HUBUNGAN UKURAN PARTIKEL DAN PENGAYAKAN


HUBUNGAN UKURAN PARTIKEL DAN PENGAYAKAN

Disusun Oleh:

Resti Mahlifati A.      G1F009012

Hanif Hafiidh S.N.    G1F009013

Pramita Purbandari G1F009014

 

ABSTRAK

Keseragam isi dalam bentuk sediaan padat sangat tergantung kepada ukuran partikel dan distribusi bahan aktif pada seluruh formulasi yang sama. Ada beberapa metode yang tersedia untuk mengevaluasi ukuran partikel yang meliputi pengayakan, mikroskopi, sedimentasi dan stream scanning. Metode pengayakan standar merupakan metode sederhana dalam menentukan ukuran partikel. Pengayakan adalah sebuah cara pengelompokan butiran, yang akan dipisahkan menjadi satu atau beberapa kelompok. Dengan demikian dapat dipisahkan antara partikel halus dan partikel kasar.

Ayakan umumnya digunakan untuk memilih partikel-partikel yang lebih kasar, ayakan-ayakan tersebut bisa digunakan untuk mengayak bahan sampai sehalus 44 mikrometer (ayakan no.325). Beberapa farmakope memuat spesifikasi ayakan dengan lebar lubang ayakan tertentu. Istilah mesh digunakan untuk menyatakan jumlah lubang tiap inchi linear.

Pada proses pengayakan zat padat itu dijatuhkan atau dilemparkan ke permukaan pengayak. Partikel yang di bawah ukuran atau yang kecil (undersize), lulus melewati bukaan ayak, sedang yang di atas ukuran atau yang besar (oversize), tidak lulus. Pengayakan lebih lazim dalam keadaan kering.

Keywords: ukuran partikel, pengayakan, lubang ayakan, nomor ayakan.

Sifat- sifat fisika dan kimia tertentu dari zat obat dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, termasuk laju disolusi obat, bioavailabilitas, keseragaman isi, rasa, teksture, warna dan kestabilan. Tambahan pula, sifat-sifat seperti karakteristik aliran dan laju sedimentasi, juga merupakan faktor-faktor penting yang berhubungan dengan ukuran partikel. Penting sekali untuk memantapkan ukuran partikel dari zat murni yang dapat mempengaruhi formulasi dan efikasi produk. Ukuran partikel terbukti secara bermakna mempengaruhi profil absorpsi obat oral tertentu seperti griseofulvin, nitrofurantion, spironolakton dan prokain penisilin. Keseragam isi dalam bentuk sediaan padat sangat tergantung kepada ukuran partikel dan distribusi bahan aktif pada seluruh formulasi yang sama. Ada beberapa metode yang tersedia untuk mengevaluasi ukuran partikel yang meliputi pengayakan, mikroskopi, sedimentasi dan stream scanning (Ansel, 1989).

Metode paling sederhana dalam menentukan ukuran partikel adalah menggunakan pengayakan standar (Parrot, 1970). Pada metode ini digunakan suatu seri ayakan standar yang dikalibrasi oleh The National Bureau of Standard. Ayakan umumnya digunakan untuk memilih partikel-partikel yang lebih kasar, ayakan-ayakan tersebut bisa digunakan untuk mengayak bahan sampai sehalus 44 mikrometer (ayakan no.325). Menurut metode USP untuk menguji kehalusan serbuk suatu massa sampel tertentu ditaruh suatu ayakan yang cocok dan digoyangkan secara mekanik. Serbuk tersebut digoyang-goyangkan selama waktu tertentu, dan bahan yang melalui satu ayakan ditahan oleh ayakan berikutnya yang lebih halus serta dikumpulkan, kemudian ditimbang. Jika diinginkan analisis yang lebih rinci, ayakan bisa disusun lima berturut-turut mulai dari yang kasar di atas, sampai dengan yang terhalus di bawah. Satu sampel serbuk yang ditimbang teliti ditempatkan pada ayakan paling atas, dan setelah ayakan tersebut digoyangkan untuk satu periode waktu tertentu, serbuk yang tertinggal di atas tiap saringan ditimbang. Kesalahan pengayakan akan timbul dari sejumlah variabel termasuk beban ayakan dan lama serta intensitas penggoyangan (Anonim, 2010).

Sementara itu, pengayakan sendiri adalah sebuah cara pengelompokan butiran, yang akan dipisahkan menjadi satu atau beberapa kelompok. Dengan demikian dapat dipisahkan antara partikel lolos ayakan (butir halus) dan yang tertinggal diayakan (butir kasar). Ukuran butiran tertentu, yang masih bisa melintasi ayakan dinyatakan sebagai butiran batas. Pada pengayakan manual, bahan dipaksa melewati lubang ayakan. Umumnya dengan bantuan bilah kayu atau bilah bahan sintetis atau dengan sikat. Beberapa farmakope memuat spesifikasi ayakan dengan lebar lubang ayakan tertentu. Sekelompok partikel dikatakan memiliki tingkat kehalusan tertentu jika seluruh partikel dapat melintasi lebar lubang yang sesuai (artinya tanpa sisa ayakan). Dengan demikian ada batasan maksimal dari ukuran partikel (Voight, 1971).

Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengayakan, yaitu:

  1. Jenis ayakan
  2. Cara pengayakan
  3. Kecepatan pengayakan
  4. Ukuran ayakan
  5. Waktu pengayakan
  6. Sifat bahan yang akan diayak

Pengayak terbuat dari kawat dengan ukuran lubang tertentu. Istilah mesh digunakan untuk menyatakan jumlah lubang tiap inchi linear (Parrot, 1970).  Tabel 1. mengambarkan Nomor Standar Ayakan dan masing-masing lubang ayakan dinyatakan dalam millimeter dan mikrometer.

Tabel. 1 Lubang dari Ayakan Standar (sumber: USP XXI-NF XVI)

 Salah satu yang harus diperhatikan dalam pengayakan adalah jenis ayakannya. Berdasarkan gerak pengayak, alat ayakan dibagi menjadi 2 jenis, yaitu stationary screen dan dynamic screen. Beberapa alat ayakan dynamic screen yaitu:

1. Vibrating screen, permukaannya horizontal dan miring digerakkan pada frekuensi tinggi (1000-7000 Hz). Satuan kapasitas tinggi, dengan efisiensi pemisahan yang baik, yang digunakan untuk range yang luas dari ukuran partikel.

 

Gambar 1. Ayakan jenis vibrating screen.

2. Occillating screen, dioperasikan pada frekuensi yang lebih rendah dari vibrating screen (100-400 Hz) dengan waktu yang lebih lama, lebih linier dan tajam.

3. Reciprocating screen, dioperasikan dengan gerakan menggoyang, pukulan yang panjang (20-200 Hz). Digunakan untuk pemindahan dengan pemisahan ukuran.


Gambar 2. Ayakan jenis reciprocating screen

4.   Shifting screen, dioperasikan dengan gerakan memutar dalam bidang permukaan ayakan. Gerakan aktual dapat berupa putaran, atau gerakan memutar. Digunakan untuk pengayakan material basah atau kering.

5. Resolving screen, ayakan miring, berotasi pada kecepatan rendah (910-20 rpm). Digunakan untuk pengayakan basah dari material-material yang relatif kasar, tetapi memiliki pemindahan yang kasar dengan vibrating screen

Hasil dari suatu pengayakan adalah produk dengan ukuran-ukuran partikel tertentu. Produk dari proses pengayakan ada 2 macam, yaitu:

  1. Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).
  2. Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize)

Dalam proses industri, biasanya digunakan material yang berukuran tertentu dan seragam. Untuk memperoleh ukuran yang seragam, maka perlu dilakukan pengayakan. Pada proses pengayakan zat padat itu dijatuhkan atau dilemparkan ke permukaan pengayak. Partikel yang di bawah ukuran atau yang kecil (undersize), atau halusan (fines), lulus melewati bukaan ayak, sedang yang di atas ukuran atau yang besar (oversize), atau buntut (tails) tidak lulus. Pengayakan lebih lazim dalam keadaan kering (McCabe, 1999).

Referensi:

Anonim. 1985. USP XXI-NF XVI. Washington D.C.: The United State Pharmacopeia ConventionInc.

Anonim. 2010. Mikromeretik. muhammadcank.file.wordpress.com/2010/02/mikromeretik.doc diakses 21 Mei 2012

Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: Penerbit UI-Press.

McCabe,Warren L,dkk. 1999. Operasi Teknik Kimia. Jilid 2. Edisi  keempat. Diterjemahkan oleh: Ir. E.Jasjfi,M.Sc. Jakarta: Erlangga.

Parrot, L.E. 1970. Pharmaceutical Technologi. Mineapolish: Burgess Publishing Company.

Voight, G.R. 1971. Buku Pelajaran Teknologi Sedian Farmasi Edisi 5. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

This entry was posted in TSF Mahasiswa 2009. Bookmark the permalink.

30 Responses to HUBUNGAN UKURAN PARTIKEL DAN PENGAYAKAN

  1. Resti Mahlifati (G1F009012) says:

    briggita: iya mungkin karena memang temanya hanya seputar itu jadi ya bahasannya juga kurang mendalam. tapi terima kasih usulannya.

    shalma: ini ttg pengayakan dalam pembuatan obat2 di industri farmasi.🙂😀

  2. shaLmaa Nilasari says:

    itu tentang apaan sih ? gak kuat baca deh kalo gituan mas
    mas kmren yg bka fb bukan aku tpi bagus !! fb ku di bajak tuh anak doa’in aku naik kelas ya mas …😀

  3. brigitta putri says:

    maaf mbak dan masnya🙂

    mau tanya, judulnya kan hubungan antara ukuran partikel dan pengayakan, tapi kalo menurut saya, informasi tentang hubungan baru dibahas hanya pada untuk mengetahui ukuran partikel salah satu caranya dengan pengayakan, dan lebih banyak membahas pada pengayakan, jadi kalau boleh usul, diperdalam lagi tentang hubungan antara ukuran partikel dan pengayakan. mungkin boleh juga ditambahkan gambaran secara umum tapi tetap jelas tentang ukuran partikel itu sendiri. karena yang dijadikan judul keduanya, bukan hanya pengayakannya. hehehe. terimakasih, *maaf kepanjangan*😀 good luck

  4. nice artikel.. good luck ..

  5. syita arina faza says:

    Pas liat judulnya, saya pikir, akn sulit dimengerti,krn saya dr sastra, tetapi setelah membaca artikel ini, saya jadi TAU.. Terima kasih..semangat..!!!!

  6. Resti Mahlifati (G1F009012) says:

    Glorya maaf ya baru sempat dijawab,,
    untuk vibrating screen itu ada yg menyebutkan untuk pengayakan kering, namun ada juga yg mengatakan bisa untuk basah, bahkan untuk memisahkan minyak dari partikel lain juga bisa, kemudian occillating dan reciprocating screen, itu kami juga blm tau jelasnya untuk basah atau kering, yg pasti hampir sama kayak vibrating, cuma beda frekuensinya ajah.

    terus, pengayakan basah, jadi pengayakan basah itu yang memang bahannya basah, tp bukan seperti cairan. misalnya pada saat akan membuat tablet dengan metode granulasi basah, pada metode granulasi basah kan setelah pencampuran awal kmudian dibntuk granul2, dan granul2 trsbt yg msh basah diayak. baru dikeringkan, kemudian diayak lagi. nah, pengayakan yg pertama itu disebut pengayakan basah.

  7. Resti Mahlifati (G1F009012) says:

    menjawab pertanyaan sita:
    untuk ukuran nano pengayakannya seperti apa kami blm terlalu banyak tau, cuman dari beberapa artikel yg kami baca ada yg namanya nanosizer, yg prinsipnya mirip dengan laser analyzer. alat ini tuh bisa untuk mengidentifikasi ukuran partikel dan menyeragamkan ukurannya, mengukur diametek partikel juga menentukan jumlah partikel dengan ukuran tertentu dlm suatu campuran. nah, kan end point dr pengayakan itu keseragaman ukuran. jadi karena alat tsb juga mengidentifikasi ukrn partkel dan menyeragamkannya, mungkin alat tersebut bs digunakan untuk pengayakan nanopartikel.🙂

  8. sita aje says:

    mau nanya..ukuran partikel yg lebih kecil sperti nano, itu pengayakannya sprti apa yah?mksih

  9. pramita purbandari (G1F009014) says:

    untuk pertanyaan dari bunga

    menurut kami untuk standarisasi dari pengayakan itu sendiri dapat kita lihat dari derajat halus serbuk dan no ayakan misalnya untuk serbuk yg sangat kasar dan kasar menggunakan ayakan no.60, untuk serbuk setengah kasar menggunakan ayakan no.80, untuk serbuk yg halus dpt menggunkan ayakan no.100 untuk lebih jelasnya mengenai derajat halus serbuk dan no ayakan dapat dilihat di faramakope IV
    sedangkan untuk menjaga stabilitas dari proses pengayakan dapat dilihat dari beberapa hal yg perlu diperhatikan dalam pengayakan seperti yg telah disebutkan didalam artikel diatas. salah satunya adalah sifat kimia dari bahan tersebut misalnya bahan tsb tahan terhadap suhu ruangan atau tidak, apabila tidak maka pengayakan dpt dilakukan diruangan dengan suhu khusus untuk menjaga proses pengayakan tetap stabil

  10. shofazizah says:

    artikelnya informatif ^_^ good job ^^ ^^

  11. Ivan Budi Adi says:

    baguuus.,.,., (y)😀

  12. Glorya Stevany G1F010078
    mau tanya nih kk2..🙂
    tentang alat ayakan dynamic screen .. Shifting screen n Resolving screen diketahui kegunaanya untuk pengayakan basah dan atau kering.. kalau 3 yang lainnya digunakan untuk pengayakan apa y ?🙂 .. kemudian yang dimaksud dengan pengayakan basah itu seperti apa , apakah seperti sediaan yang telah dibasahi terlebihdahulu baru diayak atau seperti sediaan cair (cth : suspensi,mixtura) apakah seperti itu? mohon penjelasannya:) terimakasih..

  13. Bunga Wongsodidjojo says:

    artikelnya bagus tetapi blm secara kompleks dalam penjabarannya dan cuma minta sekedar penjelasan aja, sebenarnya standarisasi dari pengayakan itu sendiri seperti apa dan untuk menjaga stabilitas dari proses pengayakan itu bagaimana… makasih

  14. jianjulian says:

    untuk paramita, usul nih buat blog pembahasan nya… klo bisa pembahasan ny diterangkan dari awal.. soal ny gx smw pembaca langsung mengerti topik ny……… trus untuk tampilan blog ny sudah cukup menarik tapi klo bisa buat lbh menarik lagi biar yg liat jg gx gampang jenuh… masukin musik ato sejenis ny buat hiburan ato link ke e-book dll…
    hahahahaa bnyk bgt ya……
    ok itu aja…. GOOD LUCK…….

  15. Resti Mahlifati (G1F009012) says:

    deli, makasih sarannya, sedang kami usahakan. ^^

  16. Resti Mahlifati (G1F009012) says:

    untuk mba nauli,
    PEG nya kan bentuk kristal jarum dan ingin dihomogenkan ukurannya dengan bahan yang lain, PEG tersebut untuk bisa homogen ukuran partikelnya dengan yg lain harus diayak dengan ayakan mesh 40, begitu kan mba? kalau menurut kami, digerus dulu. soalnya kalau gak digerus dulu bagaimana bisa PEG tersebut melewati lubang ayakannya. contohnya aja kayak obat serbuk kasar, terutama simplisia nabati, itu digerus dulu sampai derajat halus tertentu. nah, terus kalau pengaruh digerus dulu sebelum diayak terhadap tabletnya kami belum tahu. mungkin nanti menyusul.. hehehe..

  17. pramita says:

    untuk pertanyaan titah

    memang umumnya pengayakan dilakukan dalam keadaan kering terutama untuk material yg kasar sedangkan untuk pengayakan dalam keadaan kurang kering atau basah bisa dilakukan dengan ayakan mulai ukuran 20 sampai ukuran 35 mesh dan biasanya dilakukan pada material yang halus

    pramita purbandari (G1F009014)

  18. deli says:

    artikelnya bagus,..^_^”
    sekedar saran,..alangkah lebih baiknya kalau artikel yang teman2 buat dilengkapi dengan data2 yang hasil penelitian,.. mau data primer atau sekunder,..^_^”

  19. Titah Nindya Putri (G1F009058) says:

    nif, re, mit.. mau tanya..
    biasanya pengayakan itu kan dilakukan dalam keadaan kering seperti yg telah disebutkan dlm artikel ini, lalu apakah ada pengayakan yg dilakukan dalam keadaan kurang kering? jika ada, tolong berikan contohnya.
    makasih😉

  20. nauli marsha says:

    Halooo, Hanif, Resti & MItaa..😉

    Nice article, kebetulan beberapa hari ini lagi deket sm yang namanya ngayak-ngayak &ukuran partikel, hihii. Mau nanya boleh yaa..
    Pertanyaan ini saya lontarkan juga ke temen-temen yang artikelnya bertema pengayakan, jadi gini, misal ada salah satu bagian dari formula tablet yaitu Polietilenglikol (PEG) 6000, dimana bentuknya merupakan serbuk kristal jarum. Nah, sedangkan ukuran partikelnya–untuk bisa homogen dengan bahan lain yang akan dijadikan tablet–mau kita kendalikan dengan ayakan mesh 40 yg notabene ukuran lubang pengayaknya lumayan–kecil. Terus apa yang harus dilakukan? Diperbolehkan ga, menggerus bahan tsb dahulu sebelum di ayak? Berpengaruh nantinya-kah tehadap formulasi tablet yang akan kita buat?

    Terimakasih atas pencerahannya🙂

  21. natan says:

    sippp,,terus kembangin,,,

  22. oke terimaksih commentnya haryo,zaol dan rafly,,kalau ada yang perlu ditambhakan kami siap menerima kritik dan saran,,

  23. revi,,iya betul tujuan dari pengayakan itu selain yang disebutkan saudari resti diatas,juga untuk menghomogenkan zat yang ingin kita buat sediian atau zat yng ingin diteliti,,end point dari pengayakan sih mengseragamkan ukuran,,

  24. raflywijayant says:

    Keren… Cuma masukan aja nih hahaha tambhin animasi apa kek mba biar ga jenuh kbnyakan tulisan…. Smoga sukses😀

  25. zaoldyeck says:

    bgus artikelnya, terus berkarya ia…hho

  26. artikelnya bagus, jadi banyak menambah wawasan. (y)

  27. Resti Mahlifati (G1F009012) says:

    revitha: jadi begini, pengayakan itu kan prinsipnya pemisahan suatu bahan (kalau disini berarti bahan2 obat) yang berdasarkan pada ukuran relatif antara ukuran partikel sama lubang ayakannya. dimana nantinya bahan tersebut yang ukurannya lebih kecil dari lubang ayakan yg digunakan akan lolos, sementara yag lebih besar akan tertahan. jadi, fungsi pengayakan disini itu untuk memisahkan bahan sesuai dengan ukuran yang diinginkan, sehingga nantinya juga dapat dihasilkan bahan dengan ukuran partikel yang seragam.

  28. Resti Mahlifati (G1F009012) says:

    terima kasih Tri Fatma sarannya, tp, disini memang klmpk kami sengaja lebih cenderung mengulas pengayakan yang mekanik, soalnya kalau yang manual kan sepertinya sudah biasa gitu. ehheehe. ^^

  29. revitha says:

    bisa dijelaskan apa fungsi pengayakan?

  30. tri fatmawati (G1F009052) says:

    artikelnya udah bagus, cuma teknik pengayakan yang manual kurang di tonjolkan,, mungkin akan lebih lengkap klo dijelaskan seperti yang mekanik…. #aq juga pengayakan hehehe
    SEMANGATTTT…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s