PLASTIC AS A PACKAGING MATERIAL FOR PHARMACEUTICAL PRODUCT


PLASTIC AS A PACKAGING MATERIAL FOR PHARMACEUTICAL PRODUCT

Disusun Oleh :

Alifa Rahmawati M                G1F010015

Tika Pratiwi                             G1F010019

Lutfi Nuridriyanti                   G1F010021

Abstract

          Pengemasan merupakan suatu metode yang memberikan kenyamanan, identifikasi, penyajian, dan perlindungan terhadap suatu sediaan obat sampai dikonsumsi. Plastik sebagai suatu material kemasan untuk produk farmasi saat ini sudah banyak digunakan secara luas. Pengemas plastik yang digunakan untuk produk farmasetis dibuat dari polimer-polimer polietilen, polipropilen, polivinil klorida, polisterin. Salah satu jenis plastik yang banyak digunakan adalah jenis HDPE dan LDPE. Penggunaan plastik sebagai material kemasan ini juga selain pengguaannya yang praktis juga terdapat bahaya yang ditimbulkan jika polimer plastik terurai menjadi monomer dan akan mencemari produk sediaan.

Keywords : material kemasan, plastik, polimer, HDPE

Mengapa kemasan penting dalam suatu produk farmasi? mengapa hampir semua produk selalu menggunakan kemasan? Jawabannya yaitu, karena kemasan mamiliki peranan penting bagi produk itu sendiri. Berikut adalah beberapa fungsi kemasan yang dapat menunjang kualitas suatu produk:

1. Fungsi pokok dari suatu kemasan obat adalah mewadahi sediaan obat agar tidak membiarkannya menjadi bagian dari lingkungan. Terutama hal ini mensyaratkan suatu kemasan yang tidak bocor dan tetap kedap terhadap pengaruh bahan-bahan formulasi sediaan obat yang cukup kuat menahan isinya selama distribusi fisik.
2. Perlindungan adalah fungsi kemasan yang paling penting. Sediaan obat harus dilindungi terhadap kerusakan fisik, kehilangan kandungan atau bahan ramuan dan terhadap gangguan komponen lingkungan yang tidak dikehendaki, seperti uap air (lembab), oksigen, cairan, kotoran, kontaminasi, dan cahaya matahari.
3. Memberi identitas terhadap isinya secara lengkap dan tepat.
4. Membolehkan isinya dapat digunakan dengan cepat, mudah, dan aman (Siregar, 2003).

Pemilihan material kemasan dalam suatu produk tidak kalah penting sebab pemilihan suatu material kemasan yang salah akan menyebabkan kerusakan serta terganggunya stabilitas baik fisika maupun kimia pada sediaan. Material kemasan yang sering digunakan dalam produk farmasi salah satunya adalah  plastik. Plastik banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia, mulai dari keperluan rumah tangga hingga industri. Sebagai material kemasan sediaan farmasi, plastik digunakan mulai dari proses pengolahan sampai sediaan farmasi tersebut sampai di tangan konsumen. Secara umum, plastik dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan pada stabilitasnya terhadap panas, yaitu :

  1. thermoset
  2. thermoplastic.

Jenis thermoplastic lebih banyak dipergunakan sebagai pengemas sediaan farmasi karena lebih stabil dan dapat kembali ke bentuk semula setelah pemanasan (Dean, 2000). Penggunaan plastik sebagai material kemasan produk farmasi terutama karena keunggulannya dalam hal bentuknya yang fleksibel sehingga mudah mengikuti bentuk sediaan farmasi yang dikemas; berbobot ringan; tidak mudah pecah; bersifat transparan/tembus pandang, mudah diberi label dan dapat dibuat dalam aneka warna, dapat diproduksi secara massal serta harga yang relatif murah serta terdapat berbagai jenis pilihan bahan plastik. Jenis kemasan plastik yang digunakan dalam material pengemasan produk farmasi diantaranya adalah HDPE (High density Polyethylene), LDPE (Low Density Polyethylene), PP ( Polypropylene), PVC (Polyvinyl chloride), PS (Polystryne), dan PC (Polycarbonate), PE (polyethylene) dan PP (Poly propylene) (Anonim, 2011).

Image

Gambar 1. nomor kode plastik

Image

Gambar 2. contoh produk kode plastik no 1

Image

Gambar 3. contoh produk kode plastik no 2

Image

Gambar 4. contoh produk kode plastik no 3

Image

Gambar 5. contoh produk kode plastik no 4

Image

Gambar 6. contoh produk kode plastik no 4

Image

Gambar 7. contoh produk kode plastik no 5

Image

Gambar 8. contoh produk kode plastik no 6

Image

Gambar 9. contoh produk kode plastik no 7

Kode Plastik dan Kegunaanya

Nomer kode

Jenis Plastik

Keterangan

 

PET,PETE (Polyethylene terephthalate)

– Bersifat jernih dan transparan, kuat, tahan  pelarut, kedap gas dan air, melunak pada suhu 80oC.- Tidak untuk air hangat apalagi panas.- Untuk jenis ini, disarankan hanya untuk satu kali penggunaan dan tidak untuk mewadahi suatu sediaan dengan suhu >60oC
 

HDPE

(High Density

Polyethylene)

–  Bersifat keras hingga semifleksibel,tahan terhadap bahan kimia dan kelembaban, dapat ditembus gas, permukaan berlilin, buram, mudah diwarnai, diproses dan dibentuk, melunak pada suhu 75oC.– Disarankan hanya untuk satu kali penggunaan karena jika digunakan berulang kali dikhawatirkan bahan penyusunnya lebih mudah bermigrasi ke dalam sediaan.
 

PVC

(Polyvinyl chloride)

– Plastik ini sulit didaur ulang.- Bersifat lebih tahan terhadap senyawa kimia.- Plastik jenis ini sebaiknya tidak untuk mewadahi sediaan yang mengandunglemak/minyak, alkohol dan dalam kondisi panas.
 

LDPE

(Low DensityPolyethylene)

– Bahan mudah diproses, kuat, fleksibel, kedap air, tidak jernih tetapi tembuscahaya, melunak pada suhu 70oC.
 

PP

(Polypropylene)

– Ciri-ciri plastik jenis ini biasanya transparan tetapi tidak jernih atau berawan, keras tetapi fleksibel, kuat,permukaan berlilin, tahan terhadap bahan kimia, panas dan minyak, melunak pada suhu 140oC.
 

PS

(Polystyrene)

– Terdapat dua macam PS, yaitu yang kaku dan lunak/berbentuk foam.- PS yang kaku biasanya jernih seperti kaca, kaku, getas, mudah terpengaruhlemak dan pelarut (seperti alkohol), mudah dibentuk, melunak pada suhu 95oC.
 

Other

(Digunakan untuk jenis

plastik selain pada nomor

1-6, termasuk

Polycarbonat, bio-based

plastic, co-polyester, acrylic, polyamide, dan

campuran plastik )

– Bersifat keras, jernih dan secara termal sangat stabil.- Bahan Polycarbonatdapat melepaskanBisphenol-A (BPA) ke dalam pangan,yang dapat merusak sistem hormon.- Botol yang sudah retak sebaiknya tidak digunakan lagi.

(Anonim,2011).

Secara umum bahaya plastik bagi kesehatan tubuh adalah jika polimer plastik terurai menjadi monomer dan akan mencemari produk sediaan. Hanya beberapa monomer atau aditif plastik yang perlu diwaspadai seperti vinil klorida, akrilonitril, metacrylonitril, vinylidene klorida serta styrene.

  1. Akrilonitril bereaksi dengan adenin Vinil asetat telah terbukti menimbulkan kanker tiroid, uterus dan liver pada hewan. Akrilonitril menimbulkan cacat lahir pada tikus-tikus yang memakannya.
  2. Monomer-monomer lain seperti akrilat, stirena, dan metakrilat serta senyawa-senyawa turunannya, seperti vinil asetat, polivinil klorida, kaprolaktam, formaldehida, kresol, isosianat organik, heksa metilendiamin, melamin, epodilokkloridrin, bispenol, dan akrilonitril dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan terutama mulut, tenggorokan dan lambung.
  3. Aditif plastik jenis plasticizer, Jika tercecer di badan air, plastik cenderung menyumbat aliran air, bisa di rumah-rumah, sungai, dan bisa mengakibatkan banjir. Bila dibakar akan menimbulkan asap yang membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi. Beberapa keuntungan penggunaan plastik adalah mudah dibentuk, ringan, tahan terhadap benturan dan ekonomis (Ansel, 1989).
Teknologi nano (nanotechnology) dalam kemasan plastik bisa menjadi teknologi yang sangat ramah lingkungan karena plastik menjadi sangat mudah terurai oleh mikroba yang ada dalam tanah. Dengan nanoteknologi, maka plastik kemasan yang sebelumnya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai, menjadi mudah terurai hanya dalam 4-8 minggu, bahkan lebih cepat lagi. Plastik kemasan nanoteknologi yang disebut sebagai plastik “biodegradable” dibuat dengan mencampurkan kalsium karbonat dalam bentuk partikel nano dengan ukuran puluhan nanometer ke dalam bahan kemasan plastik polietilen (PE) atau polipropilen (PP) hingga 70 persen. Kemasan plastik nanoteknologi mudah terurai karena dengan ukurannya yang sangat kecil, luas permukaanya menjadi lebih lebar, kontak dengan mikroba dalam tanah jauh lebih banyak. Nanoteknologi berkaitan dengan bagaimana cara mengatur material, sruktur dan fungsi zat pada skala nano (satu nanometer sama dengan satu meter dibagi satu miliar) sehingga menghasilkan materi dengan struktur dan fungsi baru (Era Baru News, 2009).  Berikut adalah cuplikan videonya:

DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi ke IV, UI-Press, Jakarta.

Anonim, 2011, Plastik Sebagai Kemasan Pangan, http://ik.pom.go.id/wp-content/uploads/2011/11/Plastiksebagaikemasanpangan.pdf, Diakses tanggal 20 Mei 2012.

Dean, D.A., Evans, E.R., Hall, H.I., 2000, Pharmaceutical Packaging Technology, Tailor&Francis, London.

Era Baru News, 2009, Kemasan Plastik Nanoteknologi Sangat Ramah Lingkunganhttp://erabaru.net/iptek/82-teknologi-inovasi/6822-kemasan-plastik-nanoteknologi-sangat-ramah-lingkungan, Diakses tanggal 24 Mei 2012.  

Fischer, A and Thomas, R.H., 1976, Packaging Material Science in The Theory and in Practise of Industrial Pharmacy, 2nd edition, Lea and Febiger.

Lachman, L., Lieberman, H.A., Kanig, J.L, 1986, Teori dan Praktek Farmasi Industry, Edisi III, UI-Press, Jakarta.

Siregar, Charles J. P, 2003, Farmasi Rumah Sakit: Teori Penerapan, EGC, Jakarta.

This entry was posted in TSF Mahasiswa 2010. Bookmark the permalink.

52 Responses to PLASTIC AS A PACKAGING MATERIAL FOR PHARMACEUTICAL PRODUCT

  1. AGUSNIYANTI says:

    Assalamualaikum
    jenis-jenis produk perikanan yang menggunakan kemasan dengan kode HDPE dan LDPE itu apa?

  2. Untuk yurissa terimakasih pertanyaannya🙂 seperti yang sudah dijelaskan diatas contoh kemasan plastik yang dibuat dengan prinsip nanoteknologi yaitu plastik polietilen (PE) atau polipropilen (PP) yaitu dengan cara mencampurkan kalsium karbonat dalam bentuk partikel nano dengan ukuran puluhan nanometer kedalam bahan kemasan plastik tersebut. Untuk pembuatan kemasan plastik nanoteknologi ini sendiri ada dua macam metode yaitu metode kimia dan metode fisika. Secara kimia yaitu dengan melarutkan dan ditambahkan zat kimia tertentu sehingga muncul dalam bentuk bubuk seukuran nano atau dengan cara fisika yaitu dengan menghancurkan zat-zat dengan alat high energy milling. Perlu diketahui bahwa selain kemasan plastik yang dibuat dengan prinsip nanoteknologi ini memiliki berbagai keunggulan tetapi kemasan plastik nanoteknologi yang dibuat oleh mikroba ini masih lebih mahal dibanding kemasan plastik biasa sehingga akan sulit dilirik masyarakat meski sangat bagus untuk lingkungan. Terimakasih, semoga bermanfaat🙂

    (Tika Pratiwi,G1F010019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s