Next Post


Disusun oleh :

                                            Shandy Nugraha                    (G1F008087)

                                            Yudha Fahmi Aryunadi      (G1F008036)

                                            Agung Fitrianto                      (G1F009064)

Jurusan Farmasi FKIK Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Jln. Dr. Soeparno Karangwangkal, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.

ABSTRAK

Penggerusan adalah tahap akhir dari proses kominusi (pengecilan ukuran); dalam tahap ini partikel direduksi ukurannya dengan kombinasi dari impact dan abrasion, baik kering atau basah. Grinding adalah proses pengurangan ukuran partikel bahan dari bentuk kasar menjadi ukuran yang lebih halus untuk menyempurnakan proses mixing yaitu hasil pencampuran yang merata dan menghindari segregasi partikel-partikel bahan.

Proses penggerusan merupakan dasar opresional penting dalam teknologi farmasi. Proses ini melibatkan perusakan dan penghalusan materi dengan konsekuensi meningkatnya luas permukaan. Ukuran partikel atau ukuran butiran dapat menentukan tingkat homogenitas zat aktif dan tingkat kerja optimal (Kurniawan, 2009). Penggerusan dilakukan agar bahan lebih menjadi homogeny dan mempunyai ukuran partikel yang sama.

Keyword : Penggerusan,alat,tipe,teknik.

Penggerusan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok sesuai dengan tingkat kehalusan yang dicapai, yaitu mesin penggerus butir kasar, butir sedang dan butir halus. Sifat zat padat menentukan kemampuannya untuk melawan pengecilan ukuran dan mempengaruhi pemilihan penggerus (Kurniawan, 2009).

Proses pemecahan/penggilingan ada 4 cara yaitu

1. Potongan ( cutting ), bahan olahan di grinding dengan menggunakan benda tajam.

2. Pukulan ( impact ), bahan olahan di grinding dengan menggunakan benda tumpul.

3. Tekanan ( compression ), bahan olahan di grinding dgn di tekan arah tegak lurus dr landasan.

4. Gesekan ( attrition ), bahan olahan di grinding dgn di gesek arah sejajar dr landasan.

Jika dituntut suatu proses penghalusan yang berlangsung lama, maka pertama-tama dilakukan penggerusan kasar, kemudian dilanjutkan dengan suatu cara penggerusan lainnya, yang memungkinkan diperolehnya ukuran partikel terkecil (Kurniawan, 2009).

Sifat fisik alamiah dari bahan menentukan proses penghalusan. Bahan berserat (glisirhiza, rauwolfia) tidak dapat digerus dengan tekanan atau tumbukan; mereka harus diiris. Bahan-bahan rapuh (tanah liat yang disaring dan dikeringkan, sukrosa) cenderung pecah sepanjang permukaan bidang yang telah dihaluskan dan dapat digerus dengan proses penggerusan, tumbukan dan tekanan. Adanya air lebih dari 5% menghalangi penggerusan, dan sering menyebabkan massa lengket pada penggerusan. Efek ini lebih nyata pada bahan yang halus daripada partikel yang lebih besar. Pada konsentrasi air lebih dari 50%, massa menjadi cair atau suspensi cairan. Proses menjadi penggerusan basah yang sering memudahkan pengecilan ukuran. Kenaikan kelembaban dapat mengurangi laju penggerusan ke suatu ukuran produk yang lebih spesifik (Lachman, 1989).

Jenis peralatan penghalus yang akan dipilih sesuai dengan tujuan yang dikehendaki tergantung dari material dan sifat-sifat fisikanya (kekerasan, elastisitas, kelengketan, dan sebagainya), ukuran partikel awal bahan yang digerus, dan ukuran partikel akhir produk yang diinginkan (Kurniawan, 2009).

Umumnya bahan-bahan yang digunakan di bidang farmasi dapat diperkecil menjadi partikel kurang dari 40 mesh dengan penggerus-penggerus bola, penggiling, palu energi cairan. Pemilihan penggerus didasarkan pada : (1) spesifikasi produk (kisaran ukuran, distribusi ukuran partikel, bentuk, kelembaban, sifat-sifat fisika kimia bahan); (2) kapasitas penggerus dan laju produksi yang diminta; (3) versatilitas penggoperasian (penggerus basah atau kering, perubahan kecepatan cepat dan pengayakan, hal-hal mengenai keselamatan); (4) pengontrolan debu (hilangnya bahan-bahan yang mahal, pencampuran adukan, kontaminasi penggerusan); (5) sanitasi (mudahnya pembersihan, sterilisasi); (6) alat-alat tambahan (sistem pendingin, pengumpulan debu, pengatur pengisian, peringkasan); (7) sekali atau terus-menerus; dan (8) faktor-faktor ekonomi (biaya, konsumsi tenaga, ruang yang digunakan, upah kerja) (Lachman, 1989).

Karakteristik bahan menentukan efisiensi grinding. Bahan dengan kadar air tinggi akan mempersulit grinding karena bahan cenderung lengket dan sulit keluar dari lubang saringan. Bahan kering cenderung cepat keluar dari ruang grinding tetapi menimbulkan lebih banyak debu. Benturan pisau hammermill dengan partikel bahan akan menimbulkan panas terlebih apabila partikel bahan tidak cepat keluar dan cenderung berputar-putar dalam ruang grinding. Oleh karena itu hammer mill telah diperlengkapi dengan alat bantu penyedot debu sehingga partikel bahan cepat keluar dari ruang grinding

Alat grinding atau grinder dalam proses pemecahan/penggilingan bisa dilakukan lebih dari satu cara.

Berdasarkan bahan olahan, grinding di bagi menjadi 3 golongan yaitu :

Pemecah palu

Cara kerja pemecah palu ini berdasarkan pukulan. Tangkai palu-palu ini ditempatkan berengsel pada leher poros. Bila poros itu berputar maka palu-palu akan membanting dan letaknya hampir tegak lurus terhadap sumbu (akibat gaya sentrifugal dari poros). Palu-palu akan memukul bahan giling yang ditahan oleh pelat-pelat pemecah. Bahan giling akan dipukul berkali-kali sampai menjadi kecil.dibagian bawah pemecah ditempatkan kisi-kisi yang merupakan ayakan dan bahan giling yang sudah kecil akan jatuh melalui kisi-kisi tersebut. Kemungkinan bahwa kisi-kisi tersumbat. Untuk mencegahnya pada waktu mesin sedang tidak menggiling (berhenti) pelat pemecaha dapat dibuka kemudian kisi dapat dibersihkan.

Kebaikan alat pemecah ini ialah ukuran butir hasil gilingannya rata. Pesawat semacam ini banyak dipakai untuk memecah arang batu, rumah tiram, pupuk buatan dan sebagainya.

Gambar Pemecah Palu

Gambar Ball Mill

Penggiling Peluru

Penggiling peluru terdiri dari sebuah tromol yang pada bagian dalamnya diisi peluru-peluru yang dibuat dari baja atau batu. Peluru-peluru itu berada diatas tembereng-tembereng yang disusun pada keliling dagian dalam teromol. Tembereng-tembereng ini mempunyai lubang-lubang sedangkan diluar dari keliling tembereng ini dipasang pula sebuah teromol yang merupakan ayakan.

Cara kerja dari penggiling peluru ini adalah sebagai berikut. Bila teromol penggiling berputar, tembereng-tembereng dan ayakannya akan ikut berputar bersama-sama menurut sumbu mendatar. Bahan giling dimasukkan dari bagian atas sehingga bercampur dengan peluru-peluru. Bahan giling yang sudah halus akan keluar dari lubang yang pengeluaran setelah melewati tembereng-tembereng dan ayakan yang berbentuk teromol.

Bentuk hasil giling dari penggiling peluru ini tidak pernah bersudut tapi berbentuk bola, yang kadang-kadang sangat penting bagi suatu industri. Penggilingan peluru ini dapat berjalan terus-menerus.

Pada mesin sedang bekerja, peluru-peluru ini tidak boleh jatuh diatas ayakan, karena dapat mengakibatkan ayakan menjadi cepat rusak.

Kadang-kadang pengeluaran hasil giling yang sudah halus pada mesin ini bersama-sama dengan air yang diisikan kedalam teromol penggiling. Pengerjaan secara demikian ini disebut penggilingan basah.

Sebuah peluru penggiling yang teromolnya sangat panjang (kalau dibandingkan dengan garis tengahnya) disebut pipa penggiling.

Karena bahan giling yang dimasukkan atau dikerjakan dalam sebuah pipa penggiling harus menjalani seluruh panjang dari teromol itu, maka hasil giling akan sangat halus karena lebih lam menjalani proses penggilingan bila dibandingkan dengan hasil dari penggiling peluru biasa (yang teromolnya lebih pendek). Sebuah pipa penggiling dapat dipakai untuk penggilingan kering ataupun penggilingan basah.

DAFTAR PUSTAKA

Kurniawan, D.W. , T.N. Saifullah, 2009, Teknologi Sediaan Farmasi, Graha Ilmu, Yogyakarta, pp. 27-33.

Lachman, L., dkk, 1989, Teori dan Praktek Farmasi Industri, UI Press, Jakarta, pp. 92-95.

Voigt, R., 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, pp.149-151,157.

This entry was posted in TSF Mahasiswa 2010 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s