BERBAGAI TEKNIK PENGEMASAN PRODUK FARMASI


Disusun Oleh :

Pundi Anugrah                G1F008020

Prima Andikacitra           G1F008052

Rofik Kundari                  G1F008018

_________________________________________________

Abstract

      Pengemasan merupakan suatu metode yang memberikan kenyamanan, identifikasi, penyajian, dan perlindungan terhadap suatu sediaan obat sampai dikonsumsi. Pengemasan produk farmasi dilakukan dengan beberapa teknik yang sesuai dengan peranan dan fungsi dari kemasan produk yang akan diproduksi, seperti Strip packaging, Blister pack, Pengemasan bulk produk dan teknik pengemasan lain yang memiliki fungsi dan kelebihan masing-masing.

Keywords : Teknik Pengemasan, Kemasan Strip, Peran Kemasan,

Proses pengemasan merupakan salah satu tahapan penting dalam pembuatan sediaan farmasi. Tahapan ini juga ikut mempengaruhi stabilitas dan mutu produk akhir. Bahkan belakangan ini, faktor kemasan dapat menjadi gambaran ukuran bonafiditas suatu produk/perusahaan farmasi (Kurniawan, 2012). Untuk menjamin stabilitas produk, harus ditetapkan syarat yang sangat tegas terhadap bahan kemas primer, yang seringkali menyatu dengan seluruh bahan yang diisikan baik berupa cairan dan semi padatan. Bahan kemas sekunder pada umumnya tidak berpengaruh terhadap stabilitas (Voigt, 1995).

Berbagai Kemasan Obat

Pengemasan adalah wadah atau pembungkus yang dapat membantu mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan-kerusakan pada bahan yang dikemas / dibungkusnya. Pengemas diartikan sebagai wadah, tutup dan selubung sebelah luar, artinya keseluruhan bahan kemas, dengannya obat ditransportasikan dan/atau disimpan (Voigt, 1995). Menurut undang-undang pasal 24 menyatakan bahwa Pengemasan sediaan farmasi dan alat kesehatan dilaksanakan dengan menggunakan bahan kemasan yang tidak membahayakan kesehatan manusia dan/atau dapat mempengaruhi berubahnya persyaratan mutu, keamanan, dan kemanfaatan sediaan farmasi dan alat kesehatan.

Klasifikasi kemasan berdasarkan struktur sistem kemas (kontak produk dengan kemasan)

a. Kemasan primer, yaitu kemasan yang langsung mewadahi atau membungkus bahan yang dikemas. Misalnya kaleng susu, botol minuman, strip/blister, ampul, vial dan lain-lain.

b. Kemasan sekunder, yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok-kelompok kemasan lain. Misalnya kotak karton untuk wadah susu dalam kaleng, kotak kayu untuk buah yang dibungkus dan sebagainya.

c. Kemasar tersier, kuartener yaitu kemasan untuk mengemas setelah kemasan primer, sekunder atau tersier. Kemasan ini digunakan untuk pelindung selama pengangkutan. Misalnya jeruk yang sudah dibungkus, dimasukkan ke dalam kardus kemudian dimasukkan ke dalam kotak dan setelah itu ke dalam peti kemas (Julianti dan Nurminah 2006).

FUNGSI DAN PERANAN KEMASAN

Fungsi paling mendasar dari kemasan adalah untuk mewadahi dan melindungi produk dari kerusakan-kerusakan, sehingga lebih mudah disimpan, diangkut dan dipasarkan. Secara umum fungsi pengemasan pada bahan pangan adalah :

1. Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga kekonsumen, agar produk tidak tercecer, terutama untuk cairan, pasta atau butiran

2. Melindungi dan mengawetkan produk, seperti melindungi dari sinar ultraviolet, panas, kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari kotoran dan mikroba yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk.

3. Sebagai identitas produk, dalam hal ini kemasan dapat digunakan sebagai alat komunikasi dan informasi kepada konsumen melalui label yang terdapat pada kemasan.

4. Meningkatkan efisiensi, misalnya : memudahkan penghitungan (satu kemasan berisi 10, 1 lusin, 1 gross dan sebagainya), memudahkan pengiriman dan penyimpanan. Hal ini penting dalam dunia perdagangan..

5. Melindungi pengaruh buruk dari luar, Melindungi pengaruh buruk dari produk di dalamnya, misalnya jika produk yang dikemas berupa produk yang berbau tajam, atau produk berbahaya seperti air keras, gas beracun dan produk yang dapat menularkan warna, maka dengan mengemas produk ini dapat melindungi produk-produk lain di sekitarnya (Julianti dan Nurminah 2006).

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses pengemasan:

  1. Harus selalu mengikuti dan mematuhi prosedur tertulis yang sudah dibuat.
  2. Harus selalu mengikuti dan menjalankan in process control.
  3. Pra penandaan pada bahan pengemas harus selalu dilakukan.
  4. Sebelum melakukan pengemasan, kesiapan jalur pengemasan harus selalu diperiksa.
  5. Hanya obat yang berasal dari satu batch saja yang boleh ditempatkan dalam satu palet.
  6. Produk yang rupa dan bentuknya sama tidak boleh dikemas pada jalur yang berdampingan.
  7. Pada jalur pengemasan, nama dan nomer batch harus terlihat jelas.
  8. Produk antara dan produk jadi yang masih dalam proses pengemasan harus selalu diberi label identitas dan jumlah.
  9. Produk yang telah diisikan kedalam wadah akhir tapi belum diberi label, harus dipisah dan diberi tanda.
  10. Peralatan pengemasan tidak boleh bersentuhan langsung dengan produk.
  11. Bahan untuk pengemasan seperti: pelincir, perekat, tinta, cairan pembersih, ditempatkan dalam wadah berbeda dari wadah untuk produk (Kurniawan, 2012).

TEKNIK PENGEMASAN PRODUK FARMASI

Bentuk kemasan berikut ini telah disetujui FDA sebagai contoh sistem kemasan yang mampu memenuhi ketentuan kemasan tahan gangguan sebagaimana dijelaskan dalam peraturan FDA 21 C.F.R. Parts 211, 314, dan 700.

1.      Strip packaging (Kemasan Strip)

Kemasan Strip

Strip packaging merupakan teknik pengemasan yang sudah berlangsung lebih dari seperempat abad. Semua solid form dibidang farmasi termasuk pill, tablet, capsul, lozenges, dikemas dengan system ini. Tetapi yang paling umum menggunakan cara ini adalah tablet dan capsul.

Metodenya adalah mengemas dengan dua

Mesin Pengemas Strip

lapisan atas/bawah, dan kemudian di seal dan di cut. Pemilihan dari material harus tepat, agar tidak ada migrasi dari produk keluar. Produk akan jatuh kedalam mold yang panas, kemudian dibentuk kemasan dan mewadahi produk tersebut. Ukuran dan kedalaman dari mold tersebut harus cukup untuk menampung produk dan membentuk kantong, dan jangan sampai produk tertekan. Perlu dicek bahwa heat seal cukup efektif (Anonim,2007).

2.      Blister pack (Kemasan Blister)

Kemasan Blister

Bentuk kemasan ini mampu menyediaakan perlindungan yang sangat baik terhadap keadaan sekitarnya, disertai dengan penampilan estetis yang menyenangkan dan efisien. Juga memberikan kemudahan pemakaian, aman terhadap anak-anak dan tahan terhadap usaha pemalsuan.

Kemasan blister dibentuk dengan melunakkan suatu lembaran resin termoplastik dengan pemanasan, dan menarik (dalam vakum) lembaran plastic yang lembek itu kedalam suatu cetakan. Sesudah mendingin lembaran dilepas dari cetakan dan berlanjut ke berbagai pengisian dari mesin kemasan. Blister setengah keras yang terjadi sebelumnya diisi dengan produk dan ditutup

Alat Pengemas Blister

dengan bahan untuk bagian belakang yang dapat disegel dengan pemanasan. Bahan untuk bagian belakangnya, atau tutupnya, dapat dari jenis yang bisa didorong atau jenis yang dapat dikelupas. Untuk jenis blister yang bisa didorong, bahan untuk bagian belakangnya biasanya aluminium foil yang diberi lapisan yang dapat disegel panas. Lapisan pada foil harus sesuai dengan bahan blister untuk memperoleh segel yang memuaskan, baik untuk perlindungan produk maupun untuk perlindungan pemalsuan (Lachman, 1994).

 3.      Pengemasan bulk produk

Kemasan Bulk

Kemasan ini dapat dibuat dengan berbagai cara, tetapi biasanya dibentuk dengan menumpuk produk seperti sandwich di antara lapisan tipis plastic yang dapat diberi bentuk dengan panas, dapat memanjang atau dapat mengerut dengan pemanasan dan bahan yang kaku untuk bagian belakangnya. Hal ini umumnya dilakukan dengan memanaskan/melunakan lapisan tipis plastik dan membuat kantung dengan menariknya dalam vakum melalui cara yang sama seperti pembuatan blister dalam kemasan blister. Produk dijatuhkan ke dalam kantung, yang kemudian disegel menjadi bahan yang keras seperti piring kertas yang dipanaskan-disegel-diberi lapisan. Jika memakai bahan yang dapat mengerut karena panas, kemasan dilewatkan ke dalam corong panas, yang mengerutkan lapisan tipis menjadi gelembung atau member kulit pada produk, sehingga menempel erat pada karton yang ada di bagian belakangnya (Lachman, 1994).

Digunakan untuk mengemas barang yang cukup banyak atau bulk material digunakan,

Mesin Pengemas Bulk

multi wall paper sack. Heavy duty bag polyethylene, woven sack polipropylene dan jute bags, tetapi sekarang ini jute bags sudah kurang popular. Multiwall paper sack : terdiri dari beberapa lapisan kertas yang saling menunjang, dengan demikian maka beban yang didukung oleh kantong tersebut akan merata keseluruh lapisan. Jumlah lapisan bisa antara 2 sampai dengan 6 lapis. Dengan menggunakan beberapa lapisan kertas yang agak tipis adalah lebih fleksibel dan kuat daripada menggunakan satu atau dua lapisan kertas yang tebal. Multiwall paper bag dapat digunakan untuk berbagai produk terutama yang berbentuk bubuk (Anonim, 2007).

4.      Pengikat (Ban) yang Mengerut

Konsep ini menggunakan sifat polimer yang dapat mengembang dan mengerut karena pemanasan, biasanya PVC. Polimer yang dapat mengerut karena panas diproses sebagai pipa terarah dalam diameter sedikit lebih besar dari tutup dan lingkar leher botol yang akan disegel. Bahan yang dapat mengerut karena panas dipasok kepada pengisi botol sebagai pipa yang ada cetakan huruf/gambar dan dapat dilipat, baik sudah dipotong menurut panjang tertentu atau dalam bentuk gulungan untuk pekerjaan otomatis. Panjang pipa PVC yang sesuai

Pengikat yang Mengkerut

diluncurkan melalui botol yang sudah bertutup cukup longgar, sehingga dapat menyatukan tutup dan lingkar leher botol (Gambar 24-4). Botol kemudian digeser melalui lorong panas, yang mengerutkan pipa dengan erat di sekeliling tutup dan botol, sehingga ban yang mengerut akan rusak bila tutup dibuka. Agar mudah membukanya, ban yang mengerut dapat disertai dengan celah yang dapat dirobek (Lachman, 1994).

5.      Pembungkus Lapisan Tipis

Pembungkus dari lapisan tipis telah digunakan secara luas selama bertahun-tahun untuk produk yang memerlukan kemasan yang utuh, atau perlindungan terhadap keadaan sekelilingnya. Pembungkus Lapisan Tipis dikategorikan dalam tipe-tipe berikut:

  • Pembungkus yang ujungnya dilipat
  • Pembungkus yang disegel seperti sirip ikan
  • Pembungkus yang dapat mengerut

6.      Kertas Timah, Kertas, atau Kantung Plastik

Kantung yang fleksibel adalah konsep kemasan yang tidak hanya mampu menyediakan

Mesin Vertikal

kemasan yang tahan gangguan, tetapi melalui seleksi bahan yang sesuai, juga menyediakan kemasan yang dapat memberi perlindungan yang sangat ampuh terhadap keadaan sekitarnya. Kantung yang fleksibel biasanya dibentuk selama pekerjaan pengisian produk, baik dengan peralatan bentuk pembentukan ventrikal maupun horizontal, mengisi dan menyegel.

Pada pelaksanaan membentuk/mengisi/menyegel secara vertical, suatu jaringan lapis tipis ditarik meliputi cincin logam dan mengelilingi pipa pengisi yang vertical, melalui mana produk dijatuhkan kedalam kemasan

Produk mesin vertikal

yang terbentuk. Pipa pengisi dari metal juga bekerja sebagai suatu mandrel yang mengontrol keliling dari kantung dan terhadap mana dibuat segel membujur. Pembentukan segel ini, yang dapat merupakan segel sirip maupun segel tumpang-tindih, mengubah lapisan kemasan menjadi pipa dari lapisan yang kotinu. Alat penyegel yang dapat bergerak, segel orthogonal sampai membujur, mengerutkan bagian bawah tube, membentuk segel bawah dari kemasan. Produk dijatuhkan melalui pipa, pembentuk ke dalam kemasan yang terbentuk. Alat penyegel yang dapat bergerak mengangkat pipa lapisan tipis setinggi panjang kemasan, dan membentuk segel paling atas dan paling akhir dari kemasan. Segel kemasan paling atas ini menjadi segel bagian bawah dari kemasan berikutnya, dan proses ini terulang lagi. Karena mesin vertical yang mmbentuk/mengisi/mnyegel diisi sesuai arah gravitasi, mereka terutama digunakan untuk cairan, bubuk dan produk berbentuk granul.

Sistem pembentuk/pengisi/penyegel secara horizontal umumnya digunakan untuk produk dengan volume lebih kecil, yang dapat lebih cocok untuk ukuran kemasan yang lebih datar yang dihasilkan mesin jenis ini. Dalam system ini, jaringan lapisan tipis terlipat sendiri dan tidak mengelilingi suatu pipa. Sewaktu lipatan lapisan tipis diisi secara horizontal melalui mesin, suatu pelat yang dapat bergerak membentuk kantung-kantung dalam lapisan itu dengan cara membuat segel pemisah secara vertical. Produk kemudian ditempatkan ke dalam tiap kantung, dan segel atas akhir akan terbentuk (Gambar 24-6). Kemasan yang dibuat dengan mesin pembentuk/pengisi/penyegel secara horizontal biasanya mempunyai segel keliling bersisi tiga, tetapi ada kemungkinan terjadi variasi-variasi lain, tergantung jenis mesin yang digunakan.

Mesin horizontal

Untuk menyiapkan tingkat kesempurnaan kemasan yang diperlukan bagi kemasan yang tahan gangguan pada mesin horizontal maupun vertical, maka haruslah digunakan segel permukaan-dalam-pada permukaan-dalam. Hal ini memungkinkan pemakaian bahan segel yang efektif seperti polietilen, etilen vinil asetat (EVA), dari Surlyn, yang bila disegel dengan layak harus dirobek lebih dulu untuk mendapatkan produknya. Bahan penyegel ini harus digunakan sebagai bagian dari susunan laminasi supaya diperoleh sifat-sifat yang diperlukan bagi penampilan bahan kemasan yang layak. Permukaan luar dari laminasi harus merupakan permukaan yang mudah dicetak dan tahan panas, karena langsung bersentuhan dengan batang-batang pemanas. Bahan permukaan luar juga digunakan sebagai pembawa substrat, yang memberikan sifat-sifat mekanis kepada laminasi yang diperlukan untuk penanganan kemasan dan pengemasan secara maksimal. Lapisan yang paling umum digunakan untuk pembawa substrat ialah kertas. Polyester, nilon dan selofan juga digunakan bila diinginkan suatu keadaan tembus pandang, tahan bocor atau mengkilap. Untuk produk yang peka terhadap lembab dan oksigen, umumnya digunakan kertas timah (foil) sebagai bagian dari laminasi lapisan tipis, dengan foil diapit seperti sandwich antara lapisan luar dan lapisan segel panas. Laminasi seperti kertas/polietilen/foil/polietilen dan polyester/polietilen/foil/polietilen umum digunakan sebagai perintang yang baik. Polyester yang diberi logam digunakan sebagai pengganti foil untuk pemakaian beberapa kemasan perintang karena biayanya lebih rendah, penampilan yang baik sekali dan tahan lekukan (Lachman, 1994).

Dan masih ada banyak lagi teknik pengemasan produk farmasi seperti; Penyegel Botol, Segel Berupa Pita, Tutup yang Mudah Dirobek, Tube yang Disegel, Wadah Aerosol dan Kotak Karton yang Disegel (Lachman, 1994).

Daftar Pustaka

Anonim, 2007, Pelatihan Kemasa Pdf. www.kemenperin.go.id/download/141/Pelatihan-Kemasan-Flexible. . Diakses tanggal 18 mei 2012

Julianti, Elisa dan Nurminah, Mimi, 2006, Buku Ajar Tekologi Pengemasan, Universitas Sumatera Utara Press, Sumatera

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 1998 Tentang Pengamanan Sediaan Farmasi Dan Alat Kesehatan. http://binfar.depkes.go.id/dat/lama/1303889294_PP%2072-1998%20Pengamanan%20Sediaan%20Farmasi%20dan%20Alat%20Kesehatan.pdf. Diakses tanggal 18 mei 2012

Voight, Rudolf, 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Ed.5, Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta

Lachman, L., Lieberman, Herbert A., Kanig, Joseph L., 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri III Ed.3, Universitas Indonesia Press, Jakarta

About these ads
This entry was posted in TSF Mahasiswa 2010. Bookmark the permalink.

25 Responses to BERBAGAI TEKNIK PENGEMASAN PRODUK FARMASI

  1. Noraa says:

    Tau ga tempat penempahan sediaan farmasi seperti strip atau blister ? Info dong plis , buat tugas praktikum nih .

  2. tonqay says:

    beli mesin kemasannya di mana yak ?

  3. Venus @ Sumbernya banyak sampai ga bisa disebutin…,,,,bhahahaha… :D

  4. Venus says:

    hanya mau komen,alangkah baiknya jika menjawab disertai sumber / dapusnya..terimakasih

  5. G. van beethoven @ Owwwhh… tidaakk.. ada beberapa bahan yang bisa dibuat menjadi cangkang kapsul. Selain gelatin, cangkang kapsul juga dapat dibuat dari pati dan tepung gandum dan digunakan untuk mewadahi bahan obat berbentuk serbuk. Kapsul pati ini, memiliki silinder tertutup satu muka atau mangkuk kecil (garis tengah 15-25 mm dan tinggi 10 mm). Walaupun tercantum dalam farmakope, tapi peranannya sampai saat ini jarang dijumpai. karena kebanyakan cangkang dibuat dengan gelatin. Salah satu keunggulan yang paling terkenal dari gelatin adalah bisa memiliki sifat melting in the mouth. Ini sifat yang paling disukai oleh hampir semua pengusaha industri pangan.
    Namun demikian, tidak berarti gelatin sama sekali tidak bisa digantikan dalam industri pangan maupun farmasi. Penggunaan hidrokoloid yang bersumber dari tanaman sudah banyak dikembangkan dalam rangka menggantikan peran gelatin. Sungguhpun sejauh ini hasilnya tidak sesempurna gelatin, tapi sudah cukup memadai. Misalnya ada sebuah perusahaan permen chewy yang dulunya menggunakan gelatin, sekarang telah mendapat sertifikat Halal MUI setelah menggantikan gelatin dengan beberapa sumber hidrokoloid. Jadi, walaupun hasil akhirnya tidak mirip, peran gelatin dapat digantikan dengan mengkombinasikan beberapa sumber hidrokoloid. Dan penggunaannya bersifat aman dalam konteks kehalalan karena bersumber dari tanaman. Selain itu alternatif lain yang saat ini masih terus dikembangkan adalah gelatin yang bersumber dari ikan. Sejarah mencatat penemuan kapsul pertama kali dimulai di Mesir. Namun, proses pembuatan kapsul dipatenkan oleh dua orang berkewarganegaraan Prancir yaitu Mothes dan Dublanc. ^______________^

    NAMA : PUNDI ANUGRAH
    NIM : G1F008020

  6. G. van beethoven says:

    SUPER SEKALI jawabannya…

    apakah kapsul terbuat dari gelatin saja?

  7. G. van beethoven @ Sebenarnya cangkang kapsul merupakan bahan penolong yang digunakan untuk membungkus atau mengemas sediaan obat. Namun cangkang ini ikut ditelan dan masuk ke dalam tubuh kita. Bahan pembuat cangkang kapsul adalah gelatin. Gelatin ini bersumber dari tulang atau kulit hewan, bisa dari sapi, ikan atau babi. Jadi Cangkang Kapsul bisa dikatakan pengemas namun tidak termasuk dalam klasifikasi kemasan, karena cangkang kapsul ikut dirmakan..^________________^

    NAMA : PUNDI ANUGRAH
    NIM : G1F008020

  8. G. van beethoven says:

    Kalo cangkang kapsul itu bisa dikatakan pengemas bukan?
    jelaskan jawaban anda..
    trims

  9. Nurul FD says:

    artikel yang baguss.. tambah terus ya artikelnya, buat nambah wawasan saya.. :)

  10. Ghanie says:

    Siipp…good job !! :)

  11. NUgroho08 @ Alumunium foil dapat menjaga kelembaban sediaan karena Aluminium foil memiliki karakteristik tidak terpengaruh sinar matahari, tidak dapat terbakar, tidak bersifat menyerap bahan atau zat lain, tidak menunjukkan perubahan ukuran dengan berubah-ubah RH. Apabila secara ritmis kontak dengan air, biasanya tidak akan terpengaruh atau bila berpengaruh sangat kecil. Sifat-sifat mekanis alumunium foil yang sangat penting adalah “tensile strength“, elastisitas dan daya tahannya terhadap sobekan dan lipatan (Suyitno, 1990). :D

    NAMA : PUNDI ANUGRAH
    NIM : G1F008020

  12. mayaniiii @ sebenarnya tidak ada faktor atau kriteria tertentu dalam pengaruh suatu sediaan itu dapat dikemas dengan bentuk sediaan tertentu.. Lebih bersifat protektif kemasan strip dibandingkan blister, karena kemasan strip mampu melindungi obat dari keadaan yang lembab. namun blister masih sering digunakan karena kesan eksklusif yang diberikan. :D

    NAMA : PUNDI ANUGRAH
    NIM : G1F008020

  13. NUgroho08 says:

    keren gan…
    kenapa alumunium foil dapat menjaga kelembaban sediaan?

  14. waaahhh..
    bagus bagus…
    bisa nabah pengetahuan tuhhh,,, :)

  15. mayaniiii @ jawabanya ntar yak..:D dalam proses..

    dhigna @ sebaiknya jangan mba, 1 x pake ajah..kemungkinan buwat terkontaminasi dengan mikroba sangat tinggi. Botol bekas infus tergolong dalam limbah padat dimana limbah medis padat dikategorikan sebagai bahan berbahaya dan beracun. Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Subandiyah Aziz mengatakan bahwa , limbah medis sangat berbahaya dan berpotensi menularkan berbagai penyakit seperti HIV/IDS, Hepatitis B dan Hepatitis C. Untuk itu, harus dilakukan langkah pencegahan dengan memusnahkan seluruh limbah medis secara aman. Limbah jenis ini dimusnahkan dengan cara dipanaskan dengan suhu tinggi sampai hancur.

    Obat~Obat injeksi harus dlm wadah tertutup seperti vial yang menggunakan kemasan bahan kaca..kalo plastik rentan kebocoran..yang pada akhirnya mempengaruhi kestabilan obatnya.. ^_________________^ ♥♥♥♥ Semoga bisa menjawab pertanyaan mba Dhigna.. Terimakasih atas pertanyaannya…. :D

    NAMA : PUNDI ANUGRAH
    NIM : G1F008020

  16. azis says:

    sekarang kan banyak pembajakan tanggal kadaluarsa pada kemasan yang di lakukan oleh oknum-oknum tertentu, yang seharusnya tercantum tanggal sekian di ganti dengan waktu yang lebih lama, hal ini yang dapat merugikan konsumen,.
    bagai mana caranya untuk menghindari hal tersebut…?
    sehingga masyarakat lebih percaya akan kualitas yang di berikan oleh produsen.

  17. dhigna says:

    dhigna G1F007089 :)
    bagaimana dengan kemasan untuk cairan infus, apakah kemasan tersebut dapat didaur ulang untuk pemakaian cairan infus berikutnya?alasannya mengapa?
    mengapa untuk kemasan cairan injeksi dalam biasanya bentuk ampul kaca? jika dalam bentuk plastik apakah cairan injeksi stabilitas obatnya juga akan baik sampai waktu kadaluarsa dengan penyimpanan yang tepat pula?

  18. ayu says:

    keren, banyak gambar dan videonya.. jd mudah dipahami..
    good job :D

  19. Robert @ Thaks my big brother….!!! ^___________^ Pundi

  20. ratih_teah @ Ada banyak jenis sediaan obat, dan tentu banyak teknik pengemasan dan kemasan yang dipakai. Di Indonesi permintaan akan obat generik mulai terjadi lonjakan permintaan obat beberapa tahun ke depan khususnya sediaan obat oral. Dan ini merupakan peluang besar bagi perusahaan farmasi untuk meningkatkan produksi obat khususnya obat generik dengan sekala lebih besar salah satunya adalah PT. Kalbe. PT. Kalbe yang sekarang telah meresmikan pabrik obat Generik dengan kapasitas produksi sekitar 87 Juta Tablet/Bulan. Makadari itu bisa disimpulkan bahwa teknik pengemasan yang sering digunakan saat ini adalah pengemasan Strip dan pengemasan Blister. Di mana pengemasan Strip dan Blister diperuntukan untuk pembuatan obat jenis pill, tablet, capsul dan lain lain. Bedanya hanya pada bahan kemasan dan cara merobeknya. Pengemasan Blister pada umumnya dipilih karena kesan eksklusif-nya.
    Semoga Mba Ratih puas atas jawaban sayaa..bhahaha… ^______________^

    NAMA : PUNDI ANUGRAH
    NIM : G1F008020

  21. Robert says:

    congratulations!! very nice work;-)

  22. mayaniiii says:

    faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi suatu sediaan itu dapat dikemas dengan bentuk sediaan tertentu ? misalnya, kenapa sediaan tablet lebih banyak tersedia dalam kemasan strip dan blister, faktor apa yang perlu diperhatikan untuk menentukan tablet itu dapat dikemas dalam kemasan blister dan strip ?
    artikelnya menarik, tidak membosankan untuk dibaca :)

  23. Pharmassip says:

    nice share gan !!

  24. Bagas says:

    wah bagus… bisa untuk skripsi saya ini… :)

  25. ratih_teah says:

    artikel yang menarik dan menambah pengetahuan… yang ingin saya tanyakan teknik pengemasan mana yang sering digunakan dalam dunia industri di Indonesia? :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s