

AMILINA                              G1F009062

SINGGIH ANGGUN S         G1F009063

ANDREW GOLDFRID         G1F009064

 

Jurusan Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Jln. Dr. Soeparno Karangwangkal, Purwokerto, Jawa Tengah

Abstrak

Pengemasan adalah suatu proses pembungkusan, pewadahan atau pengepakan suatu produk dengan menggunakan bahan tertentu sehingga produk yang didalamnya terlindungi. Kemasan adalah penyatuan dari bahan yang dikemas (bahan yang diisikan) dan pengemas. Teknologi pengemasan terus berkembang dari waktu ke waktu dari mulai proses pengemasan yang sederhana sampai teknologi modern seperti saat ini.

Ampul adalah wadah berbentuk silindris terbuat dari gelas, yang memiliki ujung runcing (leher) dan bidang dasar datar ukuran normalnya adalah 1, 2, 5, 10, 20, kadang – kadang juga 25 atau 30 ml. Ampul adalah wadah takaran tunggal, oleh karena total jumlah cairannya ditentukan pemakainannya untuk satu kali injeksi. Teknologi pengemasan sediaan ampul meliputi pembersihan, pengisian, dan penutupan.

Kata kunci: pengemasan, ampul, teknologi pengemasan sediaan ampul

 

Pengemasan adalah suatu proses pembungkusan, pewadahan atau pengepakan suatu produk dengan menggunakan bahan tertentu sehingga produk yang didalamnya terlindungi. Teknologi pengemasan terus berkembang dari waktu ke waktu dari mulai proses pengemasan yang sederhana sampai teknologi modern seperti saat ini. Pengemas merupakan wadah yang melindungi keseluruhan bahan kemas dari kerusakan yang dilengkapi dengan tulisan, label, keterangan lain yang menjelaskan isi, kegunaan, dan informasi lain yang perlu disampaikan kepada konsumen (voight,1995).

Bahan kemas yang kontak langsung dengan bahan yang dikemas, dinyatakan sebagai bahan kemas primer, contohnya strip/blister, botol, ampul, vial, plastik dan lain-lain. Sedangkan pembungkus selanjutnya seperti kotak terlipat karton dan sebagainya dinamakan bahan kemas sekunder (Voight, 1995).

Ampul adalah wadah berbentuk silindris terbuat dari gelas, yang memiliki ujung runcing (leher) dan bidang dasar datar ukuran normalnya adalah 1, 2, 5, 10, 20, kadang – kadang juga 25 atau 30 ml. Ampul adalah wadah takaran tunggal, oleh karena total jumlah cairannya ditentukan pemakainannya untuk satu kali injeksi (Voight, 1995).

Gambar 1: Contoh Sediaan Ampul

Teknologi Pengemasan Sediaan Ampul

Sediaan suntik dibuat secara steril karena sediaan ini diberikan secara parenteral. Istilah steril adalah keadaan bebas dari mikroorganisme baik bentuk vegetatif, nonvegetatif, pathogen maupun nonpatogen. Sedangkan parenteral menunjukkan pemberian dengan cara disuntikkan. Produk parenteral dibuat mengikuti prosedur steril mulai dari pemilihan pelarut hingga pengemasan. Bahan pengemas yang biasa digunakan sebagai sediaan steril yaitu gelas, plastik, elastik (karet), metal. Pengemasan sediaan suntik harus mengikuti prosedur aseptis dan steril karena pengemas ini langsung berinteraksi dengan sediaan yang dibuat, termasuk dalam hal ini wadah. Wadah merupakan bagian yang menampung dan melindungi bahan yang telah dibuat (ansel,1989).

Wadah obat suntik (termasuk tutupnya) harus tidak berinteraksi dengan sediaan, baik secara fisik maupun kimia karena akan mengubah kekuatan dan efektifitasnya. Bila wadah dibuat dari gelas, maka gelas harus jernih dan tidak berwarna atau berwarna kekuningan, untuk memungkinkan pemeriksaan isinya. Jenis gelas yang sesuai dan dipilih untuk tiap sediaan parenteral biasanya dinyatakan dalam masing-masing monograf. Obat suntik ditempatkan dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis berganda (Ansel, 1989).

Wadah dosis tunggal adalah suatu wadah yag kedap udara yang mempertahankan jumlah obat steril yang dimaksudkan untuk pemberian parenteral sebagai dosis tunggal, dan yang bila dibuka tidak dapat ditutup rapat kembali dengan jaminan tetap steril (Ansel,1989)

Wadah dosis berganda adalah wadah kedap udara yang memungkinkan pengambilan isinya secara berulang tanpa terjadi perubahan kekuatan, kualitas atau kemurnian pada bagian yang tertinggal (Ansel, 1989)

Wadah dosis tunggal biasanya disebut ampul, tertutup rapat dengan melebur wadah gelas dalam kondisi aseptis. Wadah gelas dibuat mempunyai leher agar dapat dengan mudah dipisahkan dari bagian badan wadah tanpa terjadi serpihan-serpihan gelas. Sesudah dibuka, isi ampul dapat dihisap kedalam alat suntik dengan jarum hipodermik. Sekali dibuka, ampul tidak dapat ditutup dan digunakan lagi untuk waktu kemudian, karena sterilitas isinya tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi. Beberapa produk yang dapat disuntikkan dikemas dalam alat suntik yang diisi sebelumnya dengan atau tanpa cara pemberian khusus. Gelas yang digunakan dalam mengemas sediaan farmasi digolongkan menjadi 4 kategori, yaitu :

Gelas

Komposisi

Sifat-sifat

Aplikasi

Tipe 1 Borosilikat Resistensi terhadap hidrolisis tinggi,eksporasi termal rendah Sediaan parenteral asidik dan netral, bisa juga untuk sediaan alkali yang sama
Tipe II Kaca soda kapur (diperlukan dealkalisasi) Resistensi hidrolitik  relatif tinggi Sediaan parenteral asidik dan netral, bisa juga untuk sediaan alkalin yang sesuai
Tipe III Kaca soda lapur (tidak mengalami perlakuan Sama dengan tipe II, tapi dengan pelepasan oksida Cairan anhidrat dan produk kurang, sediaan parenteral jika sesuai
Tipe NP Kaca soda kapur (penggunaan umum) Resistensi hidrolitik sangat rendah Hanya digunakan untuksediaaan non parenteral (oral, tipikal, dsb)
  • Tipe 1, 2 dan 3 dimaksudkan untuk produk parenteral
  • Dan tipe NP dimaksudkan untuk produk non-parenteral dan tipe itu dimaksudkan untuk penggunaan oral dan topical

Keempat kategori tersebut tergantung pada bahan kimia dari gelas tersebut dan kemampuannya untuk mencegah penguraian. Pembuatan sediaan farmasi harus memilih dan menggunakan wadah yang tidak mempengaruhi komposisi dan kestabilan dari produknya. Tipe 1 umumnya merupakan gelas yang paling tahan dari keempat kategori tersebut (Ansel,1989).

Persyaratan utama dari larutan yang diberikan secara parenteral ialah kejernihan. Sediaan itu harus jernih, berkilauan, bebas dari semua zat-zat khusus (senyawa yang bergerak, tidak larut) dan pengotor seperti debu, serat baju, serpihan gelas, kelupasan dari wadah gelas atau plastik, yang tanpa disengaja masuk kedalam produk selama proses pembuatan, penyimpanaan dan pemberian. Untuk mencegah masuknya partikel yang tidak diinginkan kedalam produk parenteral, sejumlah tindakan pencegahan harus dilakukan selama pembuatan dan penyimpanan. Misalnya, larutan parenteral yang proses akhirnya disaring sebelum dimasukkan kedalam wadah. Wadah harus dipilih dengan teliti, yang secara kimia tahan terhadap bahan yang akan dimasukkan dan mempunyai kualitas yang paling baik untuk memperkecil kemungkinan terkelupasnya wadah dan kelupasan masuk kedalam larutan. Bila wadah telah dipakai, wadah harus dicuci dengan seksama agar bebas dari semua zat asing. Selanjutnya, selama pengisian wadah harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh proses pengisian untuk mencegah masuknya debu yang dikandung udara, serat kain, atau pengotoran-pengotoran lain kedalam wadah (ansel,1989).

Proses pengemasan dimulai dari :

  • Pembersihan

Pada umumnya, ampul kosong yang dipasarkan dalam keadaan terbuka memiliki leher yang lebar untuk memudahkan pembersihan dan pengisian. Dengan cara pengisian ampul berulang kali dengan cairan pencuci dan akhirnya dikosongkan dapat diperoleh ampul yang bersih dan menjamin bahwa seluruh partikel pengotor dan serpihan gelas telah dihilangkan.

Dalam industri kecil, digunakan beberapa alat pencuci dimana ampul-ampul dipasang pada kanula dan air ditekan mengalir kedalam ampul melaui kanula bermantel. Suplai air dihentikan digantikan dengan aliran udara bertekanan yang menekan keluar sisa-sisa air sampai ampul mengering.

Dalam industri besar, tersedia mesin-mesin pembersih ampul semiotomatis dan otomatis. Pada mesin pencuci otomatis pembersihan dilakuakan dengan cairan pencuci panas bersuhu 80C bertekanan tinggi (0,4 Mpa, 4 at) dimana serpihan gelas yang melekat erat pada dinding-dinding dan umumnya baru dapat dihilangkan pada saat sterilisasi melalui kerja panas, juga turut tercuci.

Setelah dilakukan penyemprotan dengan cairan pencuci umumnya masih diikuti 2xpencucian dengan air pada tekanan yang sama dan diakhiri dengan air suling (0,05 Mpa, 0,5 at) (voight,1995).

  • Pengisian

Pengisian ampul dengan larutan obat dilakuakn pada sebuah alat khusus untuk pabrik kecil atau menengah pengisian dilakukan dengan alat torak pengisi yang bekerja secara manual atau elektris. Melalui gerak lengannya larutan yangakan diisikan dihisap oleh sebuah torak kedalam penyemprot penakar dan melalui kebalikan gerak lengan dilakukan pengisiannya (voight,1995).

  • Penutupan

Penutupan ampul dapat dilakukan dengan 2 cara. Pertama cara peleburan, dimana semburan nyala api diarahkan pada leher ampul yang terbuka dan ampul ditutup dengan membakar disatu lokasi lehernya sambil diputar kontinyu. Kedua cara tarikan, dimana seluruh alat penutup ampul otomat yang digunakan dalam industri bekerja menurut prinsip ini

Gambar 2: Cara Tarik

Pada alat ini sebuah (atau juga 2 buah) semburan api diarahkan pada bagian tengah leher ampul. Setelah gelas melunak bagian atas leher dijepit dengan sebuah pinset (pada kerja manual), atau dilakukan oleh alat khusus (masinel) kemudian ditarik keatas kemudian ampul dapat ditutup.

Gambar 3: Skema alat otomatis penuh untuk pembersihan,sterilisasi,dan pendinginan ampul,jenis CRT A 08,serta untuk pengisian dan penutupan ampul 1 sampai 5 ml atau 5 sampai 30 ml,jenis AVR 04

video 1: pengemasan ampul (1)

video 2: pengemasan ampul (2)

REFERENSI :

 Ansel,H.C., (1989). Pengatar Bentuk sediaan Farmasi. Edisi 4. UI Press. Jakarta.

Kurniawan, Dhadang Wahyu. 2012. Teknologi Sediaan Farmasi. Laboratorium Farmasetika Unsoed. Purwokerto.

Lachman L., Lieberman H.A., Kanig J.L., (1994), Teori dan Praktek Farmasi Industri diterjemahkan oleh Suyatni S., Edisi II, UI Press, Jakarta.

Voight. R,.(1995). Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Penerjemah Dr. Soendani Noerono. Edisi Kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

This entry was posted in TSF Mahasiswa 2009. Bookmark the permalink.

41 Responses to TEKNOLOGI PENGEMASAN SEDIAAAN AMPUL

  1. Juven says:

    Makasih infonya…

  2. Arya hutama says:

    Hai guys…..
    Minta infonya dong, sy lagi cari alat capping manual untuk merekatkan penutup aluminium vial…
    Tolong infonya ya guys….ini pin bb sy 7CF5AE9D
    Thanks

  3. Toning susanto says:

    Saya lagi mencari ampoulle filling and sealing machine. Apakah ada yang punya informasi yg jual mesin ini? Thx

  4. Gandhara says:

    numpang tanya
    ukuran(panjang,lebar,tinggi) ampul yang 2 ml brp y?

  5. dimdim_delonge says:

    klo untuk wadah itu ada tipe2nya yah ? berpengaruh untuk zat aktifnya ga ? bagaimana pengerjaannya secara aseptik ?

  6. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    oke sama-sama

  7. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    sama-sama mas angga P🙂

  8. angga p says:

    oke mas bero makasi buat jawabannya🙂

  9. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    buat angga P
    Iya bisa mas
    Syarat-syarat nya yaitu :
    • Material plastik harus sedemikian tebal, sehingga lintasan untuk mikroorganisme tidak dimungkinkan, dan sebaiknya tidak permeabel untuk uap dan gas,
    • Harus dapat disterilkan; jika mungkin dalam keadaan kosong maupun terisi,
    • Tidak boleh membebaskan bahan asing kedalam kandungannya (absorbsi, absorbsi). Komponen toksis atau komponen lain dari bahan sintetis yang dapat bermigrasi kedalam kandungan harus serendah mungkin, sehingga tidak bersifat merusak,
    • Sebaiknya menunjukan kemantapan absolut terhadap bahan obat,bahan pembantu galenik dan bahan pelarut semua jenis.
    • Tidak boleh menimbulkan perubahan konsentrasi. Yang mempengaruhi efek terapetik dari preparat.
    • Bahan sintetis untuk wadah larutan injeksi, mengingat kontrol pengamatan yang dilakukan.harus memiliki transparansi yang baik.
    • Bahan sintetis, tergantung tujuan penggunaannya harus mempunyai elastisitas yang memuaskan. Kekompakan tekan atau mantap terhadap koyakan dan penuaan.
    • Bahan sintetis harus dapat dilas dengan baik, dan dapat dibuat dengan murah.

    makasih

  10. Amilina (G1F009062) says:

    bisa mas..
    syaratnya :
    > tidak memengaruhi produk yang dikemas
    > dapat disterilisasi
    >kedap terhadap gas, rasa dan warna produk yang dikemas
    Jenis-jenis plastik pengemas yang banyak digunakan meliputi: polistiren (PS) polietilen (PE), polipropilen (PP), polikarbonat (PC),polivinil khlorida/saran (PVC),

  11. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    menjawab pertanyaan mas kusumah P
    Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pengisian:
    Bagian dalam leher ampul tidak boleh basah oleh cairan yang disemprotkan melalui kanula,oleh karena itu pada saat penutupan ampul bahan obat terlarut akan mengarang dan menyebabkan warna gelap larutan dalam ampul,sekurang-kurangnya menyebabkan terjadinya bahan yang melayang yang tidak dikehendaki.
    Dan juga pada saat pengisiian ampul cairan yang dapat diinjeksikan sebanyak 90% dari volume totalnya.Hal ini dimaksudkan agar tekanan dalam yang terbentuk pada saat sterilisasi dengan panas tidak menyebabkan meledaknya ampul.

    makasih

  12. angga p says:

    oh gitu,kalo pengemasan dengan plastik bisa kan ya?ada ga syarat-syarat nya untuk dijadikan sebagai bahan pengemas???

  13. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    menjawab pertanyaan angga P

    kemasan gelas/kaca mempunyai sifat sebagai berikut :
     Tembus pandang
     Kuat
     Mudah dibentuk
     Lembam
     Tahan pemanasan
     Pelindung terbaik terhadap kontaminasi dan flavor
     Tidak tembus gas, cairan dan padatan
     Dapat diberi warna
     Dapat dipakai kembali (returnable)
     Relatif murah

    makasih

  14. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    terima kasih buat komentarnya🙂

  15. kusumah p says:

    hal-hal yang harus diperhatikan pada saat pengisiian ampul apa saja ya?tolong dijelaskan🙂

  16. kusumah p says:

    baguus lanjutkan!

  17. angga p says:

    mau tanya dong sifat2 dari bahan pengemas gelas apa aja ya??

  18. angga p says:

    bagus gan tulisannya🙂
    keratif pake video
    mantab!

  19. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    menjawabpertanyaan galih priandani
    saya mewakili singgih yang sedang dinas ke Aji Barang

    Ampul pada umumnya dibuat dengan desain ujung yang runcing pada leher,hal ini dimaksudkan adanya penyempitan pada bagian leher ampul dan bertujuan untuk memudahkan pengambilan cairan injeksi setelah ampul dipotong dengan menggunakan kikir ampul dan dibuka.
    Terdapat desain lain contohnya ada ampul silinder yang berbentuk silinder,cairan injeksi berada dalam sebuah silinder gelas, yang salah satu sisinya ditutup dengan penutup karet atau penutup dari bahan sintesis yang tebal dan berfungsi sebagai torak.ada juga dengan bentuk leher injeksi berleher lebar,yang terdiri dari tudung pelindung,kapsul seng untuk ditekuk,dan tutup karet.

    makasih,mungkin nanti ditambahkan oleh sodara Singgih

  20. Galih Priandani (G1F009029) says:

    sedikit bertanya dan berharap dijawab oleh saudara singgih
    mengapa sediaan ampul pada umumnya dengan desain yang terdapat ujung yang runcing (leher)?apakah ada desain lain selain itu?
    termakasih,

  21. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    tambahan buat mas surya
    kapasitasnya untuk ampul 1-5 ml berjumlah 10.000 buah/jam
    ada juga mesin yang dapat bekerja otomatis dan menunjukan kapasitas maksimal sebesar 24.000 ampul/jam

  22. Amilina (G1F009062) says:

    untuk surya Pro_digi
    produk yang dihasilkan kurang lebih 8.000-10.000

  23. surya Pro_digi says:

    halooo
    ane mau nanya gan
    dengan menggunakan cara tarikan,berapa banyak produk ampul yang dihasilkan per jamnya??

  24. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    Untuk mba hapsari anisa
    Kriteria untuk kemasan ampul antara lain :
    Ampul dibuat dari bahan gelas tidak berwarna,akan tetapi untuk bahan obat peka cahaya dapat dibuat dari bahan gelas berwarna coklat tua.
    Ampul dengan dasar datar atau cembung dan leger yang panjang,diterapkan untuk mewadahi bahan berbentik serbuk (ampul kering),atau juga bahan yang berminyak.
    Makasih

  25. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    Untuk mas hans siregar
    Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai pencuci antara lain : alkali,detergen,purifed water (PW) ,aqua demineralisasi (DM) yang disaring,nonpyrogen water,aqua untuk injeksi (aqua p.i)
    Makasih

  26. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    Untuk rio pradifta suharjo
    Berdasarkan proses pengemasannya, dibedakan atas pengemasan aseptik dan non-aseptik.
    1. Pengemasan aseptis
    Pengemasan aseptis adalah suatu cara pengemasan bahan di dalam suatu wadah yang memenuhi empat persyaratan, yaitu : produk harus steril, wadah pengemas harus steril, lingkungan tempat pengisian produk ke dalam wadah harussteril, dan wadah pengepak yang digunakan harus rapat untuk mencegah kontaminasikembali selama penyimpanan. Sistem pengemasan aseptis digunakan untuk mengemas berbagai macam produk seperti bahan pangan dan obat-obatan. Dalam sistem pengemasan aseptis, produk dan wadah pengemas disterilisasi secara terpisah, kemudian dilakukan pengisian produk ke dalam wadah dalam lingkungan steril sehingga diperoleh produk steril dalam kemasan yang tahan disimpan dalam jangka waktu lama.
    2. Pengemasan Non Aseptik
    Pada proses pengemasan non-aseptik, kontaminasi mudah terjadi, sehingga masa simpan produk umumnya relatif lebih rendah. Untuk memperpanjang masa simpan, produk dapat ditambahkan gula, garam atau dikeringkan hingga kadar air tertentu.
    Makasih

  27. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    buat mas pintoko

    Untuk modal awal mendirikan industri farmasi kami kurang tahu,yang pasti memerlukan biaya yang cukup besar
    PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIAHUK
    NOMOR 1799/MENKES/PER/XII/2010,BAB I ayat 5,6,7,8,9,10
    Persyaratan untuk memperoleh izin industri farmasi terdiri atas:
    a. berbadan usaha berupa perseroan terbatas;
    b. memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat;
    c. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak;
    d. memiliki secara tetap paling sedikit 3 (tiga) orang apoteker Warga Negara Indonesia masing-masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu, produksi, dan pengawasan mutu; dan
    e. komisaris dan direksi tidak pernah terlibat, baik langsung atau tidak langsung dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kefarmasian.

    Untuk memperoleh izin industri farmasi diperlukan persetujuan prinsip.
    Permohonan persetujuan prinsip diajukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal.
    Dalam hal permohonan persetujuan prinsip dilakukan oleh industri Penanaman Modal Asing atau Penanaman Modal Dalam Negeri, pemohon harus memperoleh Surat Persetujuan Penanaman Modal dari instansi yang menyelenggarakan urusan penanaman modal sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
    Persetujuan prinsip diberikan oleh Direktur Jenderal setelah pemohon memperoleh persetujuan Rencana Induk Pembangunan (RIP) dari Kepala Badan.
    Dalam hal permohonan persetujuan prinsip telah diberikan, pemohon dapat langsung melakukan persiapan, pembangunan, pengadaan, pemasangan, dan instalasi peralatan, termasuk produksi percobaan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan.
    Untuk lebih lengkap nya silahkan membuka http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=izin%20mendirikan%20indusrti%20farmasi&source=web&cd=2&ved=0CFYQFjAB&url=http%3A%2F%2Fwww.pom.go.id%2Fpublic%2Fhukum_perundangan%2Fpdf%2Fpermenkes_1799_2010.pdf&ei=fLfAT7CBOIq3rAfssLm0CQ&usg=AFQjCNHCvbLED4ICWMsnOMz4dhnLqoB6wg
    Terima kasih🙂

  28. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    buat awoel : sementara ini kelompok saya menggunakan referensi itu mas,untuk kedepannya kami akan mencoba mencari referensi terkait arikel ini yang lebih baru
    makasih🙂

  29. hapsari anisa says:

    numpang nanya nih, kriteria buat kemasan ampul itu apa aja gan? jawab secepatnya ya buat bahan ngerjain laporan hehe thsnkd gaan

  30. hans siregar says:

    cairan pencuci ampul itu apa aja ya kalo boleh tau? jawab ya masbrooo😀

  31. Rio Pradifta Suharjo says:

    ane dari biologi ni gan, tetanggaan kampus kita haha. cuma mau nanya nih, pengemasan sederhana ada berapa macam gan? itu tahannya berapa lama? tengkyu gaan😀

  32. Pintoko says:

    kira2 modal awalnya berapa ya kalo saya mau buat bisnis pengemasan ini?
    dan langkah2nya (termasuk pembuatan izin, peralatan, tenaga ahli, dll) bagaimana?
    terima kasih.🙂

  33. awoel says:

    nuwun sewu…

    referensi’nya ada yg lebih baru gak???
    syp tau ada ilmu yg lebih baru dari referensi diatas🙂

  34. Singgih Anggun (G1F009063) says:

    pertanyaan bagus dan jawaban yang baguss.
    lanjutkan!!!

  35. Dina says:

    keren, lumayan buat referensi🙂

  36. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    makasi untuk komentar dan pertanyaaan2 nya🙂

  37. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    menjawab pertanyaan mitha maulidya
    Kedua cara tersebut dapat dilakukan,tergantung alat-alat yang tersedia
    Pada cara peleburan terdapat kelemahan sering terbentuk celah halus pada ujung leher yang tertutup ,sehingga tidak selalu menjamin kekedapan.Cara yang paling baik adalah cara tarikan dimana cara ini paling sering digunakan dalam industri dan minim terjadi pembentukan celah.

  38. andrew goldfrid (G1F009064) says:

    menjawab pertanyaan tita pristi

    Sediaan ampul menggunakan teknik pengemasan dengan bahan gelas
    Kelemahan kemasan gelas :
    – Berat sehingga biaya transportasi mahal
    – Resistensi terhadap pecah dan mempunyai thermal shock yang rendah
    – Dimensinya bervariasi
    – Berpotensi menimbulkan bahaya yaitu dari pecahan kaca.

  39. Wantri says:

    good post. keep it up!😀

  40. Mitha Lidya says:

    mitha maulidya (G1F009008)
    mau tanya, kapan cara peleburan digunakan?? dan kapan cari tarikan digunakan??
    apa disesuaikan dengan bahan-bahannya jga??
    makasihh ^^

  41. Tita Pristi says:

    Tita P.D.C G1F009069
    kelemahan teknik pengemasan menggunakan ampul?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s