Korosi pada Material Pabrikasi dan Industri Farmasi


Senyawa dan Logam  Penyebab Korosi Pada Industri Farmasi

 

 

Disusun oleh

Nur Alfiah (G1F010060)

Desy Nawangsari (G1F010067)

Nadia Farchunnisa (G1F010069)

Abstrak

Ion sulfat sebagaimana ion klorida sering menimbulkan masalah korosi pada material industri. Dari pengalaman terlihat ion sulfat bisa menginisisasi korosi lobang maupun stress corrosion cracking) pada material. Sulfur memiliki pengaruh yang besar terhadap proses terjadinya korosi karena ion Sulfur sendiri bersifat reduktif. Hal ini menyebabkan Sulfur mudah sekali mengikat Oksigen (O2) sehingga mudah sekali membentuk senyawa SO2. Dimana SO2 termasuk dari bahan pengotor yang bersifat mempercepat laju korosi karena menurunkan pH (menaikkan derajat ke asaman) media korosif.

Kata kunci : karat, sulfur, ion klorida

Karat (rust), tentu saja adalah sebutan yang belakangan ini hanya dikhususkan bagi korosi pada besi, sedangkan korosi sendiri adalah perusakan suatu material karena bereaksi dengan lingkungannya atau bisa disebut sebagai gejala destruktif yang mempengaruhi hampir semua logam. Terutama karena pabrik-pabrik di bidang industri menggunakan logam seperti besi, baja, dan banyak jenis logam dan paduan lainnya pada setiap komponen-komponennya. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa permasalahan korosi selalu ada disetiap industri tersebut, serta kurang disadarinya bahwa permasalahan korosi ini mampu memunculkan dampak yang merugikan baik dari segi biaya, sumber daya alam dan juga sumber daya manusia (Adam, 2011).

Pemilihan material atau bahan  ( material selection ) pada berbagai peralatan di industri kimia adalah   salah satu aspek yang penting,  karena dengan pemilihan material tepat  akan dapat meningkatkan penggunaan ( long service ) dari peralatan yang bersangkutan, disamping itu juga berpengaruh terhadap  cost ( atau biaya ) konstruksi peralatan proses tersebut serta  biaya maintanance (NIcholas, 1996).

Beberapa aspek atau kriteria  yang harus diperhatikan dalam pemilihan material peralatan adalah :

  1. Faktor fisika              : Material tersebut harus tahan ( resistance ) terhadap kondisi – kondisi operasi, seperti korosi, erosi , stress dan temperature
  2. Faktor ekonomi: Biaya atau cost dari material tersebut.
  3. Faktor kimia          : Kontaminasi yang berhubungan dengan interaksi antara material dengan fluida proses dan akibatnya terhadap proses itu sendiri, misalnya deaktivasi katalis
  4. Sifat – sifat mekanikal.

Pada saat melakukan pemilihan material,  korosi menjadi salah satu aspek pertimbangan yang penting. Hal ini disebabkan oleh banyak kerugian – kerugian  yang ditimbulkan oleh korosi. Hal – hal yang dapat mempengaruhi korosi adalah :

  • Material itu sendiri
  • Lingkungan ( enviroment )  yang kontak dengan material
  • Desain mekanikal dari komponen material

Bangunan juga termasuk dalam faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan sehingga harus mempunyai rancangan yang tepat dan baik serta memperhitungkan dampak terhadap peralatan produksi yang digunakan. Lokasi bangunan hendaklah sedemikian rupa sehingga dapat mencegah pencemaran lingkungan disekelilingnya seperti pencemaran udara, tanah dan air maupun terhadap kegiatan disekitarnya. Permukaan bagian dalam ruangan seperti dinding, lantai dan langit-langit sebaiknya licin, bebas keretakan dan sambungan terbuka serta mudah dibersihkan dan di desinfeksi. Lantai di daerah pengolahan harus dibuat dari bahan kedap air, permukaan rata dan memiliki permukaan yang mudah dicuci. Sudut-sudut antar dinding, langit-langit harus berbentuk lengkungan. Saluran air limbah sebaiknya cukup besar dan mempunyai bak kontrol serta ventilasi yang baik. Lubang pemasukan dan pengeluaran udara, pipa-pipa dan saluran hendaknya dipasang sedemikian rupa sehingga dapat mencegah timbulnya pencemaran terhadap produk. Bangunan harus mendapatkan penerangan yang cukup dan mempunyai ventilasi dengan fasilitas pengendali udara termasuk pengaturan suhu dan kelembaban untuk kean laboratorium.giatan dalam bangunan. Disamping itu tersedianya tenaga listrik yang memadai akan menjamin kelancaran fungsi peralatan produksi dan laboratorium (Asmarini, 2007).

Pada baja karbon rendah dengan kadar pemadu terbatas umumnya dibawah 2% dari total berat logam dasar Fe, logam tersebut sangat rentan terjadinya korosi karena rendahnya unsur-unsur pemadu seperti molib denum, kromium dan nikel untuk meningkatkan ketahanan korosi. Faktor penting dalam korosi industri di antaranya adalah  H2SO4, sulfur dan ion klorida. Ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya sel korosi yaitu anoda, katoda dan elektrolit. Hampir semua logam mempunyai kemampuan membentuk lapisan pasif yang bersifat protektif pada permukaannya. Lapisan pasif ini biasanya terbentuk dari oksida logam atau senyawa lain yang akan memisahkan logam dari media yang biasanya berupa larutan. Namun bila logam pasif itu berkontak dengan media yang mengandung ion-ion agresif misalnya ion klor (Cl), ion flour ( F), dan sulfat (SO4) maka korosi dapat terjadi. Konsentrasi klorida menentukan cepat lambat terjadinya korosi. Semakin besar konsentrasi klorida semakin besar kemungkinan teradsorbsi pada permukaan material, hal ini bisa memperpendek waktu pertumbuhan korosi. Semakin tinggi konsentrasi klorida semakin panjang waktu repasifasi. Hal ini disebabkan semakin lama waktu yang dibutuhkan oksigen untuk menggantikan posisi ion klorida pada permukaan material. Oksigen diperlukan untuk pembentukan kembali lapisan pasif (Febrianto, 2009).

Pengendalian korosi bisa dilakukan dengan  serangkaian pekerjaan yang terpadu, antara lain:

  1. Perancangan geometris alat atau benda kerja

Alat yang digunangan untuk produksi  rutin dirawat agar tidak mudah terjadi korosi karena bereaksi dengan bahan-bahan obat yang dapat memicu timbulnya korosi

2. Pemilihan bahan yang sesuai dengan lingkungan.

3. Pelapisan dengan bahan lain lain untuk mengisolasi bahan dari lingkungan, atau coating. Melapisi alat produksi  yaitu dengan menggunakan metode lapis lindung logam, fungsinya yaitu memberikan lapisan yang mengubah sifat dari logam tersebut yaitu ketahanan terhadap korosi. Logam komersial yang banyak digunakan di berbagai industri termasuk industri farmasi umumnya baja lapis lindung seng (galvanized steel).

4. Pemberian bahan kimia pada media mengalir yang dapat menghambat korosi, atau inhibisi.

5. Proteksi katodik yaitu memasok arus negatif ke badan benda kerja agar terhindar dari reaksi oksidasi oleh lingkungan.

6. Inspeksi rutin terhadap kinerja semua upaya proteksi yang dilakukan.

7. Pemeliharaan kebersihan.

Cara untuk pencegahan terjadinya korosi diantaranya adalah dengan cara proteksi katodik, coating, dan pengg chemical inhibitor.

A.      Proteksi Katiodik

Untuk mencegah terjadinya proses korosi atau setidak-tidaknya untuk memperlambat proses korosi tersebut, maka dipasanglah suatu anoda buatan di luar logam yang akan diproteksi. Daerah anoda adalah suatu bagian logam yang kehilangan elektron. Ion positifnya meninggalkan logam tersebut dan masuk ke dalam larutan yang ada sehingga logaml tersebut berkarat. Terlihat disini karena perbedaan potensial maka arus elektron akan mengalir dari anoda yang dipasang dan akan menahan melawan arus electron dari logam yang didekatnya, sehingga logam tersebut berubah menjadi daerah katoda. Inilah yang disebut Cathodic Protection. Dalam hal diatas elektron disuplai kepada logam yang diproteksi oleh anoda buatan sehingga elektron yang hilang dari daerah anoda tersebut selalu diganti, sehingga akan mengurangi proses korosi dari logam yang diproteksi.

Anoda buatan tersebut ditanam dalam suatu elektrolit yang sama (dalam hal ini tanah lembab) dengan logam (dalam hal ini pipa) yang akan diprotekasi dan antara dan pipa dihubungkan dengan kabel yang sesuai agar proses listrik diantara anoda dan pipa tersebut dapat mengalir terus menerus.

B.      Coating

Cara ini sering dilakukan dengan melapisi logam (coating) dengan suatu bahan agar logam tersebut terhindar dari korosi.

C.      Pemakaian Bahan-Bahan Kimia (Chemical Inhibitor)

Untuk memperlambat reaksi korosi digunakan bahan kimia yang disebut inhibitor corrosion yang bekerja dengan cara membentuk lapisan pelindung pada permukaan metal. Lapisan molekul pertama yang tebentuk mempunyai ikatan yang sangat kuat yang disebut chemis option. Corrosion inhibitor umumnya berbentuk fluid atau cairan yang diinjeksikan pada production line. Karena inhibitor tersebut merupakan masalah yang penting dalam menangani kororsi maka perlu dilakukan pemilihan inhibitor yang sesuai dengan kondisinya. Material corrosion inhibitor terbagi 2, yaitu :

  1. Organik Inhibitor

Inhibitor yang diperoleh dari hewan dan tumbuhan yang mengandung unsure karbon dalam senyawanya. Material dasar dari organik inhibitor antara lain:

  • Turunan asam lemak alifatik, yaitu: monoamine, diamine, amida, asetat, oleat, senyawa-senyawa amfoter.
  • Imdazolines dan derivativnya2.

2. Inorganik Inhibitor

Inhibitor yang diperoleh dari mineral-mineral yang tidak mengandung unsure karbon dalam senyawanya. Material dasar dari inorganik inhibitor antara lain kromat, nitrit, silikat, dan pospat (Halimatuddahliana, 2003).

DAFTAR PUSTAKA

Alifianto, Adam. 2011. Pemetaan korosi pada stasiun pemurnian di pabrik gula Watoe Toelis Krian Sidoarjo. Surabaya. Institut Teknologi sepuluh November.

Asmarini. 2007. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Sinabung Industri Farmasi Medan . Diakses tanggal 22 Mei 2012.

Febrianto, Natta, 2009. Jurnal Analisis Fluktuasi arus korosi saat hancurnya lapisan pasif dan repasifasi oleh ion-ion klorida” Tangerang, Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir, Batam.

Gad, S.C. 2008 . Pharmaceutical Manufacturing Handbook. Published by John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, New Jers, Canada.

Halimatuddahliana.  2003. Jurnal ,Pencegahan korosi dan Scale pada Proses Minyak Bumi. Universitas Sumatera Utara. diakses tanggal 22 Mei 2012.

Lachman, L., Herbert, A. L., and Joseph, L. K., 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri II, Indonesia University Press, Jakarta.

Nicholas P. Cheremisinoff. 1996.  Material Selection Deskbook. Noyes Publication

Priyotom, Gadang , 2004 “jurnal Kerusakan baja ST210-117 Akibat korosi lingkungan yang mengandung ion klorida” Tangerang, Pusat penelitian Metalurgi-LIPI diakses tanggal 18 Mei 2012

This entry was posted in TSF Mahasiswa 2010. Bookmark the permalink.

59 Responses to Korosi pada Material Pabrikasi dan Industri Farmasi

  1. Pingback: Kean University Email - Fashion dan Belanja Jadi Satu

  2. nugroho 08 says:

    apakah tidak ada logam lain selain besi yang dapat digunakan, sehingga dapat menghindari kondisi korosi di industri?dan dapat mengurangi biaya pemeliharaan alat..

  3. Tantri says:

    kalau yang saya tahu, logam besi yang dipakai industri-industri itu bukan besi murni tetapi besi campuran dengan logam lain untuk menghindari korosi itu sendiri
    saya ingin tahu, berapa persen kadar logam lain dalam logam besi itu untuk mencegah korosi?

  4. Adri says:

    Untuk penanganan menggunakan bahan kimia, lebih efektif yang organik atau inorganik dalam mencegah karat?

  5. terimakasi @caki atas pertanyaannya ^^
    ya sama seperti jawaban yang diatas , jika memang itu terjadi seharusnya ada pengawasan lebih dari pemerintah mengenai alat pabrik ini… dan ada pengkontrolan tiap tahun pada tiap daerah… Itulah sebabnya juga setiap industri terutama indrustri farmasi harus ada quality qontrol,
    Mungkin itu bisa kita share kan.. ada lagi cika ??? ^^
    mksii ya atas kunjungan n responnya ^_^

    Nadia Farchunnisa (G1F010069)

  6. terimakasi atas pertanyaannnya sdri @yanti….jika seperti itu dampak nya pada kualitas dari produk yang dihasilkan.. produk yang dihasilkan akan cenderung mengalami penurunan mutu dan mungkin malah dapat menyebabkan zat berbahaya didalamnya yan berbahaya untuk tubuh kita jika sampai masuk kedalam tubuh…. Jika memang seperti itu harusnya ada pengecekan tiap tahun oleh BPOM atau pemerintah sejenis penawasan atau kontrol
    mungkin itu saja.. jika kurang puas silakan ditanggapi lagi yanti ^_^
    terimaksi yaa.. sering mampir k sini ya

    Nadia Farchunnisa (G1F010069)

  7. chakii says:

    tindakan yg real yg mungkin bakal dilakuin kalo tau ada industri yg kurang memperhatikan kualitas alatnya gimana?🙂

  8. yanti says:

    mau tanya nih
    bagaimana taggapannya jika ada bbrp prushaan/industri yg alatnya berkarat,dan bgmn dampaknya?

  9. jawaban untuk pertanyaan dari @fahrul rozie,

    jadi untuk pencegahan korosi pada material industri yaitu dengan melapisi alat produksi dengan menggunakan metode lapis lindung logam, fungsinya yaitu memberikan lapisan yang mengubah sifat dari logam tersebut yaitu ketahanan terhadap korosi. Logam komersial yang banyak digunakan di berbagai industri termasuk industri farmasi umumnya baja lapis lindung seng (galvanized steel). Penundaan atau pencegahan korosi menggunakan desain mekanikal. Desain mekanikal disini maksudnya adalah peralatan atau dengan menggunakan campuran logam yang dapat mencegah terjadinya korosi pada alat materian yang digunakan dibuat produksi, atau dengan melapisi logam dengan logam yang mempunyai sifat tahan terhadap korosi. Contohnya Baja tahan karat Austenitic stainless steel (seri 300) yang telah digunakan luas dalam berbagai lingkungan industri, khususnya baja tahan karat austenitic stainless steel 316L yang biasa digunakan pada pembangkit tenaga, industri kimia, elektronik, termal, nuklir dan kertas, dan banyak produk kimia, seperti peralatan dapur dan automobile.
    Pada material industri harus dilakukan perawatan yang rutin agar tidak mudah terjadi korosi karena bereaksi dengan bahan-bahan obat yang dapat memicu timbulnya korosi dan juga agar dapat mencegah terjadinya pencemaran yang dapat mengubah identitas, mutu atau kemurnian produk. Setiap peralatan utama hendaknya diberi nomr pengenal untuk saluran air, uap, udara, udara bertekanan tinggi untuk membedakan satu dengan yang lainnya karena korosi dapat terjadi jika material kontak langsung dengan air, oksigen(udara) , tekanan yang tinggi dan uap.

    Nur Alfiah (G1F010060)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s