OUTSOURCING, STRATEGI MERAUP PROFIT DARI SISTEM PRODUKSI YANG EFISIEN


OUTSOURCING, STRATEGI MERAUP PROFIT DARI SISTEM PRODUKSI YANG EFISIEN

 

 

Aghita Purwaningsih (G1F009046)

Rizqi Permata H (G1F009045)

Puji Lestari (G1F009047)

 

Jurusan Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Jln. Dr. Soeparno Karangwangkal, Purwokerto, Jawa Tengah

________________________________________________

ABSTRAK

Perusahan farmasi selalu berusaha mencari jalan agar produksinya meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas. Efisiensi dan penghematan biaya operasional merupakan alasan mengapa outsourcing semakin marak di industri farmasi. Dalam Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) terbitan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2006, istilah tersebut termasuk dalam Bab 11 yaitu Pembuatandan Analisis Berdasarkan Kontrak. Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak (toll) terbagi menjadi dua, yaitu toll in dan toll out. Toll out yaitu proses produksi obat dengan mempergunakan fasilitas produksi perusahaan farmasi lainnya khusus produk-produk yang fasilitas produksinya belum dimiliki atau kapasitas produksi pabrik telah maksimum. Di samping itu, suatu perusahaan juga dapat mengerjakan toll in dari perusahaan farmasi lainnya, khususnya untuk fasilitas produksi yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Keywords: oursourcing , toll in toll out , kontrak , CPOB

________________________________________________

Pendahuluan

Cost reduction dan efisiensi adalah salah satu faktor pendukung maraknya outsourcing di industri farmasi atau kadang dikenal juga dengan istilah toll-in dan toll-out atau contract-manufacturing. Walau hanya 54,5% dari perusahaan farmasi meng-outsource (alih-daya) kurang dari setengah dari manufaktur global mereka, 18,2% perusahaan farmasi saat ini menggunakan outsourcing untuk setidaknya 91% dari output mereka, menurut survei terbaru oleh Pharma IQ, seperti diberitakan di Industry Week. Laporan sebelumnya dari analis Global Industri memperkirakan bahwa pasar kontrak manufaktur farmasi global akan mencapai nilai total lebih dari $ 40.7 Milyar (atau sekitar 350 Trilliun Rupiah) pada tahun 2015 (Anonim, 2011).

Definisi Outsourcing

Beberapa pakar serta praktisi outsourcing dari Indonesia memberikan definisi mengenai outsourcing atau alih daya, yaitu pendelegasian operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (perusahaan jasa outsourcing).  Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Muzni Tambusai, Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Departemen Tenaga Kerjadan Transmigrasi yang mendefinisikan pengertian outsourcing (alih daya) sebagai memborongkan satu bagian atau beberapa bagian kegiatan perusahaan yang sebelumnya dikelolasendiri, kepada perusahaan lain yang kemudian disebut sebagai penerima pekerjaan.

Outsourcing dalam CPOB

Dalam Pedoman Cara Pembuatan ObatyangBaik (CPOB) terbitan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2006, istilah tersebut termasuk dalam Bab 11 yaitu Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak. Dalam kerjasama pembuatan obat berdasarkan kontrak, ada pihak pemberi kontrak dan penerima kontrak (Anonim, 2006). Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar, disetujui, dan dikendalikan untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat menyebabkan proses atau produk menjadi tidak sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan. Kontrak tertulis antara pemberi kontrak maupun penerima kontrak harus dibuat secara jelas dan rinci, terutama mengenai tanggung jawab, kewajiban, dan hak masing-masing pihak (Slamet, 2006)

Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak (toll) terbagi menjadi dua, yaitu toll in dan toll out. Toll terjadi misalnya ketika suatu pabrik (misalnya Pabrik A) meminta pabrik lain (misalnya pabrik B) untuk membuat suatu produk obat bagi pabrik A berdasarkan atas perjanjian kerjasama. Pabrik A ini disebut sebagai pihak yang melakukan toll out (Principal), sedangkan Pabrik B disebut sebagai pihak yang menerima toll in (Maklon).

Toll out yaitu proses produksi obat dengan mempergunakan fasilitas produksi perusahaan farmasi lainnya khusus produk-produk yang fasilitas produksinya belum dimiliki atau kapasitas produksi pabrik telah maksimum. Disamping itu, suatu perusahaan juga dapat mengerjakan toll in dari perusahaan farmasi lainnya, khususnya untuk fasilitas produksi yang belum dimanfaatkan secara optimal (Anonim, 2005)

Banyak industri farmasi dunia yang saat ini tengah bergerak kearah organisasi pembuatan obat berdasarkan kontrak (CMOs = Contract Manufacturing Organizations). Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efektifitas biaya dan efektifitas kapasitas. Tujuan lainnya adalah untuk mempercepat waktu tercapainya produk sampai ke pasar (time-to-market).

Beberapa alasan berkembangnya pembuatan obat berdasarkan kontrak :

  • Perusahaan farmasi berinvestasi tinggi untuk membangun pabrik farmasi beserta biaya perawatan terus meningkat.
  • Perusahaan farmasi menghadapi biaya tinggi untuk meng-upgrade peralatan yang dimiliki agar dapat mengikuti teknologi baru yang lebih canggih
  • Perusahaan farmasi memperkerjakan para tenaga professional yang memiliki kompetensi tinggi
  • Pengembangan dan produksi obat membutuhkan waktu relatif lama dan proses yang sangat mahal dengan pengerahan banyak tenaga kerja.
  • Perusahaan farmasi harus memenuhi persyaratan produksi obat yang semakin ketat
  • Adanya tekanan untuk menurunkan harga obat

Memilih Penerima Kontrak yang Tepat

Tahap pemilihan penerima kontrak, dapat menjadi tahapan yang memakan waktu dan merupakan prosedur yang menantang. Meskipun demikian, dapat disusun persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh penerima kontrak sehingga dapat digunakan sebagai pedoman untuk menentukan pilihan yang tepat. Pemberi kontrak harus memiliki pola pikir yang sama dalam pengembangan proses produksi dan melakukan pendekatan terkait kesepakatan dengan penerima kontrak (Arnum, 2010).

Penerima kontrak harus mempunyai gedung dan peralatan yang cukup, pengetahuan, pengalaman, dan personil yang kompeten untuk melakukan pekerjaan yang diberikan oleh Pemberi Kontrak. Pembuatan obat berdasarkan kontrak hanya dapat dilakukan oleh industri farmasi yang memiliki sertifikat CPOB yang diterbitkan oleh Otoritas Pengawasan Obat (OPO) (Slamet, 2006).

Penerima kontrak harus memiliki suatu prosedur teknologi yang canggih dan sistem yang berkualitas untuk secara efektif memproduksi dan menguji produk (Arnum, 2010). Faktor penting lain yang digunakan sebagai pertimbangan pada saat pemilihan adalah harga produk, biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk mentransfer teknologi secara lengkap. Pemberi kontrak juga perlu mendapatkan jaminan bahwa penerima kontrak mampu memproduksi obat dengan kualitas yang tinggi, termasuk kualitas pengemasannya, dan juga bisa dipercaya untuk mengirimkan produk sesuai jadwal. Pemberi kontrak perlu untuk menentukan key performance indicator yang mengukur delivery vs clear and demanding target (Anonim, 2006)

 

Kriteria menjadi Penerima Kontrak

Untuk menjadi perusahaan farmasi penerima kontrak diperlukan pemenuhan terhadap empat kriteria.

1. Dossier / berkas harus diperbaharui dan ditingkatkan.

Dossier merupakan kumpulan dokumentasi yang komprehensif, profesional tentang bahan baku farmasi yang terus bertambah. Dossier juga dapat diartikan sebagai kumpulan dokumen-dokumen tentang produk obat yang berisi spesifikasi produk jadi dan bagan baku, sertifikat analisa bahan baku, dan data stabilitas produk obat. Dossier farmasi ini bisa menjadi jaminan bahwa validasi proses telah menjadi bagian yang terintegrasi dari sistem dokumentasi. Formulasi yang jelas dan rinci, spesifikasi bahan baku, detail mengenai kemasan dan informasi produk jadi harus dimasukkan ke dalam penyusunan dokumen baru.

2. Studi stabilitas

Dibutuhkan suatu perubahan terutama bila digunakan untuk memperbaiki stabilitas produk atau menaikkan efisiensi produksi. Studi stabilitas yang berkaitan dengan perbaikan dan peningkatan pengembangan metode analisa. Diperlukan dan kemudian didokumentasikan sebagai bagian dari prosedur validasi.

3. Validasi proses baru

Tim yang terdiri dari farmasis dan teknisi diperlukan untuk memfasilitasi dan memperbaiki validasi proses produk baru dan menjamin kepatuhannya terhadap standar CPOB yang ketat.

4. Pembaruan proses produksi secara berkelanjutan

Bertujuan mengevaluasi, memperbaiki dan meningkatkan efisiensi agar diperoleh produk dengan kualitas yang semakin tinggi dengan biaya serendah mungkin.

 

Kesimpulan

Produksi farmasi adalah arena dengan kompetisi yang tinggi dan menantang. Perusahaan dihadapkan pada terus meningkatnya biaya produksi dan tuntutan penurunan harga obat. Tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh selain menanamkan investasi dan meng-upgrade kemampuan, dalam hal ini industri farmasi agar bisa terus bertahan.

Melakukan outsourcing produksi kepada perusahaan lain telah menjadi solusi yang bisa dihadapkan pada tantangan ini. Perusahaan farmasi yang mengkhususkan diri sebagai penerima kontrak harus berpikir maju dan inovatif, menguasai betul persyaratan yang dibutuhkan secara spesifik oleh vendor farmasi dan bisa menyatukan keseluruhan proses manufaktur sehingga dapat menyediakan produk dengan kualitas tinggi, kompetitif dan profitable. Stabilitas financial jangka panjang juga menjadi prasyarat untuk menjamin kelangsungan suplai produk.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Gambaran Umum PT. Indofarma (Persero) Tbk. http://thesis.binus.ac.id/Asli/Bab3/LHM2005-13-bab3.pdf. Diakses tanggal 10 Juni 2012.

Anonim. 2006. Toll Out dan Toll In untuk Efisiensi Waktu dan Biaya (Pharpros). http://www.ptphapros.co.id/article.php?m=Article&aid=98&lg=in#. Diakses tanggal 10 Juni 2012.

Anonim. 2011. Peningkatkan Profit Farmasilewat Outsourcing. http://sscxinternational.com/peningkatkan-profit-farmasi-lewat-outsourcing/. Diakses tanggal 10 Juni 2012.

Arnum, Patricia Van. 2010. Quality by Design : Adding Another Dimension to Outsourcing. http://www.pharmtech.com/pharmtech/Article/Quality-by-Design-Adding-Another-Dimension-to-Outs/ArticleStandard/Article/detail/651073. Diakses tanggal 10 Juni 2012

Slamet, Lucky. S. 2006. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (Guidelines on Good Manufacturing). Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jakarta

About these ads
This entry was posted in TSF 2009-B, TSF Mahasiswa 2009. Bookmark the permalink.

4 Responses to OUTSOURCING, STRATEGI MERAUP PROFIT DARI SISTEM PRODUKSI YANG EFISIEN

  1. Rizqi Permata H (G1F009045) says:

    menjawab pertanyaa opip : untuk industri obat-obat tradisional juga memiliki CPOB, yang biasa disebut CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik).

  2. opip says:

    mba, kalo obat-obat tradisonal gitu si ada CPOBnya jg ngga? apa CPOB cuma buat obat-obat sintetis?

  3. Rizqi Permata H (G1F009045) says:

    ada… bisa dilihat di Pedoman CPOB Bab 11…
    disitu ada beberapa syarat, seperti :
    1. pemberi kontrak bertanggung jawab untuk menilai kompetensi Penerima Kontrak dalam melaksanakan pekerjaan atau pengujian yang diperlukan dan memastikan bahwa prinsip dan pedoman CPOB diikuti.
    2. Pemberi Kontrak hendaklah menyediakan semua informasi yang diperlukan kepada Penerima Kontrak untuk melaksanakan pekerjaan kontrak secara benar sesuai izin edar dan persyaratan legal lain. Pemberi Kontrak hendaklah memastikan bahwa Penerima Kontrak memahami sepenuhnya masalah yang berkaitan dengan produk atau pekerjaan atau pengujian yang dapat membahayakan gedung, peralatan, personil, bahan atau produk lain.
    3. Pemberi Kontrak hendaklah memastikan bahwa semua produk yang diproses dan bahan yang dikirimkan oleh Penerima Kontrak memenuhi spesifikasi yang ditetapkan atau produk telah diluluskan oleh kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu)

  4. sanu says:

    kaka kakaa…mau tanya donk… hehe
    di situ kan dijelasi ttg syarat ato kriteria penerima kontra. gmn dengan pemberi kontraknya? ada syarat2 ga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s