INTIP YUK SERBA-SERBI STRIP DAN BLISTER UNTUK KEMASAN PRODUK FARMASI


Disusun oleh :

Fitri Aprilia Junaedi                G1F010046

Sani Zakkia Alawiyah             G1F010009

Abstrak

Pengemasan merupakan proses yang tidak kalah penting dalam pembuatan sediaan farmasi. Pengemasan adalah suatu proses pembungkusan, pewadahan atau pengepakan suatu produk dengan menggunakan bahan tertentu sehingga produk yang ada di dalamnya bisa tertampung dan terlindungi. Tahapan ini ikut mempengaruhi stabilitas dan mutu produk akhir. Bahkan belakangan ini faktor kemasan dapat menjadi gambaran ukuran bonafiditas suatu produk / perusahaan farmasi. Bahan kemas farmasi terbagi menjadi dua, yaitu bahan kemas primer dan bahan kemas sekunder. Strip/blister merupakan salah satu contoh bahan kemas primer, yaitu bahan kemas yang kontak langsung dengan bahan yang dikemas atau produk. Strip/blister merupakan kemasan yang menganut sistem dosis tunggal, biasanya digunakan untuk sediaan padat (tablet, kapsul, kaplet, dan lain-lain) per oral.

Kata kunci : Kemasan, strip, blister, obat padat per oral.

Pengemasan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan mutlak diperlukan dalam persaingan dunia usaha seperti saat ini. Saat ini kemasan merupakan faktor yang sangat penting karena fungsi dan kegunaannya dalam meningkatkan mutu produk dan daya jual dari produk. Kemasan produk dan labelnya selain berfungsi sebagai pengaman produk yang terdapat di dalamnya juga berfungsi sebagai media promosi dan informasi dari produk yang bersangkutan. Kemasan produk yang baik dan menarik akan memberikan nilai tersendiri sebagai daya tarik bagi konsumen. Secara umum fungsi kemasan adalah sebagai bahan pelindung atau pengaman produk dari pengaruh-pengaruh luar yang dapat mempercepat terjadinya kerusakan pada produk yang terdapat di dalamnya. Namun demikian selain itu kemasan masih memiliki fungsi-fungsi atau kegunaan lain yang tidak kalah pentingnya seperti mempermudah distribusi atau pengontrolan produk dan bahkan saat ini ada fungsi yang sangat penting yaitu kemasan sebagai media atau sarana informasi dan promosi dari produk yang ditawarkan yang ada di dalam kemasan.
Secara lebih terperinci berikut ini adalah sekilas penjelasan singkat tentang fungsi dan peranan kemasan :

1. Sebagai wadah, perantara produk selama pendistribusian dari produsen ke konsumen.

2. Sebagai pelindung, kemasan di harapkan dapat melindungi produk yang ada di dalamnya dari berbagai faktor penyebab kerusakan baik yang disebabkan oleh faktor biologi, kimia maupun fisika.

3. Memudahkan pengiriman dan pendistribusian, dengan pengemasan yang baik suatu produk akan lebih mudah didistribusikan.

4. Memudahkan penyimpanan, suatu produk yang telah dikemas dengan baik akan lebih mudah untuk di simpan.

5. Memudahkan penghitungan, dengan pengemasan jumlah atau kuantitas produk lebih mudah di hitung.

6. Sarana informasi dan promosi (Agustina,2009).

Kemasan strip/blister merupakan kemasan yang digunakan untuk sediaan padat (tablet, kapsul, kaplet, dan lain-lain) per oral yang menganut sistem dosis tunggal (Kurniawan, 2012). Strip merupakan kemasan yang terdiri atas dua lembar alumunium. Strip terdiri dari berbagai macam tergantung bahan penyusun dari strip, seperti  Polycellonium,  Polycello, dan Polynium.  Polycellonium merupakan bahan strip yang paling umum, dimana kandungannya adalah polycello/selofan dan alumunium. Selofan adalah sejenis bahan dari serat selulosa yang berbentu tipis transparan, fungsinya dalam kemasan adalah untuk menempelkan pewarna sehingga strip bisa berwarna-warni. Alumunium sendiri berfungsi untuk menjaga obat dari pengaruh kelembaban. Semakin tebal alumunium yang digunakan akan semakin membuat tingkat proteksi menjadi lebih baik. Namun harus dilihat dari sisi mesin strip, apakah kompatibel atau tidak karena bisa jadi semakin tebal akan mengganggu proses stripping. Antara selofan dan alumunium ini terdapat satu lapisan yakni Polyetilen yang fungsinya untuk melekatkan selofan dan alumunium. Lapisan setelah alumunium sendiri adalah Pplyetilen lagi, fungsinya adalah untuk membuat dua Polycellonium dapat saling melekat saat distripping. Jadi secara garis besar, ada 4 lapisan dalam Polycellonium, yakni selofan (terluar), Polyetilen, Alumunium, Polyetilen (terdalam). Pembuatan Polycellonium secara garis besar, selofan dicetak dan diberi warna lalu Polyetilen dicairkan. Kemudian Alumunium dan selofan dipasang dalam masing-masing silindernya, saat akan ditemukan maka diberi cairan Polyetilen, sehingga keduanya melekat. Lalu dilapis dengan Polyetilen kembali pada bagian dalam. Untuk Polycello dan Polynium hampir sama dengan Polycellonium. Hanya saja Polycello komposisinya adalah selofan dan Polyetilen sehingga sifatnya elastis dan tembus pandang (contoh: antimo tablet), sedangkan Polynium kandungannya adalah Alumunium dan Polyetilen (Anandita, 2012).

Contoh kemasan strip

Blister merupakan kemasan yang terdiri dari dua lapisan kemasan yang berbeda, yaitu PTP dan Plastik. PTP merupakan singkatan dari Press Trough Packaging. Komposisi PTP ini adalah alumunium dan PE. Sedangkan plastik yang digunakan bisa PVC atau PVDC, tergantung dari bahan yang akan diblister (Anandita, 2012). Sifat umum PVDC antara lain adalah transparan, luwes, jernih, dan beragam. Tahan terhadap bahan kimia, asam, basa, dan minyak. Sekat lintasan yang baik untuk sinar UV, permeabilitas gas dan uap air sangat rendah, tahan terhadap pemanasan kering atau basah, serta tidak baik untuk kemas beku. Jika bahan sensitif dengan kelembaban maka akan lebih disarankan PVDC karena lebih protect (Anonim, 2007).

Kelebihan dari blister ini salah satunya adalah dapat melindungi bahan–bahan di dalamnya seperti obat–obatan yang sering diletakkan di dalam sebuah susunan rak di toko obat atau apotek, sehingga dalam bidang farmasi, blister sangat dibutuhkan untuk keperluan pengemasan obat–obatan, misalnya pada kapsul dan tablet. Tidak hanya itu, blister memiliki kelebihan–kelebihan lain, yaitu untuk mempertahankan dan menyatakan keaslian produk. Dalam hal ini, di dalam sebuah kemasan blister tersebut, misalnya saja pada obat–obatan agar dapat menghindari penggunaan obat–obatan yang illegal dari orang–orang yang tidak bertanggung jawab, maka kemasan blister ini berfungsi menjaga dan memastikan keaslian produk. Pembuatan blister untuk obat–obatan atau farmasi pun tidak sembarangan, karena pada saat memproduksi blister, mulai dari pembuatan bentuk kemudian isi serta segelnya pun sudah bekerja sama dengan perusahaan obat–obatan atau farmasi agar tidak mudah ditiru serta menghindari penjualan obat–obatan illegal atau bebas. Selain itu, kegunaan blister untuk obat–obatan di dunia farmasi, yaitu untuk menghindari agar obat–obatan yang ada di dalam kemasan blister tersebut tidak terkontaminasi. Kemasan blister juga berfungsi untuk membantu konsumen menentukan ukuran dari dosis obat–obatan yang diperlukan mereka. Konsumen dapat dengan mudah membeli obat sesuai dengan kebutuhan mereka berdasarkan ukuran dan dosis dari masing-masing kemasan blister ini. Selain itu, kemasan blister ini sangat mudah untuk dibuka. Konsumen hanya tinggal membuka kemasan blister obat tersebut dari bagian belakangnya saja (Anonim, 2011).

Kemasan blister dibentuk dengan melunakkan suatu lembaran resin termoplastik dengan pemanasan, dan menarik (dalam vakum) lembaran plastik yang lembek itu ke dalam suatu cetakan. Sesudah mengalami pendinginan, lembaran dilepas dari cetakan dan berlanjut ke bagian pengisian dari mesin kemasan. Blister setengah keras yang terjadi sebelumnya diisi dengan produk, dan ditutup dengan bahan untuk bagian belakang yang dapat disegel dengan pemanasan. Bahan untuk bagian belakang atau tutupnya dapat digunakan dari jenis yang bisa didorong atau jenis yang dapat dikelupas (Kurniawan, 2012).

Contoh kemasan blister

Referensi

Agustina, W, 2009, Desain Kemasan dan Label Produk Makanan, UPT B2PTTG-LIPI, Subang.

Anandita, Dipta, 2012, Packaging Development at Pharmaceutical, www.centro.web.id, diakses tanggal 20 Mei 2012.

Anonim, 2007, Kemasan Aerosl Logam, www.scribd.com, diakses tanggal 20 Mei 2012.

Anonim, 2011, Blister Pack, www.formindo.com, diakses tanggal 20 Mei 2012.

Arie, Alexander, 2012, Sekilas Mengenai Kemasan Obat, www.kesehatan.kompasiana.com, diakses tanggal 20 Mei 2012.

Kurniawan, D.W. dan Teuku Nanda S.S., 2012, Teknologi Sediaan Farmasi, Laboratorium Farmasetika Unsoed, Purwokerto.

Triyono, A, 2002, Modul Pengemasan Produk Makanan, UPT B2PTTG-LIPI, Subang.

This entry was posted in TSF Mahasiswa 2010. Bookmark the permalink.

50 Responses to INTIP YUK SERBA-SERBI STRIP DAN BLISTER UNTUK KEMASAN PRODUK FARMASI

  1. sutajaya says:

    Trims infonya. Berguna sebagai masukan tambahan pengetahuan. Pertanyannya adalah apakah istilah Blitser dan Strip sudah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan?. Selanjutnya minta informasi alamat pabrik kemasan kapsul dengan menggunakan Blister.
    Trims atas bantuannya.

  2. hendy wijaya says:

    tanya dong,kan saya PKL di hexa,,mau tanya..mesin strip kok kadang bisa ada pocket yg kosong tidak terisi tablet knapa ya? dan kadang satu pocket bisa terisi 2 tablet..itu kendala karena apa ya? tolong pencerahannya

  3. yudis : aaahh yudiiiss makasiii kasi masukan juga dooonk atau mau tanya juga boleeeh . ditunggu yaa🙂

    rizky : makasi ontaaa semoga bermanfaat yaa😀

  4. Menambah pengetahuan umum bagi saya.
    Terima kasih infonya, sukses selalu untuk Fitri (Aje) dan Sani. Teruslah membuat artikel yang bermanfaat.🙂

    Rizky A.
    Statistika IPB

  5. @maul: terimaka kasih untuk pertanyaannya. untuk masalah efek toksik dari plastik, hal tersebut tidak akan terjadi bila konsumen/pasien menaati aturan tata cara penyimpanan obat yang baik dan benar. karena bila aturan tersebut ditaati tidak akan terjadi perubahan secara kimiawi dari kemasan yang mungkin nantinya akan bereaksi dengan obat yang akan mempengaruhi zat aktif obat. karena obat dalam kemasan yang beredar di masyarakat dibuat secara pabrikasi yang kualitasnya insya alloh sudah lulus standarisasi sehingga layak pakai sampai ke tangan konsumen/pasien.
    @Eka: terima kasih untuk pertanyaannya. untuk lama waktu penyimpanan, kembali lagi ke tata cara penyimpanan, bila tata cara penyimpanan baik dan benar maka hingga ED, obat tersebut masih layak pakai dalam artian kemasan tidak mempengaruhi zat aktif obat.
    @Citra: terima kasih untuk tanggapan dan pertanyaannya. mengenai artikel ini kamipun mengambil bahan dari beberapa sumber referensi yang insya alloh bisa dipercaya. semoga dari sumber referensi tersebut mengungkapkan hal yang benar adanya.
    -Sani Zakkia Alawiyah (G1F010009)-

  6. citra says:

    untuk penjelasan dan artikel yg dibuat sangat bisa dimengerti,tapi yang saya mau tanya untuk pembuatannya sendiri apa yg bisa saya yakinin kalau yang kamu kemukakan diatas itu benar adanya….

  7. eka wulandari says:

    artikelnya cukup menarik🙂
    kalo misal kemasannya plastik gt terus disimpen dalam waktu lama, mempengaruhi obatnya itu ga ?

  8. maul says:

    Mau tanya dong..saya awam masalh farmasi ya.Tertarik di masalah kemasan obat nih,kbanyakan secara visual kmasan obat adlh bhn plastik tuh,nah itu efek toksik dari pmbungkus terhadap obatnya?mgkin juga ada efk ke konsumn juga..gmna tuh ya?mhon pnjelasannya..

  9. betul tuh kaaa jangan taunya hukum doank . farmasi juga penting bangeeet hahahha makasi ya kakaaa . semoga bermanfaat ditunggu pertanyaan dan masukan2nyaaa😀

  10. viictvictoria says:

    great post.
    infonya bguna bgt buat yg awam msalah farmasi

  11. Batman dan sarah : makasi yaaaa😀

  12. Lidan : tapi pengemasan dan kondisi obatnya juga perlu diperhatikan banget lhooo . kalo minum obat yang kondisinya udah ga bagus apa mau ? yang ada nanti bukan sembuh malah timbul efek yang lain khaaan🙂

  13. Ardyan : makasi buat pertanyaannya🙂 seperti yang saya sebut dia atas, kalo strip itu terdiri dari 2 lembar alumunium , sedangkan blister terdiri dari 2 bahan yang berbeda , yaitu PTP dan plastik . mungkin maksud anda pengaruh bahan tersebut dengan zat aktif yang terkandung di dalam obat tersebut yaaa . jadi gini, bahan yang digunakan dalam kemasan strip atau blister tidak akan mempengaruhi kandungan zat aktif dalam obat. sesuai dengan fungsi pengemasan sendiri yaitu untuk menjaga obat agar masih layak pakai hingga sampai ke tangan konsumen/pasien. namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam hal penyimpanan misal keadaan lingkungan (suhu/temperatur, sinar matahari) harus diperhatikan sedemikian rupa agar tidak terjadi reaksi kimia pada bahan sehingga dapat mempengaruhi zat aktif nantinya. (Fitri Aprilia Junaedi G1F010046)

  14. Rian : makasi buat pertanyaannya🙂 seperti yang disebut di atas , kalo strip itu terdiri dari 2 lembar alumunium , sedangkan blister terdiri dari 2 bahan yang berbeda , yaitu PTP dan plastik . kelebihannya pada strip dan blister lebih protektif dan gampang dibuka serta mudah untuk menentukan dosis karena penggunaan kemasan ini memang untuk dosis tunggal . makasiii🙂

  15. amy : waalaikumsalam . makasi buat pertanyaannya . kaya yang udah sani bilang di atas, untuk bahan yang digunakan dalam kemasan strip atau blister tidak akan mempengaruhi kandungan zat aktif dalam obat. sesuai dengan fungsi pengemasan sendiri yaitu untuk menjaga obat agar masih layak pakai hingga sampai ke tangan konsumen/pasien. namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam hal penyimpanan misal keadaan lingkungan (suhu/temperatur, sinar matahari) harus diperhatikan sedemikian rupa agar tidak terjadi reaksi kimia pada bahan sehingga dapat mempengaruhi zat aktif nantinya. pengaruh buruknya mengalami perubahan efek terapinya, menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan (Fitri Aprilia Junaedi G1F010046)

  16. Batman says:

    baru tau loh

  17. lidan says:

    saya tahunya cuman minum obat dan sembuh kagak mikir yang lain-lain..

  18. Ardyan says:

    Perbedaannya dari obat strip ama blister apa dan tolong d jelasin apakah ada efeksamping dari penggunaan obat ini ??

    thks.

  19. amy ritonga says:

    assalamualikum..
    ada nggak pengaruh kemasan itu sama obatnya?
    kemasannya kan kontak langsung dengan obatnya seperti strip untuk sediaan tablet, ada kemungkinan nggak kemasannya bereaksi dengan obatnya??
    apa pengaruh buruknya??
    makasihhh….

  20. rian says:

    emang perbedaan strip ama blister apa ?
    dari kelebihan itu apa ?. makasihhhhhh

  21. gusta : makasiiii😀

    Bayu : iyaaaa makasi yaaa😀

    aziz : bener bangeeet apa-apa yang diliat pertama kali pasti kemasannya khaaan . makasi ya ziz . semoga bermanfaat😀

  22. azizmuslimmmmmm says:

    Baguss,,,AJ,,,,hehehe,,,wahhh,,,kerenn,,,laahhh,,,benerr,,kemasan adalah hal utama,,,

  23. bayuuuuuu says:

    nice post !
    silahkan mampir ke blog gua yaaa.
    bayusetiawan88.blogspot.com

  24. gusta adnan says:

    nice post😀

  25. hahahaha makasi diooo😀

    samasama bang arsyah semoga bermanfaat yaaaa😀

  26. arsyah muhammad says:

    seeeeep,,,klo ga salah regulasinya pun kan sudah ada!!! thanks yaa,,nambah ilmu ny

  27. Dio says:

    Nice Post …
    Keep posting …😀

  28. hahahhaa iya begituuu zaaak🙂

    alhamdulillah ada yang baru dapet ilmu tambahan . makasi ya bang anwar . semoga bermanfaat😀

  29. zaqysaputra says:

    OOOOOOO ternyata gito to…

  30. arief says:

    KEREN banget artikelnya!! selamet ya fitri dan temennya, sani. sukses!!

  31. makasi nisaa . coba dijawab yaa . setau aku dari berbagai literatur yang aku baca , kemasan strip dan blister emang umumnya digunain buat sediaan padat untuk per oral . kalo blister bisa digunakan untuk semua sediaan padat, seperti suppositoria. makasi yaaa🙂 (Fitri Aprilia Junaedi G1F010046)

  32. makasih galuuuh . semoga bermanfaat yaaa . kasi tau temen2nya juga ya buat buka blog ini dan kasi komentarnyaa🙂 Fitri Aprilia Junaedi (G1F010046)

  33. nisa says:

    artikel.a bagus fit
    mau sekalian nanya dong … obat yang bisa dikemasan strip ato blister cuma untuk obat oral aja ya ? bisa ga kalo yang lain ?

  34. galuh says:

    makasih ya fitri infonya … semoga bisa membantu😀

  35. @Hesti: terima kasih untuk pertanyaannya, sebetulnya kemasan blister ini sudah cukup untuk proteksi obat sapai batas ED, asal dibarengi dengan kondisi penyimpanan obat yang baik. yang harus diperhatikan dalam penyimpanan obat dengan kemasan blister adalah suhu penyimpanan, kelembaban karena kemasan blister kurang mampu melindungi obat pada keadaan lembab, dan cahaya matahari langsung karena bentuk blister transparan maka sinar cahaya yang langsung mengenai obat dikhawatirkan akan mempengaruhi zat aktif obat.
    -Sani Zakkia Alawiyah (G1F010009)-

  36. @muthia N: terima kasih untuk pertanyaannya. untuk keunggulan sebetulnya lebih bersifat protektif kemasan strip dibandingkan blister, karena kemasan strip mampu melindungi obat dari keadaan yang lembab. namun blister masih sering digunakan karena kesan eksklusif yang diberikan.
    -Sani Zakkia Alawiyah (G1F010009)-

  37. @Wempy Saraswati: Makasi teh buat pertanyaannya. untuk kelebihan dan kekurangan dari kemasan blister kelebihan jenis ini lebih ekonomis, karena volume yang digunakan lebih kecil untuk mengisi produk yang lebih banyak. Misalnya, 1 Blister bisa diisi 10 tablet – 12 tablet. Sementara kekurangan dari jenis ini adalah hanya digunakan untuk produk-produk yang stabil saja.
    -Sani Zakkia Alawiyah (G1F010009)-

  38. @Enggardita: terima kasih untuk pertanyaannya muje. untuk standarisasi kemasan obat di indonesia dan prosedur yang harus ditaati oleh produsen obat dalam proses pengemasan obat sudah ditetapkan aturannya oleh BPOM Indonesia. mengenai aturannya bisa di download dan dibaca dalam http://www.pom.go.id/public/hukum_perundangan/pdf/sk_03082011_01.pdf hal 42-46.
    @canes: mkasi nes..
    -Sani Zakkia Alawiyah (G1F010009)-

  39. hesti says:

    artikelnya bagus, tapi karena saya orang awam dalam soal farmasi, saya ingin tanya, seberapa besar tingkat proteksi yang dimiliki blister sehingga produk yang ada di dalamnya bisa terlindungi dari berbagai faktor, apakah hanya dengan blister saja sudah cukup membuat produk yang ada di dalamnya aman? bagaimana dengan saran penyimpanan yang ada dalam kemasan obat-obatan?

  40. Muthia N says:

    kalo tingkat proteksi dari kemasannya sendiri, sebenernya lebih bagus yang kemasan strip atau kemasan blister? makasih🙂

  41. mau tanya, sesuatu itu pasti ada kelebihan dan kekurangannya, apakah ada kekurangan dari blister untuk kemasan produk farmasi ini? makasih😉

  42. @bee febby yana: terima kasih teh pertanyaannya..🙂 untuk bahan yang digunakan dalam kemasan strip atau blister tidak akan mempengaruhi kandungan zat aktif dalam obat. sesuai dengan fungsi pengemasan sendiri yaitu untuk menjaga obat agar masih layak pakai hingga sampai ke tangan konsumen/pasien. namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam hal penyimpanan misal keadaan lingkungan (suhu/temperatur, sinar matahari) harus diperhatikan sedemikian rupa agar tidak terjadi reaksi kimia pada bahan sehingga dapat mempengaruhi zat aktif nantinya.
    @pak imam: terima kasih pak.. di tunggu pertanyaan-pertanyaan seputar artikel ini pak.. hehe

    -Sani Zakkia Alawiyah (G1F010009)-

  43. canessa says:

    bagus kok sani!😀

  44. enggardita's says:

    wah bagus pembahasannya nih, soalnya salah satu hal terpenting dalam QC adalah pengemasan, yang nantinya mempengaruhi hasil produksi dan feedback dalam masyarakat, sekalian mau tanya, ada gak sih standarisasi untuk kemasan obat yang beredar di Indonesia? apa aja QC yang di lakukan agar produsen obat dapat memastikan tentang QA? terimakasih🙂

  45. imamttaufiq says:

    Waaah… MANTAAAP ! Congratulation, Sani !

  46. bee febby yana says:

    a,,,ooo mo tanya dong_____
    bahan yang digunakan untuk kemasan strip atau blister bisa mempengaruhi kandungan zat aktif obat atau tidak,,,????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s