MIXING IN PHARMACEUTICAL


Farmasi Universitas Jenderal Soedirman

Disusun oleh :

Rupa Lesty(1)                       G1F009059
Wimala Permatasari(2)       G1F010032
Dedy Iskandar(3)                               G1F010034

ABSTRAK

Pencampuran adalah peristiwa menyebarnya bahan-bahan secara acak, dimana bahan yang satu menyebar ke dalam bahan yang lain demikian pula sebaliknya, sedang bahan-bahan itu sebelumnya terpisah dalam keadaan dua fase atau lebih yang akhirnya membentuk hasil yang lebih seragam (homogen). Pada proses pencampuran diperlukan gaya mekanik untuk menggerakkan bahan-bahan sehingga didapat hasil yang homogen. Gaya mekanik diperoleh sebagai akibat adanya aliran bahan ataupun dihasilkan oleh alat pencampur. Beberapa peralatan yang biasa digunakan untuk mencampur zat cair dapat juga digunakan untuk mencampur zat padat atau pasta, dan demikian juga sebaliknya.

Keywords : pencampuran, homogen, cair-cair, padat-cair, padat-padat, cair-gas.

A. Tujuan Pencampuran Bahan

Operasi teknik yang berkaitan dengan pencampuran antara lain pemecahan dan penggilingan, ekstraksi, absorpsi, adsorpsi, pembuatan larutan, dan penukaran ion. Sedangkan proses industry kimia pada dasarnya merupakan operasi penggabungan atau penguraian secara kimia. Dengan demikian proses industry kimia pada dasarnya merupakan operasi pencampuran dengan reaksi kimia tertentu, misalnya hidrogenasi, klorinasi, fotosintesis, adisi, polimerisasi, dan reduksi-oksidasi (redoks). Beberapa tujuan yang perlu diperhatikan pada proses pencampuran antara lain:

  • Menghasilkan campuran bahan dengan komposisi tertentu dan homogen.
  • Mempertahankan kondisi campuran selama proses kimia dan fisika agar tetap homogen
  • Mempunyai luas permukaan kontak antar komponen yang besar
  • Menghilangkan perbedaan konsentrasi dan perbedaan suhu, mempertukarkan panas
  • Mengeluarkan secara merata gas-gas dan uap-uap yang timbul.
  • Menghasilkan bahan setengah jadi agar mudah diolah pada proses selanjutnya, atau menghasilkan produk akhir (produk komersial) yang baik.

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pencampuran Bahan

mixing, granulating, drying, and coating drug machine

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pencampuran, waktu pencampuran dan energi yang diperlukan untuk pencampuran adalah :

  • Aliran

Aliran yang turbulen dan laju alir bahan yang tinggi biasanya menguntungkan proses pencampuran. Sebaliknya, aliran yang laminar dapat menggagalkan pencampuran.

  • Ukuran partikel/luas permukaan

Semakin luas permukaan kontak bahan-bahan yang harus dicampur, yang berarti semakin kecil partikel dan semakin mudah gerakannya didalam campuran, maka proses pencampuran semakin baik.

  • Kelarutan

Semakin besar kelarutan bahan-bahan yang akan dicampur satu terhadap lainnya, semakin baik pencampurannya. Pada saat pelarutan terjadi, terjadi pula perstiwa difusi laju difusi dipercepat oleh adanya aliran. Kelarutan sebanding dengan kenaikan suhu, sehingga dapat dikatakan bahwa dengan naiknya suhu derajat pencampuran akan semakin baik pula.

  • Viskositas campuran
  • Jenis bahan yang dicampur
  •  Urutan pencampuran
  • Suhu dan Tekanan (pada gas)
  • Bahan tambahan pada pencampuran seperti emulgator.

C. Keadaan  Agregasi  pada  Pencampuran

Keadaan agregasi adalah bentuk penampilan materi yang dapat berupa gas, cairan atau padat. Sehubungan dengan itu campuran dapat memperlihatkan sifat-sifat yang sangat berbeda satu sama lain dan memerlukan persyaratan tertentu pada pemilihan alat pencampur.

D.  Jenis – Jenis Campuran

Suatu campuran bahan kimia dapat mengikuti jenis-jenis berikut ini :
– Campuran heterogen
– Koloid
– Suspensi
– Larutan sejati atau campuran homogen

E. Pemilihan Alat Pencampur

Pemilihan alat pencampur dan juga metode pencampuran terutama didasarkan pada:

  • Jenis-jenis bahan yang akan dicampur
  • Jenis campuran yang akan dibuat
  • Jumlah campuran yang akan dibuat
  • Derajat pencampuran yang ingin dicapai
  • Maksud pembuatan campuran
  • Sistem operasi (kontinu, terputus-putus)

Selain hal-hal tersebut diatas, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan peralatan yang harus digunakan dalam pencampuran adalah fase dari bahan yang akan dicampur. Berikut akan dibahas pencampuran berdasarkan fase dari bahan yang dicampur.

1. Pencampuran Bahan Cair-Cair

Pencampuran cairan dengan cairan digunakan untuk mempersiapkan atau melangsungkan

alat pencampuran cair-cair

proses-proses kimia dan fisika serta juga untuk membuat produk akhir yang komersial. Alat yang digunakan untuk pencampuran bahan cair-cair dapat berupa tangki atau bejana yang dilengkapi dengan pengaduk. Tangki atau bejana biasanya berbentuk silinder dengan sumbu terpasang vertikal, bagian atas bejana itu bisa terbuka saja ke udara atau dapat

pula tertutup. Ujung bawah tangki itu biasanya agak membulat, jadi tidak datar saja, maksudnya agar tidak terdapat terlalu banyak sudut-sudut tajam atau daerah yang sulit ditembus arus zat cair. Kedalaman zat cair biasanya hampir sama dengan diameter tangki. Di dalam tangki itu dipasang pengaduk (impeller) pada ujung poros menggantung, artinya poros itu ditumpu dari atas. Poros itu digerakkan oleh motor, yang kadang-kadang dihubungkan langsung dengan poros itu, namun biasanya dihubungkan melalui peti roda gigi untuk menurunkan kecepatannya.

Tujuan pencampuran cair-cair adalah untuk mempersiapkan atau melangsungkan proses-proses kimia dan fisika serta juga untuk membuat produk akhir yang komersil. Beberapa contoh pencampuran cair-cair adalah pada pembuatan sirop, obat tetes dan larutan injeksi.

Metode yang paling sering digunakan untuk mencampur cairan dengan cairan ialah dengan metode turbulensi didalam bejana pengaduk atau dalam suatu pencampur getar. Metode lainnya adalah misalnya dengan menyampur dengan penyemprot, dengan pompa, dengan menghembuskan gas kedalam cairan atau dengan mesin pengecil ukuran.

1. Pencampuran dengan alat pengaduk dan pencampur getar

Untuk persoalan pencampuran yang sederhana seperti untuk membuat larutan sejati, dapat digunakan pengaduk dengan putaran lambat seperti pengaduk jangkar, pengaduk bingkai, pengaduk palet dan pengaduk impeler. Untuk membuat emulsi halus dapat dipergunakan alat pengaduk dengan putaran cepat seperti alat pengaduk propeler, pengaduk turbin, pengaduk cakram gigi, ataupun pengaduk palet.

2. Pencampuran dengan alat semprot

Pada instalansi-instalansi yang bekerja secara kontinyu, cairan-cairan yang dapat saling melarut seringkali tercampur dengan sendirinya di dalam saluran-saluran pipa. Akan tetapi karena pencampuran oleh turbulensi di dalam pipa tanpa adanya alat pendukung lain tidak begitu besar, cairan dengan volume yang lebih kecil seringkali dimasukkan bersama-sama cairan lain ke dalam pipa.

3. Pencampuran dengan Alat Pompa

Seringkali penggunaan pompa sentrifugal telah cukup untuk menanggulangi persoalan pencampuran yang sederhana. Pompa tersebut dipasang sebagai alat pendorong cairan pada saluran pipa. Untuk persoalan yang lebih sukar, efek pencampuran yang baik dapat dicapai dengan memutar bahan secara terus menerus secara sirkulasi. Bahan umumnya dihisap dari bejana campur dengan sebuah pompa sentrifugal dan disalurkan kembali.

2. Pencampuran Bahan Padat-Cair

Pada proses pembuatan produk industri kimia yang siap untuk diperdagangkan dan pada pengolahan produk setengah jadi, seringkali bahan-bahan padat harus dicampurkan dengan sejumlah kecil cairan. Disini dapat terbentuk bahan padat yang lembab atau campuran yang sangat viskos seperti pasta atau adonan. Seringkali cairan harus juga ditambahkan ke dalam pasta, adonan atau massa yang plastis tersebut.

Alat pencampuran padat-cair

Contoh :

  • Mencampur serbuk dengan cairan untuk membuat butiran-butiran (granulat)
  • Mencampur pasta pada industri farmasi dan kosmetik dengan bahanbahan aktif.
  • Mencampur masa sintetik yang plastis dengan bahan-bahan penolong (misalnya bahan pelunak, stabilisator, bahan pewarna).

Alat yang digunakan dapat berupa tangki atau bejana vertikal yang berbentuk silinder, bahan digilas dan diuli oleh satu atau dua perkakas campur yang mirip pengaduk. Pembentukan bahan-bahan kimia umumnya memerlukan air dalam pencamprannya. Disini dapat terbentuk bahan padat yang lembab atau campuran yang sangat viskos seperti pasta atau adonan. Pada saat pencampuran bahan-bahan yang sangat viskos dibutuhkan gaya yang besar untuk memisah-misahkan bahan. Bagian bahan yang satu harus saling digesekkan dengan bahan yang lain, kemudian disatukan kembali. Proses ini dinamakan menguli. Untuk tujuan inilah dibuat suatu alat penguli yang memudahkan dalam proses pencampuran.

3. Pencampuran Bahan Padat-Padat

Planetary mixer

Pencampuran dua atau lebih dari bahan padat banyak dijumpai yang akan menghasilkan produk komersial industri kimia. Pada pencampuran padat-padat, pencampuran biasanya dilakukan setelah proses sizing dan grinding. Dalam hal ini alat penggiling dan alat pencampur dapat dijadikan satu dalam suatu alat yang lebih besar. Proses pemberian bentuk dan pengisian sering dirangkai sesudahnya. Pengecilan ukuran dimaksudkan agar derajat pencampuran yang dihasilkan lebih tinggi, dengan waktu pencampuran lebih singkat dan sistem pencampuran lebih sederhana dan mudah. Pada industri pencampuran bahan padat biasanya menggunakan alat pengguliran dengan bejana-bejana berkedudukan tetap tetapi mempunyai perlengkapan pencampur yang berputar
Contoh :

  • Pencampuran bahan pewarna dengan bahan pewarna lainnya atau dengan bahan penolong untuk menghasilkan nuansa warna tertentu atau warna yang cemerlang.

Alat yang digunakan untuk pencampuran bahan padat dengan padat dapat berupa bejana-bejana yang berputar, atau bejana-bejana berkedudukan tetap tapi mempunyai perlengkapan pencampur yang berputar, ataupun pneumatik. Beberapa alat pencampur bahan padat-padat :

a. Pencampur tromol

Pencampur ini berupa sebuah bejana silindris yang horizontal berputar pada sumbu panjangnya. Dengan putaran ini, bahan terangkat sepanjang bagian dalam dinding dan kemudian jatuh kembali.
Karena sebagian besar aliran berarah vertikal, diperlukan waktu campur yang lama. Pencampur tromol yang besar seringkali diberi bentuk kerucut pada penyangga saluran keluaran. Adapun persyaratan untuk pencampuran dengan menggunakan alat ini adalah derajat pencampuran yang dihasilkan haruslah tidak terlalu kental.

b. Pencampur Pusar

Pencampur ini berupa bejana silindris berputar mengelilingi suatu sumbu diagonal. Prinsip kerjanya adalah bahan diangkat dan kemudian dijatuhkan lagi kebawah. Pada saat jatuh bahan terdistribusi dan termampatkan. Pencampur jenis ini akan baik untuk memperoleh derajat pencampuran yang tinggi, tetapi proses yang berlangsung tidak efektif karena bahan yang dicampurkan harus dalam jumlah yang sedikit.

c. Pencampur kerucut

Berupa sebuah bejana dengan sebelah atau kedua belah sisi berbentuk kerucut berputar mengelilingi sumbu yang melintang. Prinsip kerja dan keuntungan pencampur ini sama seperti pencampur Pusar

d. Pencampur V

Berupa sebuah bejana dengan sebelah atau kedua belah sisinya berbentuk V berputar mengelilingi sumbu yang melintang. Sama seperti pencampur kerucut, pencampur ini tidak efesien digunakan dalam industri.

e. Pencampur Kocok (pencampur Turbula)

Berupa sebuah bejana yang dipasang pada sutu sistem pemegang, digoyangkan hingga memberikan gerakan kocok tiga dimensi. Dengan gerakan tersebu bahan mengalir kian kemari bercampur aduk. Pencampur ini digunakan untuk pencampuran < 1m3 yang cepat dan intensif.

f. Pencampur Pedal

Berupa sebuah bejana silindris yang mendatar yang didalamnya terdapat beberapa pedal yang dapat berputar pada sumbu horizontal. Pencampur jenis ini dapat mencampur bahan dalam jumlah yang relatif banyak.

g. Pencampur Spiral Ganda

Berupa bejana silindris mendatar yang didalamnya terdapat dua buah pita spiral yang mempunyai jari-jari berlawanan. Pita-pita jari-jari ini berputar secara horizontal dan bertikal secara bersamaan.

h. Pencampur spiral Planet (Pencampur Nauta)

Berupa bejana berbentuk kerucut yang didalamnya terdapat spiral yang dapat berputar dan menyusuri dinding bejana. Karena putaran spiral, bahan diangkat dan kemudian jatuh kembali kebawah mengikuti aliran spiral tersebut. Pencampur ini sesuai untuk digunakan dalam mencapur bahan dalam jumlah yang besar.

i. Pencampur Unggun Denyut

Berupa seuah bejana yang bagian atasnya berbentuk silinder dan bagian bawah berbentuk kerucut. Dibagian bawah terdapat cincin berongga yang dilengkapi dengan penyembur gas. Jadi bahan dipusarkan oleh aliran gas. Pencampur ini tidak begitu populer karena prinsip kerjanya yang rumit dan bahaya penggunaannya cukup besar

4. Pencampuran Bahan Cair-Gas

Untuk proses kimia dan fisika tertentu gas harus dimasukkan ke dalam cairan, artinya cairan dicampur secara sempurna dengan bahan-bahan berbentuk gas.
Contoh :

  • Proses hidrogenasi, khorinasi dan fosfogensi
  • Oksidasi cairan oleh udara (fermentasi, memasukkan udara kedalam lumpur dalam instalasi penjernih biologis)
  • Meningkatkan kadar (melarutkan) gas dalam cairan (misalnya HCLdalam air, oksigen dalam cairan-cairan)
  • Membangkitkan basa (misalnya busa pemadam api).

 F. Menghitung Komposisi Campuran

a. Jika bahan A dicampur dengan bahan B, maka kadar A dalam campuran dalam persen massa adalah:

Kadar A = (massa A)/(massa campuran).100%= A/(A+B).100%
Keterangan: A = massa benda A, kg
B = massa benda B, kg

b. Jika campuran bahan A dan B ditambah lagi bahan B, maka prinsip perhitungannya adalah pengenceran larutan:

K_1 m_1=K_2 m_2

K1 = kadar campuran pertama, %
K2 = kadar campuran kedua (setelah diencerkan), %
m1 = massa campuran pertama, kg
m2 = massa campuran kedua (massa campuran pertama + massa B), kg

c. Jika dua macam campuran dicampurkan, maka akan terbentuk campuran baru yang kadarnya terletak di antara campuran pertama dan campuran kedua:

Kadar campuran baru = (K_1 m_1+K_2 m_2)/(m_1+m_2 )

d. Neraca Massa Pencampuran Larutan
Proses produksi di industry kimia biasanya dikategorikan menjadi dua, yaitu batch (tumpak, sekali jalan) dan kontinu (sinambung, tak pernah berhenti). Pada tahap awal proses akan terjadi pengisian (feed, charge) dan pada akhir proses akan terjadi pengosongan (discharge). Di antara pengisian dan pengosongan tergapat proses steady (mantap). Proses steady umumnya berlaku hukum kekekalan massa.
Hukum kekekalan massa menyebutkan bahwa massa zat sebelum dan sesudah reaksi tetap. Dapat pula dinyatakan bahwa massa zat yang masuk ke dalam proses sama dengan massa zat yang keluar dari proses.

Berdasarkan diagram alir maka berlaku:
F1 + F2 + F3 = P
Persamaan tersebut disebut neraca massa total. Neraca massa penyusun dapat ditentukan dari fraksi massa zat pada masing-masing bagian (arus bahan).

Misalkan akan dibuat 50 kg larutan KCl 40% dengan mencampurkan larutan KCl 20% dan larutan KCl 50%. Susunlah neraca massanya!

Diketahui:
x_A=0,20
x_B=0,50
x_C=0,40
C = 50 kg
Neraca massa total:
A + B = 50
B = 50 – A ……………………………………………….. (1)

Neraca massa penyusun:
KCl : xA.A + xB.B = xC.C
(0,20)A + (0,50)B = (0,4)(50)
(0,20)A + (0,50)B = 20 …………………………………. (2)

Pers (1) dan (2) disatukan, diperoleh:
(0,20)A + (0,50)(50 – A) = 20
(0,20)A + 25 – 0,50A = 20
25 – 20 = 0,5A – 0,2A
5 = 0,3A
A = 5/0,3=16,67 kg
B = 50 – 16,67 = 33,33 kg

G. Merawat Alat Pencampur

Untuk mendapatkan kerja yang efisien, bukan hanya kebutuhan daya yang merupakan hal terpenting tetapi juga laju pencapaian derajat pencampuranyang diinginkan serta perawatan yang terjadwal. Telah dibuktikan bahwa sangat sukar untuk mendapatkan derajat pencampuran yang diingikan pada suatu waktu, dan keputusan untuk menentukan kapan material tersebut sudah tercampur masih tergantung kepada perkiraan, pengalaman dan keputusan operator serta kegiatan perawatan yang terus menerus dilakukan.

Beberapa metode perawatan perlu diperhatikan agar pengadukan efektif
adalah berdasarkan :

1. Laju dispersi pada suatu elektrolitnya
2. Laju distribusi pada campuran pasir dalam air, dan
3. Laju dissolusi padatan dalam zat pelarut yang berbeda.

Perawatan alat agar tiap komponen selalu bekerja sempurna

Perawatan dilakukan sebagai berikut :

  • Pengaduk dikondisikan dapat berputar sesuai dengan kondisi operasi yang diinginkan yaitu dengan jalan memberikan pelumas pada tangki pengaduk.
  • Semua peralatan dijaga jangan cepat berkarat terutama yang terbuat dari logam besi dengan jalan membersihkan dari karat dengan mengamplas dan memoles.
  • Pengoperasian alat dehumidifier untuk mengurangi kelembaban udara dalam ruangan yang di dalamnya menyimpan peralatan pencampuran yang rentan terhadap serangan korosi. Peralatan-peralatan pencampuran yang rawan terhadap pengaruh korosi perlu disimpan diruang tertutup, jauh dari kemungkinan pencemaran udara akibat terlepasnya bahan-bahan korosif ke lingkungan.
  • Menutup alat sewaktu tidak dipergunakan untuk menghindari masuknya debu-debu ke dalam alat. Perlu diketahui bahwa debu dapat tertempelipolutan korosif yang apabila terbang terbawa udara dapat masuk ke dalam alat dan menempelkan dirinya ke permukaan komponen-komponen elektronik di dalam alat tersebut.
H.  RANGKUMAN
Pencampuran (mixing) adalah peristiwa menyebarnya bahan-bahan secara acak, dimana bahan yang satu menyebar ke dalam bahan yang lain demikian pula sebaliknya, sedang bahan-bahan itu sebelumnya terpisah dalam keadaan dua fase atau lebih yang akhirnya membentuk hasil yang lebih seragam (homogen). Tujuan mixing antara lain menghasilkan campuran bahan dengan komposisi tertentu dan homogen, memperluas permukaan kontak antar komponen, dan menghasilkan bahan setengah jadi atau menghasilkan produk akhir (produk komersial) yang baik. Mixing dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain: aliran bahan, ukuran partikel, dan kelarutan. Pemilihan alat pencampur dan metode pencampuran didasarkan pada: jenis-jenis bahan yang akan dicampur, jenis dan jumlah campuran yang akan dibuat, tujuan pencampuran, dan system operasi yang digunakan. Berbagai jenis alat pencampur dapat dipilih berdasarkan bahan yang akan dicampur, antara lain bahan cair-cair, padat-cair, padat-padat, dan cair-gas. Perawatan dilakukan antara lain memberikan pelumas pada tangki pengaduk, mengamplas dan memoles bagian logam, memasang alat pengurang kelembaban, dan mengemas rapat.

Daftar Pustaka

Ansel, H. C., 2005, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Gad, S.C. 2008 . Pharmaceutical Manufacturing Handbook. Published by John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, New Jers, Canada.

Lachman, L., Herbert, A. L., and Joseph, L. K., 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri II, Indonesia University Press, Jakarta.

Voight, R., 1994, Buku Pengantar Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Soedani, N., Edisi V,

http://irham89maulana.files.wordpress.com/2010/09/tanki-pencampuran-tp.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1369/1/tkimia-zuhrina.pdf

http://www.scribd.com/fprihananto/d/32235820-Pralin-MIXING

http://www.scribd.com/doc/55744746/38636057-Laporan-Peralin-CIA-Vi

This entry was posted in TSF Mahasiswa 2010 and tagged , , . Bookmark the permalink.

39 Responses to MIXING IN PHARMACEUTICAL

  1. Submitted on 2012/05/27 at 3:41 am
    apa yg dimaksud dengan Viskositas campuran?
    thanks

    Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan untuk mengalir dari suatu system yang mendapatkan suatu tekanan. Viskositas campuran adalah ukuran resistensi campuran cair untuk mengalir. Viskositas berpengaruh pada formulasi sediaan-sediaan farmasi, contohnya pada sediaan suspensi, tidak boleh terlalu kental (viskositas tinggi) sehingga menyebabkan suspensi tidak bisa di kocok, hal inidapat menyebabkan distribusi zat aktif tidak merata pada seluruh cairan dan juga akan mengalami kesulitan pada saat penuangan, contoh lain untuk sediaan mata, viskositas dinaikkan untukmembantu menahan obat pada jaringan sehingga menambah efektivitas terapinya (Ansel, 2005). Apabila vikositas terlalu tinggi, maka akan menyulitkan dalam pelaksanaan proses pencampuran sebaiknya apabila suhu viskositas terlalu rendah maka akan mengurangi stabilitas.

    OLEH : RUPA LESTY (G1F009059)

  2. terimakasih untuk semua pertanyaannya mbak kartika🙂

    Reaksi klorinasi merupakan bagian dari reaksi halogenasi yaitu pemasukan gugus klor kedalam suatu senyawa yang artinya terjadi peristiwa pencampuran. Pereaksi-pereaksi halogenasi yang banyak digunakan adalah senyawa klor atau brom, walaupun ada beberapa reaksi yang menggunakan senyawa fluor atau iodum. Reaksi Klorinasi dapat dilakukan terhadap gugus hidroksil, ikatan rangkap, ikatan jenuh yang memiliki gugus oksim dan gugus alilik. Reaksi klorinasi tergantung pada keberadaan gugus fungsi yang terdapat pada senyawa tersebut. Gugus fungsi ini sangat mempengaruhi pemilihan jenis pereaksi yang akan digunakan. Asam Oleat dapat diklorinasi dengan menggunakan Phospor Pentaklorida ataupun SOCl2 membentuk Oleil Klorida.Tetapi Senyawa Propanol-1 dapat diklorinasi dengan menggunakan HCl dan membentuk Propil Klorida.

    contoh reaksi klorinasi :
    1. Asam oleat + SOCl2 —> Oleil klorida + SO + HCl
    2. Asam Oleat + PCl5 —> Oleil Klorida + POCl3 + HCl

    OLEH : RUPA LESTY G1F009059

  3. hahaha,, terimakasi mba kartika cahyaningtyas atas pertanyaanya,
    saya akan menjawab pertanyaan yang mengenai proses sizing dan grinding,

    Grinding adalah istilah pemecahan dan penghalusan atau penghancuran (size reduction) meliputi semua metode yang digunakan untuk mengolah zat padat menjadi ukuran yang lebih kecil. Di dalam industri pengolahan, zat padat diperkecil dengan berbagai cara sesuai dengan tujuan yang berbeda-beda. Bongkah-bongkah biji mentah dihancurkan menjadi ukuran yang mudah ditangani, bahan kimia sintesis digiling menjadi tepung, lembaran-lembaran plastik dipotong-potong menjadi kubus atau ketupat-ketupat kecil.
    Pengayakan terutaman ditujukan untuk pemisahan campuran padat-padat. Sistem pemisahan ini berdasar atas perbedaan ukuran. Ukuran besar lubang ayak (atau lubang kasa) dari medium ayak dipilih sedemikian rupa sehingga bagian yang kasar tertinggal di atas ayakan dan bagian-bagian yang lebih halus jatuh melalui lubang. Diusahakan untuk dapat melakukan pemisahan yang diinginkan secepat mungkin. Untuk mencapai hal ini, bahan yang diayak digerakkan terhadap permukaan ayakan. Pada umumnya, gerakan diperoleh dengan gerakan berputar, bolak-balik, atau turun naik.Metode yang sering digunakan pada teknik grinding ada 4 yaitu :
    (1) Pengempaan (compression)
    (2) Penumbukan (impact)
    (3) Penggerusan (attrition)
    (4) Pemotongan (cutting)
    Contoh kompressi digunakan untuk pemecahan kasar zat padat keras, dengan menghasilkan relatif sedikit halusan, pukulan menghasilkan hasil yang berukuran kasar, sedang, dan halus. Atrisi menghasilkan hasil yang sangat halus dari bahan yang lunak dan tak abrasif, pemotongan memberikan hasil yang ukurannya pasti, dan kadang-kadang dengan sedikit atau sama sekali tidak ada halusan pada bentuknya.

    Sedangkan yang sizing (Pengayakan) merupakan salah satu metode pemisahan partikel sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Metode ini dimaksudkan untuk memisahkan fraksi-fraksi tertentu sesuai dengan keperluan dari suatu material yang baru mengalami grinding. Ukuran yang lolos melalui saringan biasanya disebut sebagai undersize dan partikel yang tertahan disebut oversize.

    Beberapa jenis ayakan yang sering digunakan antara lain :
    (1) Grizzly, merupakan jenis ayakan statis, dimana material yang akan diayak mengikuti aliran pada posisi kemiringan tertentu.
    (2) Vibrating screen, ayakan dinamis dengan permukaan horizontal dan miring digerakkan pada frekuensi 1000 sampai 7000 Hz. Ayakan jenis ini mempunyai kapasitas tinggi, dengan efisiensi pemisahan yang baik, yang digunakan untuk range yang luas dari ukuran partikel
    (3) Oscillating screen, ayakan dinamis pada frekuensi yang lebih rendah dari vibrating screen (100-400 Hz) dengan waktu yang lebih lamam.
    (4) Reciprocating screen, ayakan dinamis dengan gerakan menggoyang, pukulan yang panjang (20-200 Hz). Digunakan untuk pemindahan dengan pemisahan ukuran.
    (5) Shifting screen, ayakan dinamis dioprasikan dengan gerakan memutar dalam bidang permukaan ayakan. Gerakan actual dapat berupa putaran, atau getaran memutar. Digunakan untuk pengayakan material basah atau kering.
    (6) Revolving screen, ayakan dinamis dengan posisi miring, berotasi pada kecepatan rendah (10-20 rpm). Digunakan untuk pengayakan basah dari material-material yang relatif kasar, tetapi memiliki pemindahan yang besar dengan vibrating screen.

    oleh : WIMALA PERMATASARI G1F010032

  4. Kartika Cahyaningtyas says:

    Bisa dijelaskan dasar pemakaian penghitungan komposisi campura, yaitu : Kadar A = (massa A)/(massa campuran).100%= A/(A+B).100%. Maksud saya itu didapat dari mana penghitungan tersebut? apakah dari ahli sebelumnya atau dari percobaan alami yang diterapkan oleh Saudara? Jika didapat dari ahli sebelumnya, tolong dijelaskan mengenai teori yang diterapkan oleh ahli tersebut sehingga menghasilkan rumus tersebut? Kemudian jika alami dari percobaan juga paparkan teorinya?

  5. Kartika Cahyaningtyas says:

    Apa tujuan dari diadakan Merawat Alat Pencampur??memiliki point positif atau negative kah? Jelaskan!

  6. Kartika Cahyaningtyas says:

    Bagaimana pengoperasian alat dehumidifier? Tolong berikan gambar dari alat tersebut…

    Sebuah Dehumidifier adalah sebuah alat yang penyerap uap air dari udara. Menggunakan kumparan yang dingin menarik kelembaban dari udara, yang kemudian kondensasi pada kumparan dan dikumpulkan dalam wadah / penampung lalu dibuang airnya. Dilaboratorium alat ini berfungsi menjaga ruangan labotorium bebas dari pertumbuhan bakteri dan jamur akibat lembab, dan diruang Percetakan berfungsi menjaga agar kualitas hasil cetakan stabil ( tidak berubah warna) , menjaga kertas cetakan tidak lembab, menjaga mesin-mesin percetakan lebih awet.

    oleh : RUPA LESTY G1F009059
     ALAT DEHUMIDIFIER

  7. Kartika Cahyaningtyas says:

    Dalam menggunakan alat yang tertera dalam “Pencampuran Bahan Padat-Padat”, apakah memilki dampak negative atau positifnya? Jelaskan!
    Thanks

  8. Kartika Cahyaningtyas says:

    Tolong., jelaskan dengan singkat, padat, dan jelas mengenai proses sizing dan grinding?

  9. Kartika Cahyaningtyas says:

    Dapatkah, Saudara paparkan mengenai metode turbulensi ?
    terima kasih

  10. Kartika Cahyaningtyas says:

    apa yg dimaksud dengan Viskositas campuran?
    thanks

  11. hay minati,, makasii🙂 langsung dijawab aja ya,
    iya ada beberapa faktor yg merugikan dalam pencampuran diantaranya :
    – Kadar kelembaban yang tinggi di dalam bahan atau yang sangat berbeda diantara bahan dapat mengakibatkan penggumpalan. Bahan tidak lagi dapat ditaburkan tetapi melekat pada dinding bejana atau pada bagian pencampur lainnya, atau juga membentuk gumpalan-gumpalan yang ikut berputar.
    – Muatan elektrostatik pada bahan juga dapat menyebabkan penggumpalan, khususnya pada partikel-partikel yang amat kecil (2/3 volume bejana) tidak memungkinkan pengguliran bahan secara intensif.
    – Frekuensi putaran bejana atau alat pencampur yang terlalu tinggi mengakibatkan bahan hanya berputar dalam bentuk lingkaran saja. Gerakan yang diinginkan (misalnya gerakan jatuh) tidak tercapai.🙂

    oleh : WIMALA PERMATASARI G1F010032

  12. Kartika Cahyaningtyas says:

    Bisa ajukan pertanyakan? Jelaskan secara singkat menganai pencampuran dengan reaksi kimia tertentu, misalnya klorinasi?
    thanks

  13. minati amalia says:

    nice share🙂 mau tanya nii ada ga sii faktor faktor yang ga menguntungkan dalam pencampuran padat padat ini? klo ada faktor apa saja ya? makasi,,

  14. wawan says:
    May 22, 2012 at 10:08 pm (Edit)

    saya hanya orang awam ,, jadi yg saya tanyakan bagaimana obat itu bekerja dalam tubuh manusia sebagai suatu penyembuh?

    Sebelumnya saya mengucapkan TERIMA KASIH atas pertanyaannya.
    Disini saya akan menjelaskan nasib obat dalam tubuh sehingga dapat terjadi adaya proses penyembuhan.

    Ada 2 istilah yang akan saya perkenalkan pada anda, yaitu: farmakokinetik dan farmakodinamik.

    “Farmakokinetik” adalah istilah yang menggambarkan bagaimana tubuh mengolah obat, kecepatan obat itu diserap(absorpsi), jumlah obat yang diserap tubuh(bioavailability), jumlah obat yang beredar dalam darah(distribusi), di metabolisme oleh tubuh, dan akhirnya dibuang dari tubuh. Farmakokinetik menentukan kecepatan mulai kerja obat, lama kerja dan intensitas efek obat. Farmakokinetik sangat tergantung pada usia, seks, genetik, dan kondisi kesehatan seseorang. Kondisi kesehatan maksudnya adalah, apakah seseorang itu sedang menderita sakit ginjal, sakit hati(beneran), kegemukan, kondisi dehidrasi, dll.

    “Penyerapan(absorbsi)” obat ditentukan oleh antara lain, bentuk sediaan( tablet, kapsul atau sirup), bahan pencampur obat, cara pemberian obat(apakah diminum, lewat suntikan, dihirup dll). Absorbsi obat sudah dimulai sejak di mulut, kemudian lambung, usus halus, dan usus besar. Tapi terjadi terutama di usus halus karena permukaannya yang luas, dan lapisan dinding mukosanya lebih permeabel. Jadi selain pemilihan obat oleh dokter harus tepat, kondisi tubuh juga menentukan. Misalnya jika kita lagi sakit “maag” atau lagi diare, yang akan mempengaruhi proses absorbsi obat.

    “Bioavailability” artinya jumlah dan kecepatan bahan obat aktif masuk ke dalam pembuluh darah, dan terutama ditentukan oleh dosis dari obat. Nah, dosis obat hanya bisa ditentukan oleh dokter yang memang belajar farmakologi. Dokter dan ahli farmasi yang belajar mulai dari obat itu terbuat dari apa, bagaimana kerja dan efek sampingnya, bagaimana menghitung dosisnya, berapa lama boleh di konsumsi dst.

    Setelah obat masuk dalam sirkulasi darah, kemudian di “distribusi”kan ke dalam jaringan tubuh. Distribusi obat ini tergantung pada rata-rata aliran darah pada organ target, massa dari organ target, dan karakteristik dinding pemisah diantara darah dan jaringan. Di dalam darah obat berada dalam bentuk bebas atau terikat dengan komponen darah albumin, gliko-protein dan lipo-protein, sebelum mencapai organ target. Albumin dan kawan-kawan ini adalah protein dalam tubuh kita, jadi bisa di tebak kan…..pada pasien-pasien yang kurang gizi berakibat kerja obat tidak efektif dan perlu penyesuaian dosis.

    Tempat utama “metabolisme” obat di hati, dan pada umumnya obat sudah dalam bentuk tidak aktif jika sampai di hati, hanya beberapa obat tetap dalam bentuk aktif sampai di hati. Obat-obatan di metabolisme dengan cara oksidasi, reduksi, hidrolisis, hidrasi, konjugasi, kondensasi atau isomerisasi, yang tujuannya supaya sisa obat mudah dibuang oleh tubuh lewat urin dan empedu. Kecepatan metabolisme pada tiap orang berbeda tergantung faktor genetik, penyakit yang menyertai(terutama penyakit hati dan gagal jantung), dan adanya interaksi diantara obat-obatan. Dengan bertambahnya umur, kemampuan metabolisme hati menurun sampai lebih dari 30% karena menurunnya volume dan aliran darah ke hati. Nahhh betul….juga untuk yang sakit hatinya(bukan yang karena mangkel deh) menyebabkan metabolisme obat menurun, sehingga sisa obat tidak efektif dibuang oleh tubuh. Disini dokter harus betul-betul tepat memberikan, apakah obat bisa diberikan pada pasien-pasien yang berpenyakit hati, kalau tidak justru akan memperberat kerja hati atau malah sisa obat tidak bisa dibuang oleh tubuh…dan anda keracunan deh.

    Ginjal adalah tempat utama “ekskresi”/ pembuangan obat. Sedangkan sistem billier membantu ekskresi untuk obat-obatan yang tidak di-absorbsi kembali dari sistem pencernaan. Sedangkan kontribusi dari intestin(usus), ludah, keringat, air susu ibu, dan lewat paru-paru kecil, kecuali untuk obat-obat anestesi yang dikeluarkan waktu ekshalasi. Metabolisme oleh hati membuat obat lebih “polar” dan larut air sehingga mudah di ekskresi oleh ginjal. Obat-obatan dengan berat lebih dari 300 g/mol yang termasuk grup polar dan “lipophilic” di ekskresikan lewat empedu. Ada beberapa obat yang pantang diberikan pada pasien-pasien dengan fungsi ginjal yang sudah jelek kerjanya….kalau anda tidak hati-hati dan salah makan obat bisa “mogok kerja” deh si ginjal. Saya perlu memberi tahu anda kalau gangguan ginjal itu sering kali diam-diam tapi menghanyutkan, dan akhirnya muncul dalam kondisi parah. Coba perhatikan apakah anda punya masalah sakit pinggang, sakit kencing, “anyang-anyangen” atau keluar batu waktu buang air kecil?. Coba periksakan supaya anda tidak menyesal di belakang hari.

    “Farmakodinamik” menggambarkan bagaimana obat bekerja dan mempengaruhi tubuh, melibatkan reseptor, post-reseptor dan interaksi kimia. Farmakokinetik dan farmakodinamik membantu menjelaskan hubungan antara dosis dan efek dari obat. Respon farmakologis tergantung pada ikatan obat pada target. Konsentrasi obat pada reseptor mempengaruhi efek obat.

    Farmakodinamik dipengaruhi oleh perubahan fisiologis tubuh seperti proses penuaan, penyakit atau adanya obat lain. Penyakit-penyakit yang mempengaruhi farmakodinamik contohnya adalah mutasi genetik, tirotoksikosis(penyakit gondok), malnutrisi(salah gizi) dll.

    Untuk gampangnya begini, jika kita sudah merasakan efek-efek obat timbul….misalnya, wow…migrain-ku lenyap setelah minum analgesik, diare-ku berhenti setelah minum “obat pengampet”, sesek-ku hilang setelah minum obat asthma, stress-ku hilang setelah lihat duit…eh minum obat penenang. Nah ini yang disebut dengan istilah farmakodinamik tadi.

    Ini dasarnya dulu ya, kalau anda sudah mengerti…kita akan belajar lebih dalam lagi.

    Pada dasarnya, saya mau menekankan kalau sesungguhnya obat-obatan itu tidak perlu-perlu amat buat tubuh kita selama kita memang tidak sedang sakit. Dengan catatan kita harus bisa menjaga kondisi tubuh fit, asupan makanan terpilih, cukup istirahat dan olah-raga, bisa mengelola stres dengan menyalurkannya lewat aktifitas positif…..hal-hal ini adalah obat yang sesungguhnya. Satu lagi, jangan lupa…”hati yang gembira adalah obat”. Salam!!!.

    OLEH : DEDY ISKANDAR G1F010034

  15. Bhaskara Maulana says:
    May 24, 2012 at 9:03 am (Edit)

    mau nanya, dalam pembuatan sediian emulsi kan di kenal dengan adanya emulsi primer atau korpus emulsi. bagaimana cara mengetahui sudah terbentuk korpus dalam pembuatan skala industri.? terimakasih,…

    Setahu saya pada pembuatan emulsi,dimana dapat dikatakan terbentuknya korpus emulsi terjadi pada saat proses pengadukan keras cepat sampai terbentuk campuran kental berwarna putih susu. Untuk skala industri prinsipnya sama saja. Dimana yang membedakan hanyalah komposisi bahan dalam skala industri lebih besar.

    contoh pembuatan emulsi :
    Masukkan minyak lemak dalam mortir kering –> tambahkan PGA–> aduk homogen–> tambahkan air 1,5 kali PGA sekaligus–> aduk keras cepat sampai terbentuk campuran kental berwarna putih susu (terjadi corpus emulsi)–> encerkan pelan-pelan dengan aqua hingga ad yang diminta –> botol–> tambahkan minyak atsiri terakhir di botol.

    OLEH : DEDY ISKANDAR G1F010034

  16. mau nanya, dalam pembuatan sediian emulsi kan di kenal dengan adanya emulsi primer atau korpus emulsi. bagaimana cara mengetahui sudah terbentuk korpus dalam pembuatan skala industri.? terimakasih,…

  17. Tri Ayu Apriyani says:
    May 21, 2012 at 1:03 am (Edit)
    Kelebihan dan kekurangan dari macam-macam pencampuran itu apa?? Bisa dijelasin gak???

    Thankyou mba ayu udah mampir plus ngasih pertanyaan🙂
    langsung dijawab untuk kekurangannya udlu yaaaa…

    Kekurangan dari proses pencampuran antara lain :

    1. Kadar kelembaban yang tinggi di dalam bahan atau yang sangat berbeda diantara bahan dapat mengakibatkan penggumpalan. Bahan tidak lagi dapat ditaburkan tetapi melekat pada dinding bejana atau pada bagian pencampur lainnya, atau juga membentuk gumpalan-gumpalan yang ikut berputar.

    2. Muatan elektrostatik pada bahan juga dapat menyebabkan penggumpalan, khususnya pada partikel-partikel yang amat kecil (2/3 volume bejana) tidak memungkinkan pengguliran bahan secara intensif.

    3. Frekuensi putaran bejana atau alat pencampur yang terlalu tinggi mengakibatkan bahan hanya berputar dalam bentuk lingkaran saja. Gerakan yang diinginkan (misalnya gerakan jatuh) tidak tercapai.

    OLEH : DEDY ISKANDAR G1F010034

  18. Ayaz g1f010055 says:
    May 22, 2012 at 10:06 pm (Edit)
    allo teman2 lama…ga nyangka kalian dapet tugas kaya gini.langsung aja deh, di artikel pada bagian alat pencampuran bahan padat – padat tercantum gambar planetary mixer sebagai contohnya..nah mekanisme kerja dari planetary mixer tu sendiri gimana ya??mungkin bisa dijelaskan..thanx

    hai juga ayas, iya nih tugasnya lebih update🙂, langsung dijawab aja ya yas!
    Planetary Mixer merupakan alat pencampuran bahan viskous, seperti pasta. Prinsip penerapan untuk mencampur bahan dengan viskositas yang tinggi dan berbentuk pasta, tergantung pada kontak langsung antara material pencampur dengan bahan yang akan dicampur. Dibandingkan dengan pencampuran pada bahan cair, proses pencampuran bahan yang viskous memerlukan tenaga yang lebih banyak. Hal ini disebabkan oleh pada bahan viskous tidak mungkin terbentuk arus aliran yang dapat memindahkan bagian bahan yang belum tercampur ke daerah pencampuran di sekitar impeller seperti pada pengadukan bahan cair. Sehingga proses pencampuran bahan pasta itu menjadi relatif lebih rumit.
    Planetary mixer terdiri dari wadah atau bejana yang bersifat stasioner sedangkan pengaduk yang digunakan mempunyai gerakan melingkar sehinggaketika berputar, pengaduk secara berulang mendatangi seluruh bagian pada bejana. Pada saat proses pencampuran berlangsung ruang pencampuran berada dalam keadaan tertutup. Hal itu dimaksudkan agar bahan yang sedang bercampur tidak sampai tumpah keluar karena perputaran dari pengaduk. Singkatnya mekanisme dari alat ini adalah kocokan mekanik, angkat dan jatuhkan dan menggelindingkan bahan. Planetary ini bekerja berdasarkan teori perputaran planet, dimana beater berputar mengitari bowl, dimana bowl tidak berputar. Sehingga menghasilkan adonan yang rata dan lembut. Impeller berputar untuk mencampur bahan sedangkan wadahnya tetap diam. Bahan-bahan yang akan dilakukan pencampurkan dimasukkan ke wadah melalui celah lubang yang tersedia pada mesin tersebut. Setelah itu mesin dapat dijalankan dengan menekan tombol on untuk memulai proses pencampuran. Pengaduk yang digunakan beraneka ragam sesuai dengan jenis bahan yang diolah.

    Karakteristik proses pencampuran pada planetary mixer antara lain:
    (1)Bahan padat dapat mengalir
    (2) Prinsip hampir sama dengan pencampuran bahanviscous
    (3) Membutuhkan tenaga yang lebih ringan/kecil dari pada pencampuran bahan pasta
    (4) Tidak ada aliran bahan ke pengaduk dengan sendirinya.

    oleh : WIMALA PERMATA SARI G1F010032

  19. wawan says:

    saya hanya orang awam ,, jadi yg saya tanyakan bagaimana obat itu bekerja dalam tubuh manusia sebagai suatu penyembuh?

  20. Ayaz g1f010055 says:

    allo teman2 lama…ga nyangka kalian dapet tugas kaya gini.langsung aja deh, di artikel pada bagian alat pencampuran bahan padat – padat tercantum gambar planetary mixer sebagai contohnya..nah mekanisme kerja dari planetary mixer tu sendiri gimana ya??mungkin bisa dijelaskan..thanx.

  21. Rizki Bayu Aji says:
    May 22, 2012 at 3:05 pm (Edit)
    Aliran yang turbulen dan laju alir bahan yang tinggi biasanya menguntungkan proses pencampuran. Sebaliknya, aliran yang laminar dapat menggagalkan pencampuran.’ bisa lebih diperjelas kenapa turbulen aliran berdampak langsung dengan Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pencampuran, waktu pencampuran dan energi yang diperlukan untuk
    pencampuran ?? terimakasihh

    thanks rizki pertanyaannya😀
    Pencampuran yang terjadi didalam aliran laminar yang melalui suatu kolom atau pipa biasanya kurang berkesan. Pencampuran yang kurang berkesan akan menyebabkan tingkat perpindahan panas dan perpindahan masa menjadi rendah. Pencampuran juga menghambat banyak proses seperti reaksi kimia yang terjadi dan kemurnian produk. Untuk itu pola aliran pada suatu proses pencampuran haruslah turbulen (acak) supaya waktu yang diperlukan sedikit.
    Aliran luminal sendiri merupakan aliran yang jarang terjadi pada air dan tidak begitu penting dalam aliran udara, tapi ini terjadi dalam viscosity fluida yang tinggi seperti campuran sediment dalam air, es, & lava. Alirannya relatief mempunyai kecepatan rendah dan fluidanya bergerak sejajar (laminae) & mempunyai batasan-batasan yang berisi aliran fluida. Aliran laminar adalah aliran fluida tanpa arus turbulent ( pusaran air ). Partikel fluida mengalir atau bergerak dengan bentuk garis lurus dan sejajar. Laminar adalah ciri dari arus yang berkecepatan rendah, dan partikel sedimen dalam zona aliran berpindah dengan menggelinding (rolling) ataupun terangkat (saltation). Sementara pada aliran turbulent massa air bergerak keatas, kebawah, dan secara lateral berhubungan dengan arah arus yang umum, memindahkan massa dan momentum. Dengan gerakan tidak beraturan seperti itu, massa atau gumpalan fluida akan mempunyai percepatan menyimpang yang hanya sedikit persentasinya dari kecepatan rata-rata, meskipun begitu arus turbulen bersifat menentukan arus, sebab turbulen menjaga patikel-partikel dalam suspensi, secara konstan.
    Waktu pencampuran adalah waktu yang dibutuhkan fluida utnuk bercampur merata keseluruh tangki sehingga campuran bersifat homogen. Perbedaan aliran fluida memberikan hasil waktu pencampuran yang berbeda. Perbedaan itu terjadi karena efektivitas aliran yang dihasilkan oleh pengaduk untuk menjangkau seluruh tangki berbeda. Semakin efektiv aliran yang dihasilkan oleh pengaduk maka semakin sedikit waktu pencampuran yang dibutuhkan, dan aliran yang paling efektiv untuk menghasilkan waktu pencampuran yang singkat adalah aliran turbulent. Oleh karena itu aliran turbulen yang tinggi menguntungkan proses pencampuran.

    oleh : RUPA LESTY G1F009059

  22. jawaban untuk pertanyaan mas ikhwan yang nomor 2🙂

    proses kualifikasi untuk alat pencampur dilihat dari 2 aspek yaitu :

    a. Desain dan konstruksi
    1) Peralatan yang digunakan tidak boleh bereaksi atau menimbulkan akibat bagi bahan yang diolah.
    2) Peralatan dapat dibersihkan dengan mudah baik bagian dalam maupun bagian luar serta peralatan tersebut tidak boleh menimbulkan akibat yang merugikan terhadap produk.
    3) Semua peralatan yang dipakai dalam pengolahan bahan kimia yang mudah terbakar, atau ditempatkan di daerah di mana digunakan bahan yang mudah terbakar, hendaklah dilengkapi dengan perlengkapan elektris yang kedap eksplosif serta dibumikan dengan sempurna.
    4) Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji dan mencatat hendaklah dikalibrasi menurut suatu program dan prosedur yang tepat.

    b. Pemasangan dan penempatan
    1) Pemasangan dan penempatan peralatan diatur sedemikian rupa sehingga proses produksi dapat berjalan secara efektif dan efisien.
    2) Saluran air, uap, udara bertekanan atau hampa udara hendaklah dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dicapai selama kegiatan berlangsung.
    3) Tiap peralatan utama hendaklah diberi nomor pengenal yang jelas.
    4) Semua pipa, tangki, selubung pipa uap atau pipa pendingin hendaklah diberi isolasi yang baik untuk mencegah kemungkinan terjadinya cacat dan memperkecil kehilangan energi.

    oleh : WIMALA PERMATA SARI G1F010032

  23. Aliran yang turbulen dan laju alir bahan yang tinggi biasanya menguntungkan proses pencampuran. Sebaliknya, aliran yang laminar dapat menggagalkan pencampuran.’ bisa lebih diperjelas kenapa turbulen aliran berdampak langsung dengan Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pencampuran, waktu pencampuran dan energi yang diperlukan untuk
    pencampuran ?? terimakasihh

  24. Derrida Pariputra says:
    May 22, 2012 at 2:02 pm (Edit)
    nice thread, nambah wawasan, dan kaget ternyata ada yang menyuruh bikin tugas begini, bagus keep up pada pembahasan pencampuran gas dengan cair, ada contoh Oksidasi cairan oleh udara. bisa tolong dijelaskan lebih dalam lagi?

    terimakasih derry pertanyannya, semoga artikelnya bermanfaat yaa🙂
    salah satu contoh oksidasi cairan oleh udara adalah fermentasi, memasukkan udara kedalam lumpur dalam instalasi penjernih biologis. Dewasa ini metode lumpur aktif merupakan metode pengolahan air limbahyang paling banyak dipergunakan, termasuk di Indonesia, hal ini mengingat metode lumpur aktif dapat dipergunakan untuk mengolah air limbah dari berbagai jenis industri seperti industri pangan, perhotelan, rumah tinggal, sekolah, bahan pabrik dan lain sebaginya.
    Di dalam proses ini air limbah diolah dengan cara menambahkan oksigen agar bahan-bahan organik biodegradable dapat terurai menjadi bahan-bahan yang lebih stabil. Prinsip dari pengolahan lumpur aktif ini adalah mengubah gumpalan-gumpalan yang terdapat dalam limbah menjadi larutan benda-benda organik, baik yang mudah mengendap maupun berbentuk kotoran yang mudah mengambang di dalam air limbah yang dapat dipisahkan dari air. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi. Parameter-parameter kontrol yang harus selalu dipantau antara lain: pH, COD, BOD, suspended solid dan suhu.

    oleh : RUPA LESTY G1F009059

  25. tiya says:
    May 22, 2012 at 9:05 am (Edit)
    artikelnya menarik bagus dan menambah pengetahuan baru untuk saya.

    terimakasih tiya, semoga artikelnya bermanfaat ya🙂

  26. nice thread, nambah wawasan, dan kaget ternyata ada yang menyuruh bikin tugas begini, bagus keep up😀 pada pembahasan pencampuran gas dengan cair, ada contoh Oksidasi cairan oleh udara. bisa tolong dijelaskan lebih dalam lagi?

  27. tiya says:

    artikelnya menarik bagus dan menambah pengetahuan baru untuk saya.

  28. Nama : Okty fitria
    NIM: G1F010054

    Boleh minta tolong,lebih dijelasin tentang beberapa metode perawatan perlu diperhatikan
    agar pengadukan efektif.

    Trus kalo di industri pencampuran basis yang perlu dipanasin itu gimana ya caranya?

    Thx

    thankyou pertanyaannya okty🙂

    Untuk metode perawatan agar proses pengadukan tetap efektif adalah mengkondisikan pengaduk agar dapat berputar sesuai dengan kondisi operasi yang diinginkan yaitu dengan jalan memberikan pelumas pada tangki pengaduk dan juga semua peralatan dijaga jangan cepat berkarat terutama yang terbuat dari logam besi dengan jalan membersihkan dari karat dengan mengamplas dan memoles.

    untuk pencampuran basis yang perlu dipanaskan salah satu contohnya dalam pembuatan supositoria menggunakan metode pencetakan dengan penuangan. Teknik ini juga sering disebut sebagai teknik pelelehan. Cara ini dapat dipakai untuk membuat suppositoria dengan hampir semua pembawa. Cetakannya dapat digunakan untuk membuat 6 – 600 suppositoria. Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode ini ialah melelehkan/ memanaskan bahan pembawa dalam penangas air hingga homogen, basis dileburkan dan disatukan dengan bahan obat. Pada saat peleburan massa harus diperhatikan, bahwa suhu tidak naik terlalu tinggi dan tidak terbentuk leburan yang jernih agar dapat mengurangi proses sedimentasi bahan obat. Pada saat penuangan, leburan massa memiliki viskositas setinggi mungkin dan suhunya hanya sedikit diatas titik bekunya. Hal ini dapat dicapai melalui pemanasan yang sangat hati-hati. Pada saat penuangan, sebaiknya campuran berada dalam bentuk sejenis krim, artinya di dalam massa, dimana bagian yang melebur dan tidak melebur terletak berdampingan. Basahi cetakan dengan lubrikan untuk mencegah melekatnya suppositoria pada dinding cetakan, menuang hasil leburan menjadi suppo, selanjutnya pendinginan bertahap (pada awalnya di suhu kamar, lalu pada lemari pendingin bersuhu 7-10 0C, lalu melepaskan suppo dari cetakan. Cetakan yang umum digunakan sekarang terbuat dari baj a tahan karat, aluminium, tembaga atau plastik.
    oleh RUPA LESTY G1F009059

  29. Ikhwan Yuda K says:
    May 22, 2012 at 3:02 am (Edit)
    Bertanya nih… :
    1. Aspek CPOB apa saja yang berperan dalam prosedur pencampuran dan pemilihan alat pencampur, serta validasi proses pencampuran bahan?
    2. Proses kualifikasi seperti apa yah yang perlu di lakukan untuk mengetahui bahwa alat campur yang kita gunakan itu memenuhi syarat?
    3. Bagaimana pengaruh sifat fisika-kima bahan obat dalam pencampuran obat?

    Udah itu aja dulu ya…. Dtggu jawabannya…

    thankyou kak ikhwan pertanyaannya, ini jawaban yang nomor satu dulu yah🙂

    aspek CPOB merupakan suatu konsep dalam industri farmasi mengenai prosedur atau langkah-langkah yang dilakukan dalam suatu industri farmasi untuk menjamin mutu obat jadi, yang diproduksi dengan menerapkan “Good Manufacturing Practices” dalam seluruh aspek dan rangkaian kegiatan produksi sehingga obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Aspek CPOB sesuai dengan Badan POM meliputi 12 aspek yaitu: manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri dan audit mutu, penanganan keluhan produk dan penarikan kembali produk dan produk kembalian, dokumentasi, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak, kualifikasi dan validasi.
    Aspek CPOB yang berperan dalam prosedur pencampuran dan pemilihan alat campur adalah manajemen mutu, personalia, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi.

    1. Manajemen mutu
    Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan resiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Manajemen mutu bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu “Kebijakan Mutu”, yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari semua jajaran di semua departemen di dalam perusahaan, para pemasok dan para distributor. Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan diperlukan manajemen mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar (BPOM, 2006).
    Untuk melaksanakan Kebijakan Mutu dibutuhkan 2 unsur dasar yaitu :
    a. Sistem mutu yang mengatur struktur organisasi, tanggung jawab dan kewajiban semua sumber daya yang diperlukan, semua prosedur yang mengatur proses yang ada.
    b. Tindakan sistematis untuk melaksanakan system mutu, yang disebut dengan pemastian mutu atau Quality Assurance (QA) (BPOM 2009).

    2. Personalia
    Suatu industri farmasi bertanggung jawab menyediakan personil yang sehat, terkualifikasi dan dalam jumlah yang memadai agar proses produksi dapat berjalan dengan baik. Semua personil harus memahami prinsip CPOB agar produk yang dihasilkan bermutu (BPOM 2009).

    3. Peralatan
    Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dankonstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dandikualifikasi dengan tepat agar mutu obat terjamin sesuai desain sertaseragam dari bets ke bets dan untuk memudahkan pembersihan serta perawatan (BPOM, 2006).

    4. Sanitasi dan Hygiene
    Tingkat sanitasi dan hygiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap aspek pembuatan obat. Ruang lingkup meliputi personalia, bangunan, peralatan, dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, dan setiap hal yang dapat merupakan sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan hygiene yang menyeluruh serta terpadu. Sanitasi dan hygiene yang diatur dalam pedoman CPOB 2006 adalah terhadap personalia, bangunan, dan peralatan. Prosedur sanitasi dan hygiene hendaklah divalidasi serta dievaluasi secara berkala untuk memastikanefektivitas prosedur dan selalu memenuhi persyaratan.

    5. Produksi
    Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang senantiasa dapat menjamin produk obat jadi dan memenuhi ketentuan izin pembuatan serta izin edar (registrasi) sesuai dengan spesifikasinya (BPOM, 2006). Selain itu, produksi baiknya dilakukan dan diawasi oleh personil yang kompeten. Prinsip utama produksi adalah :
    a. Adanya keseragaman atau homogenitas dari bets ke bets.
    b. Proses produksi dan pengemasan senantiasa menghasilkan produk yang seidentik mungkin (dalam batas syarat mutu) baik bagi bets yang sudah diproduksi maupun yang akan diproduksi

    Untuk validasi, istilah Validasi pertama kali dicetuskan oleh Dr. Bernard T. Loftus, Direktur Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat pada akhir tahun 1970-an, sebagai bagian penting dari upaya untuk meningkatkan mutu produk industri farmasi. Hal ini dilatar belakangi adanya berbagai masalah mutu yang timbul pada saat itu yang mana masalah-masalah tersebut tidak terdeteksi dari pengujian rutin yang dilaksanakan oleh industri farmasi yang bersangkutan.

    contoh validasi proses pencampuran pada pembuatan tablet :
    Solid dose mixing:
    o Homogenitas dalam pencampuran – kunci untuk kualitas!
    Dalam produksi farmasi, langkah pencampuran (baik untuk solid – atau cair – bentuk dosis) adalah salah satu yang paling penting dalam proses. Jenis blender, beban,waktu dan kecepatan adalah parameter yang paling kritis. Selain itu, kepadatan,ukuran partikel dan kelembaban atau isi pelarut bubuk semua mempengaruhi waktuuntuk mencapai campuran homogen.Perubahan kecil (sesuai spesifikasi), yang hadir dalam bahan awal untuk campuranapapun.
    o strategi pengambilan sampel
    Strategi pengambilan sampel: jumlah sampel yang akan diambil dan lokasi sampel harus ditentukan. Sampel dapat diuji secara individual untuk memvalidasi tahap pencampuran atau granulasi dosis rendah produksi tablet dengan menggunakan tablet atau kapsul “konten keseragaman” tes.
    o Situs contoh, label, wadah
    Sampel harus benar diberi label dengan tanggal, waktu, lokasi, batch rincian, sampler.Wadah sampel harus sesuai: udara ketat, inert, dll.
    o Penyimpanan
    Sampel perlu hati-hati ditangani, disimpan, dan diangkut ke laboratorium untuk menghindari de-pencampuran atau patahan menyerpihkan ini. Analisis harus dimulaisegera untuk menghindari kerusakan sampel.
    o Transportasi
    o Dosis pencampuran solid
    Analisis harus dimulai segera untuk menghindari kerusakan sampel. Sampling Probe: diambil sampel dari beberapa kedalaman seluruh blender. Volume yang diambil harus dalam proporsi massa dosis unit. Metode ini meraih sampel, penggalian dan melakukan analisis kimia basah berpotensi tidak akurat dan tentu saja memakan waktu.

    oleh : RUPA LESTY G1F009059

  30. Bertanya nih… :
    1. Aspek CPOB apa saja yang berperan dalam prosedur pencampuran dan pemilihan alat pencampur, serta validasi proses pencampuran bahan?
    2. Proses kualifikasi seperti apa yah yang perlu di lakukan untuk mengetahui bahwa alat campur yang kita gunakan itu memenuhi syarat?
    3. Bagaimana pengaruh sifat fisika-kima bahan obat dalam pencampuran obat?

    Udah itu aja dulu ya…. Dtggu jawabannya…

  31. sama-sama, terimakasih juga buat pertanyaannya.
    oke itu udah disent kemailnya yaaa🙂

  32. Pharmassip says:

    Terima kasih Rupa Lesty atas penjelasannya yang luar biasa lengkap..
    Bisa saya dapatkan sumber pustaka dari jawaban tersebut ? email saja…
    Sesekali kunjungi juga blog saya mengenai ilmu-ilmu farmasi molekuler di pharmassip.blogspot.com…

  33. Nurul says:
    May 21, 2012 at 4:49 am (Edit)
    Bagus… dan kata-katanya mudah dimengerti….

    thanks😀

  34. Pure inspiring says:
    May 21, 2012 at 1:11 am (Edit)
    Bagaimana dengan suhu/pemanasan ? Bukankah itu juga mempengaruhi pencampuran ? Susunan posting yang bagus.

    Faktor-faktor utama yang mempengaruhi proses pencampuran adalah : aliran ,ukuran partikel, dan kelarutan seperti yang udah dijelasin diatas. Untuk suhu/pemanasan, tidak semua proses pencampuran disertai dengan pemanasan sehingga penentuan suhu selama proses pencampuran disesuaikan dengan sifat fisika dan kimia dari zat aktif yang akan dicampurkan.

    oleh : WIMALA PERMATA SARI G1F010032

  35. Pharmassip says:
    May 21, 2012 at 1:00 am (Edit)
    Tulisan yang cukup menarik, bisa tolong dijelaskan mengenai proses hidrogenasi, khorinasi dan fosfogensi pada pencampuran bahan gas-cair ?

    thanks pertanyaannya🙂
    Hidrogenasi adalah istilah yang merujuk pada reaksi kimia yang menghasilkan adisi hidrogen(H2). Proses ini biasanya terdiri dari adisi sepasang atom hidrogen ke sebuah molekul. Penggunaan katalis diperlukan supaya reaksi berjalan efisien dan dapat digunakan sementara hidrogenasi non-katalitik hanya berjalan dengan kondisi temperatur yang sangat tinggi. Hidrogen beradisi ke ikatan rankap dua dan tiga hidrokarbon.
    Hidrogenasi berbeda dengan protonasi atau adisi hidrida, pada hidrogenasi produk yang dihasilkan mempunyai muatan yang sama dengan reaktan.
    Contoh reaksi hidrogenasi adalah adisi hidrogen ke asam maleat, menghasilkan asam suksinat. Beberapa aplikasi penting hidrogenasi selain farmasi ditemukan juga dalam bidang petrokimia, dan industri makanan. Hidrogenasi lemak takjenuh menghasilkan lemak jenuh, dan kadang pula lemak trans.

    Reaksi hidrogenasi berbeda dengan protonasi atau adisi hidrida di mana hasil reaksi memiliki muatan yang berbeda dengan reaktannya; hidrogenasi memiliki hasil reaksi yang sama dengan reaktannya.

    khlorinasi (chlorination) adalah proses pemberian klorin ke dalam air yang telah menjalani proses filtrasi dan merupakan langkah yang maju dalam proses purifikasi air. Klorin merupakan salah satu senyawa kimia yang dapat membahayakan kehidupan biota lain, terutama turunannya dalam bentuk asam hipoklorit (HClO) dan kloramin (NH2Cl). Senyawa-senyawa klor yang umum digunakan dalam proses klorinasi, antara lain gas klorin, senyawa hipoklorit, klor dioksida, bromine klorida, dihidroisosianurate dan kloramin.

    Proses klorinasi yag dilakukan pada air yang mengandung bahan-bahan organik dengan konsentrasi tinggi akan membentuk senyawa halogen organik yang mudah menguap (volatile halogenated organics), biasa disingkat VHO. Senyawa-senyawa VHO tersebut sebagian besar ditemukan dalam bentuk trihalomethane (THM). THM dapat ditemukan pada jenis air minum, air kolam renang, air permukaan dan air tanah. Proses klorinasi pada air yang mengandung bahan organik dapat mengakibatkan terbentuknya THM yang berbahaya bagi kesehatan. Untuk menurunkan konsentrasinya dalam air yang akan menjalani klorinasi harus dihilangkan dahulu penyebabnya, yaitu zat-zat organik. Selain itu dapat juga dilakukan penggantian desinfektan yang tidak menyebabkan terbentuknya THM.

    oleh : RUPA LESTY G1F009059

  36. Nurul says:

    Bagus… dan kata-katanya mudah dimengerti….

  37. Bagaimana dengan suhu/pemanasan ? Bukankah itu juga mempengaruhi pencampuran ? Susunan posting yang bagus.

  38. Tri Ayu Apriyani says:

    Kelebihan dan kekurangan dari macam-macam pencampuran itu apa?? Bisa dijelasin gak???

  39. Pharmassip says:

    Tulisan yang cukup menarik, bisa tolong dijelaskan mengenai proses hidrogenasi, khorinasi dan fosfogensi pada pencampuran bahan gas-cair ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s