MATERIAL PADA KEMASAN FLEKSIBEL PRODUK FARMASI


MATERIAL PADA KEMASAN FLEKSIBEL PRODUK FARMASI

Disusun oleh:

Titah Nindya Putri                  (G1F009058)

Nadhifa Jafar Ali                     (G1F009060)

Agustina Nur Fitriani              (G1F009061)

Jurusan Farmasi FKIK Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Jln. Dr. Soeparno Karangwangkal, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.

ABSTRAK

Kemasan fleksibel adalah suatu bentuk kemasan yang bersifat fleksibel yang dibentuk dari aluminium foil, film plastik, selopan, film plastik berlapis logam aluminium (metalized film) dan kertas dibuat satu lapis atau lebih dengan atau tanpa bahan thermoplastic maupun bahan perekat lainnya sebagai pengikat ataupun pelapis konstruksi kemasan dapat berbentuk lembaran, kantong, sachet maupun bentuk lainnya.

Biasanya bahan yang digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan kemas flexible adalah antara lain film plastic, selopan, aluminium foil dan kertas. Untuk memenuhi fungsinya dengan baik film plastik dan aluminium foil dan kertas dalam berbagai kombinasi dibentuk sebagai multi layer dan diextrusion dengan resin plastik, polyethilen, polypropylene, eva, dan lain sebagainya, sehingga menjadi satu kesatuan ataupun dilaminasi dengan adhesive tertentu. Kombinasi dari berbagai material tersebut, akan memberikan kemasan yang lebih sempurna dari prosuk tersebut. Dapat disimpulkan bahwa bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Bahan Utama : film, selopan, aluminium foil, film, plastic, kertas dan sebagainya.

Bahan Pengikat : perekat/adhesive dan extrusion dari bahan Thermoplastic

Bahan Penolong : antara lain tinta dan solven

Kata kunci: material kemasan; bahan kemasan; bahan pembuat kemasan

Bahan kemasan yang digunakan di dunia sangat beragam. Tetapi pada dasarnya bahan kemasan terbagi menjadi bahan pembungkus baik tingkat dasar, tambahan, maupun kemasan pengiriman dan label kemasan. Label kemasan termasuk di dalamnya yaitu label yang dicetak langsung pada kemasan maupun label yang dicetak terpisah dan kemudian dilekatkan pada kemasan. Berikut beberapa bahan yang umum dan digunakan untuk memperoleh kemasan produk farmasi yang fleksibel:

A. Bahan Utama

1. Kertas atau kardus

Bahan baku kertas cukup banyak digunakan dalam kemasan fleksibel dan merupakan salah satu material essensial. Untuk masa mendatang, demi untuk orientasi akrab lingkungan, maka pemakaian kertas di bidang kemas fleksibel akan meningkat. Ada berbagai macam jenis kertas yang dikenal dengan sifat tertentu dan dengan aplikasi tertentu. Kertas dapat diklasifikasi secara luas menjadi dua macam, yaitu

  • Cultural paper : antara lain printing paper, litho paper, artpaper dan lain-lain.
  • Industrial paper : antara lain kraft paper, manila paper, glassine paper.

Kardus bisa menjadi kemasan fungsional, murah, dan dapat didaur ulang. Sifat fungsional kardus memungkinkan kreativitas struktural dan bahan karton lipat sederhana bisa menjadi solusi yang baik karena permukaannya yang luas dan datar yang dapat berfungsi sebagai tempat untuk membangun billboarding bagi identitas merek.

Kardus atau paperboard adalah istilah umum dalam industri kertas untuk lembaran yang terbuat dari serat kayu murni atau kertas daur ulang. Kardus dibedakan dibedakan dari kertas berdasarkan ketebalannya. Material yang ketebalannya kurang dari 0,010 inci disebut kertas; sementara semua yang lebih tebal dari 0,010 inci disebut kardus. Umumnya kardus dibuat dalam ukuran ketebalan antara 0,010 dan 0,040 inci. Berat atau ketebalan kardus adalah spesifik untuk ukuran dan fungsi kebutuhan penampungan produk. Ukuran dan berat produk menentukan struktur dan kekuatan kardus. Desain struktural juga tergantung pada tujuan pemasaran tentang bagaimana menampilkan merek dan produk. Secara umum, kardus dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. SBS (Solid Bleached Sulfate)

SBS dibuat dengan kandungan utama berupa serat murni yang diputihkan. Kardus ini adalah yang paling mahal, biasanya dilapisi dengan tanah liat agar permukaan cetak premium putih solid dan terutama digunakan untuk mengemas makanan, produk susu, kosmetik, obat-obatan, dan produk farmasi.

b. SUS (Solid Unbleached Sulfate)

SUS dibuat dengan kandungan utama berupa serat murni yang tidak diputihkan. Kardus kraft alami ini tersedia dalam bentuk permukaan yang dilapisi dan tanpa dilapisi. Kekuatan material ini membuat SUS menjadi pilihan umum bagi kemasan minuman, produk hardware, dan perlengkapan kantor.

c. Daur ulang (recycled)

Kardus daur ulang adalah material multilapis yang 100 persen terbuat dari kertas dan kardus daur ulang, dan tersedia dalam lembaran yang sudah dilapisi dan tanpa dilapisi. Kardus tanpa dilapisi digunakan untuk tabung komposit (silinder dengan gulungan spiral) dan drum serat. Kardus berlapis digunakan untuk kemasan makanan kering termasuk biscuit, dan kue serta barang peralatan rumah tangga lainnya, misalnya produk-produk kertas dan deterjen bubuk.

d. Plain chipboard (Shirtboard)

Shirtboard terbuat dari kertas limbah dan biasanya berwarna abu-abu. Kertas ini digunakan untuk kotak jadi (biasanya struktur kaku yang ditutup kertas dekoratif atau material lain yang biasa digunakan untuk hadiah seperti parfum dan barang pecah belah). Material ini juga digunakan untuk karton lipat lainnya, karton latar pada kemasan blister, kemasan kelas bawah (murah), dan untuk struktur bagian dalam kemasan yang tidak terlihat di rak. Biasanya plain chipboard tidak cocok untuk dicetak langsung.rease-proof paper dan lain-lain.

Selain itu, banyak juga bahan kertas yang digunakan untuk kemas fleksibel adalah glassine dan grease proof paper. Penampilan dan sifat yang khusus dari kertas ini, bukan karena penambahan aditif, tetapi karena sifat dari pulp yang dipakai.

2. Aluminium foil

Foil merupakan bahan tak berbau, tak ada rasa, tak berbahaya dan hygienis, tak mudah membuat pertumbuhan bakteri dan jamur. Karena harganya yang cukup mahal, maka aplikasi dari aluminium foil sekarang ini banyak disaingi oleh metalized aluminium film. Coating yang sangat tipis dari aluminium, yang dilaksanakan di ruang vacuum, hasilnya adalah suatu produk yang ekonomis dan kadang-kadang fungsinya dapat menyaingi aluminium foil, dalam aplikasi kemas fleksibel dan memiliki proteksi yang cukup baik terhadap cahaya, moisture dan oksigen.

Aluminium foil menempati posisi yang penting dalam produk kemas fleksibel karena memiliki barriers yang memuaskan dan penampilan yang baik. Foil yang biasa digunakan dengan ketebalan antara 6 mikron sampai dengan 150 mikron baik soft temper maupun hard temper. Soft maupun hard temper, tergantung dari komposisi dari alloy dan treatment terhadap foil tersebut.

Umumnya untuk kepentingan kemas fleksibel foil yang digunakan tebalnya kurang dari 25 mikron. Namun demikian, untuk keperluan tertentu dengan contoh yang lebih tebal aluminium foil yang soft temper akan mudah membentuk dead-fold, dan tidak mudah kembali, dan bisa dibentuk menurut keinginan.

3. Film

Sifat tertentu dari film seperti keuletannya dapat diperoleh memakai orientasi dan stretching. Film banyak digunakan, karena sifat barrier dan daya tahan terhadap bahan kimia. Moisture atau transimisi gas permeability adalah sifat yang utama yang menjadi pertimbangan dalam aplikasi packaging. Dalam aplikasi tertentu daya tahan minyak dan gemuk juga diperlukan beberapa produk terutama food, membutuhkan pengendalian transimisi dari gas oksigen dan karbondioksida. Daya tahan terhadap perembesan uap air dan permeable gas dari suatu film dapat dikurangi dengan meningkatkan ketebalan film tersebut, atau dengan cara coating dengan bahan lain, atau dilaminasi dengan film lain atau foil.

4. Plastik

Terdapat banyak variasi plastik yang menawarkan kualitas dan property yang berbeda-beda yang melayani serangkaian kebutuhan penyimpanan. Variasi plastik tersebut bisa kaku atau fleksibel, bening, putih atau berwarna, transparan ataupun opaq dan dapat dicetak ke dalam berbagai ukuran yang berbeda-beda. Jenis plastik yang paling umum digunakan sebagai kemasan adalah sebagai berikut:

a. Low-density polyethylene (LDPE)

LDPE digunakan untuk container makanan, dalam bentuk film pembungkus yang disusutkan maupun diregangkan.

b. High density polyethylene (HDPE)

HDPE dengan bentuk yang kaku dan opaq digunakan pada produk susu, deterjen, cairan pembersih rumah tangga, produk perawatan pribadi, dan botol kosmetika.

c. Poly ethylene terepthalate (PET)

PET terlihat bening seperti kaca dan digunakan untuk produk air dan minuman berkarbonasi; makanan seperti mustard, selai, minyak, sirup; pembungkus untuk makanan dan produk kesehatan.

d. Polypropylene

Polypropylene digunakan untuk botol, tutup botol, dan pembungkus yang tahan kelembaban.

e. Polystyrene (PS)

PS diproduksi dalam berbagai bentuk. Kristal polystyrene digunakan untuk membuat botol-botol pil. Dengan pengaplikasian panas dan tekanan, Polystyrene tahan banting digunakan untuk membuat kemasan untuk produk susu.

Jenis lain struktur kemasan plastik adalah kemasan blister. Struktur ini dibentuk dalam suhu dan tekanan tinggi dan ditempatkan di depan produk, sehingga memungkinkan produk tersebut untuk terlihat melalui plastik yang transparan. Blister sering dilekatkan ke kardus di bagian belakang dan dicetak dengan desain grafis kemasan. Pada umumnya struktur blister dilubangi agar dapat digantung pada pajangan ritel seperti pada kemasan kosmetik produksi masa, dan produk perawatan pribadi.

5. Selofan

Selofan adalah cellulose film yang dibuat dari pulp. Alkali cellulose direaksikan dengan carbon disulfide dan dilarutkan dalam caustic soda untuk mendapatkan viscose, dan kemudian melalui beberapa proses didapatkan selofan film. Film bisa digunakan dalam bentuk plastik ataupun dicoated dengan berbagai macam bahan untuk mendapatkan beberapa sifat yang diperoleh untuk aplikasi tertentu. Selofan bisa melangsungkan sinar UV, oleh sebab itu untuk UV sensitive produk, menggunakan selofan yang berwarna. Selofan mempunyai sealing range yang lebar.

B. Bahan Pengikat

Extrusion dari bahan thermoplastic

Extrusion adalah suatu teknik pemrosesan untuk mengubah material termoplastik bentuk bubuk atau butiran menjadi lelehan (continuous uniform melt), dan mendorong lelehan tersebut melalui shaping die yang terletak di ujung akhir mesin.

Termoplastik tidak mengalami perubahan dalam susunan kimia sewaktu dicetak dan tidak akan menjadi keras meskipun ditekan dan dipanaskan. Jenis plastik ini tetap lunak pada suhu tinggi dan baru mengeras ketika didinginkan. Selain itu termoplastik dapat dicairkan kembali berulang-ulang dengan pemanasan. Bahan ini dibentuk dengan cara pencetakan injeksi, tiup, ekstruksi, pembentukan termal dan penggilingan.

Polimer termoplastik adalah polimer yang mempunyai sifat tidak tahan terhadap panas. Jika polimer jenis ini dipanaskan, maka akan menjadi lunak dan didinginkan akan mengeras. Proses tersebut dapat terjadi berulang kali, sehingga dapat dibentuk ulang dalam berbagai bentuk melalui  cetakan yang berbeda untuk mendapatkan produk polimer yang baru.

Polimer yang termasuk polimer termoplastik adalah jenis polimer plastik. Jenis plastik ini tidak memiliki ikatan silang antar rantai polimernya, melainkan dengan struktur molekul linear atau bercabang. Bentuk struktur termoplastik sebagai berikut.

struktur molekul termoplastik linear

 

struktur molekul termoplastik bercabang

Karakteristik dari termoplastik antara lain:

–       mampu dicetak dengan penyuntikan, penekanan dan ekstruksi

–       berat jenis rendah sehingga didapat produk yang ringan dan kuat

–       isolator listrik yang baik

–       tahan terhadap air dan zat kimia

–       kurang tahan terhadap panas

–       kekerasan permukaan berkurang dan mudah terbakar

–       jika dipanaskan akan melunak.

–       jika didinginkan akan mengeras.

–       mudah untuk diregangkan.

–       fleksibel.

–       titik leleh rendah.

–       dapat dibentuk ulang (daur ulang).

–       mudah larut dalam pelarut yang sesuai.

–       memiliki struktur molekul linear/bercabang.

Contoh polimer termoplastik yaitu antara lain:

–       Polietilena (PE) = Botol plastic

–       Polivinilklorida (PVC) = botol detergen.

–      Polipropena (PP) = botol minuman, serat, insulator, kursi plastik, alat-alat rumah sakit.

–       Polistirena = Insulator

C. Bahan Penolong

  • Tinta

Untuk memenuhi dan membantu dalam pengadaan tinta cetak yang sesuai dengan kebutuhan suatu kemasan maka dalam membuat tinta cetak selalu menyesuaikan dengan faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Disesuaikan dengan mesin cetak yang dipakai.
  2. Disesuaikan dengan bahan kemasan yang dipakai.
  3. Disesuaikan dengan perlakuan hasil jadi kemasan.
  4. Disesuaikan dengan keperluan khusus yang diperlukan.

Selain itu juga perlu memperhatikan masalah ekologi yaitu dengan membuat tinta yang ramah lingkungan. Seperti kita ketahui bersama bahwa di negara-negara maju seperti Eropa, Amerika dan Jepang peraturan untuk ramah lingkungan sudah diberlakukan. Seperti peraturan untuk tidak memakai tinta cetak yang memakai pewarna yang terbuat dari logam berat seperti Chrome, Plimbum, dll. Misalnya, UV INK type yang dengan terkena sinar UV maka tinta cetak akan mongering 100% pada kemasan

  • Solvent

Pemakaian solvent sedikit mungkin agar uap solvent dapat ditekan untuk mengurangi polusi udara.

KESIMPULAN

Material-material untuk membuat suatu kemasan fleksibel ada berbagai macam jenis, seperti kertas atau kardus, plastik, alumunium foil, film, dan selofan. Penggunaan dari material-material tersebut tergantung dari karakteristik produk farmasi yang akan dikemas sehingga produk yang dihasilkan terjamin keamanannya sampai kepada konsumen.

DAFTAR PUSTAKA

Alma. 2004. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Alfa Beta: Bandung

Anonim. 2007. Pelatihan Kemasan. http://www.google.co.id/url?sa=t&rct =j&q=bahan+pengikat+untuk+kemasan&source=web&cd=1&ved=0CEoQFjAA&url=http%3A%2F%2Fwww.kemenperin.go.id%2Fdownload%2F141%2FPelatihanKemasanFlexible&ei=Ifa5T8SvLZHprQeC0NHoBw&usg=AFQjCNH7rVWM1ftZGe5opmHnjItqwht67A

                 Diakses tanggal 21 Mei 2012.

Kotler, Philip. 1990. Manajemen Pemasaran : Analisa, Perancangan, dan Pengendalian. Erlangga: Jakarta

Kurniawan, W. K., & Teuku Nanda S. S. 2012. Teknologi Sediaan Farmasi. Purwokerto: Laboratorium Farmasetika Unsoed

Voight,R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

This entry was posted in TSF Mahasiswa 2009 and tagged , . Bookmark the permalink.

56 Responses to MATERIAL PADA KEMASAN FLEKSIBEL PRODUK FARMASI

  1. Titah Nindya Putri (G1F009058) says:

    untuk Pak Sarman:
    terima kasih atas saran2 nya yg membangun dan memotivasi kami utk dapat mengembangkan artikel2 yg lebih baik lagi ke depannya..😀

  2. Titah Nindya Putri (G1F009058) says:

    untuk Warda:
    terima kasih atas saran nya, semoga ke depannya kami dapat mengembangkan artikel2 yg lebih baik lg😀

    setiap material2 tsb tentunya memiliki positif-negatif tersendiri dlm penggunaannya.. secara umum, hal positif dalam penggunaan material2 tsb yaitu untuk membuat suatu kemasan yg mna dimaksudkan utk melindungi suatu produk tertentu agar tdk terkontaminasi dgn udara/lingkungan luar sehingga kestabilan dan keamanannya lebih trjamin.. sedangkan untuk negatifnya yaitu, penggunaan material2 tsb dpt mengakibatkan pencemaran lingkungan dmn limbah sisa2 dr penggunaan material tsb dibuang sembarangan. maka untuk meminimalisir dampak negatif tsb, diperlukan penanganan khusus untuk mengelola limbah sisa dr penggunaan material2 tsb.. misalnya dengan mendaur ulang bahan2 tsb dan menyediakan tempat pembuangan khusus bahan2 yg dpt didaur ulang.

  3. Nadhifa Jafar Ali G1F009060 says:

    Terimakasih Tania atas masukannya , semoga kami bisa berkembang menjadi lebih baik lagi🙂

  4. Nadhifa Jafar Ali G1F009060 says:

    menjawab pertanyaan hermawati
    menurut sepengetahuan kami hampir semua material kemasan dapat di daur ulang dan bisa digunakan kembali oleh kita. Seperti plastik dapat di daur ulang menjadi biji plastik yang kemudian dapat di olah kembali menjadi kemasan atau mungkin wadah tetapi kualitasnya menurun karena terjadi beberapa proses seperti pemanasan, oksidasi atau kondisi lingkungan pada saat pemakaian awal. proses daur ulang dapat menggunakan mesin untuk menghancurkan plastiknya , menjadi bijih plastik kemudian di olah kembali.
    Semoga jawabannya cukup memuaskan. Terimakasih🙂

  5. Agustina Nur Fitriani (G1F009061) says:

    jawaban untuk pertanyaan dari Deanisa Hanna
    bahan utama memiliki kekurangannya masing-masing,
    kertas/kerdus mudah basah dan sobek, tidak tahan minyak, biasanya hanya untuk kemasan sekunder;
    alumunium foil akan mudah rusak jika terkena sinar matahari, serta mudah robek;
    plastik mudah rusak pada suhu tinggi, mudah robek juga;
    film dan selofan harganya lebih mahal dari bahan kemasan lain.

    menurut saya kemasan yang paling fleksibel digunakan yaitu plastik, dilihat dari paling banyak digunakan dalam pengemasan pada umumnya, serta lebih familiar oleh masyarakat
    namun pada dasarnya pengemasan disesuaikan dengan apa yang akan dikemas agar hasil pengemasan baik dan sesuai standar

  6. Tania says:

    penjelasan masing-masing bahan gunanya untuk apa saja masih kurang detail,, jadi masih sulit dimengerti untuk orang awam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s