TEKNOLOGI PENGEMASAN UNTUK PRODUK FARMASI


         SEPUTAR TEKNOLOGI PENGEMASAN SEDIAAN FARMASI

     Disusun Oleh :

                                    Ayu Mayangsari                        : G1F009022

                                    Rendi Nurhidayat                     : G1F009023

                                    Andardian Widiniyah             : G1F009024

 

 

Jurusan Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Jln. Dr. Soeparno Karangwangkal, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.

 

Abstrak

Pengemasan sediaan farmasi dilakukan untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, dan dipakai. Kemasan dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di dalamnya, melindungi dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik.

Kemasan sediaan farmasi yang kami bahas adalah kemasan strip/blister, kemasan plastik dan kemasan gelas dengan pembuatannya masing-masing. Kemasan strip/blister biasa digunakan dalam sediaan berbentuk tablet atau kapsul. Kemasan gelas biasa digunakan untuk sediaan-sediaan cair, sedangkan kemasan plastik biasa digunakan dalam sediaan berbentuk cair (tetes mata), ataupun padat (tablet ataupun kapsul).

Proses pengemasan sediaan farmasi sendiri dibagi menjadi dua yaitu proses pengemasan secara aseptis dan non aseptis. Dalam sistem pengemasan aseptis, produk dan wadah pengemas disterilisasi secara terpisah, kemudian dilakukan pengisian produk ke dalam wadah dalam lingkungan steril sehingga diperoleh produk steril dalam kemasan yang tahan disimpan dalam jangka waktu lama. Pada proses pengemasan non-aseptik, kontaminasi mudah terjadi, sehingga masa simpan produk umumnya relatif lebih rendah.

Keyword : kemasan strip/blister, kemasan plastik, kemasan gelas

PENDAHULUAN

Kemasan adalah salah satu komponen penting dari bentuk sediaan farmasi. Menurut ketentuan yang berlaku di seluruh dunia, pengujian stabilitas sediaan farmasi harus dilakukan dalam kemasan akhir yang akan dipasarkan. Kemasan terdiri dari bermacam material (gelas, logam, plastik, material multi lapis, karet dan elstomer sintetik) yang tidak selalu inert terhadap obat yang dikemas, karena secara sederhana dapat menyebabkan terjadinya adsorpsi dan desorpsi dari pengemas menuju obat disamping kemungkinan terjadinya interaksi.

Pengemasan merupakan sistem yang terkoordinasi untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, dan dipakai. Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di dalamnya, melindungi dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik (gesekan, benturan, getaran). Di samping itu pengemasan berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan atau produk industriagar mempunyai bentuk-bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi termasuk produk sediaan farmasi.

Tahap pengemasan adalah tahapan yang penting untuk produk sediaan farmasi agar produk tersebut terlihat bagus dan menarik. Menurut Peraturan perundang-undangan nomor 72 tahun 1998 tentang pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan Bab. VI yang mengatur tentang kemasan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pasal 1 ayat 6 yang berbunyi kemasan sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi atau membungkus sediaan farmasi dan alat kesehatan baik yang bersentuhan langsung ataupun tidak. Dan pasal 24 ayat 1 yang berbunyi pengemasan sediaan farmasi dan alat kesehatan dilaksanakan dengan menggunakan bahan kemasan yang tidak membahayakan kesehatan manusia dan/atau dapat mempengaruhi berubahnya persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan sediaan farmasi dan alat kesehatan.

PEMBAHASAN

Berdasarkan urutan dan jaraknya dengan produk, kemasan dapat dibedakan atas kemasan primer, sekunder dan tersier. Kemasan primer adalah kemasan yang langsung bersentuhan dengan makanan, sehingga bisa saja terjadi migrasi komponen bahan kemasan ke makanan yang berpengaruh terhadap rasa, bau dan warna. Kemasan sekunder adalah kemasan lapis kedua setelah kemasan primer, dengan tujuan untuk lebih memberikan perlindungan kepada produk. Kemasan tersier adalah kemasan lapis ketiga setelah kemasan sekunder, dengan tujuan untuk memudahkan proses transportasi agar lebih praktis dan efisien. Kemasan tersier bisa berupa kotak karton atau peti kayu.

  1. Kemasan Strip/blister

Kemasan strip dibentuk dengan mengisi dua rangkaian lapis tipis yang fleksibel dan dapat disegel panas melalui suatu gulungan perekat yang dipanaskan, atau suatu piring yang dapat bergerak dan dipanaskan. Produk dijatuhkan ke dalam kantung yang dibentuk sebelum akhirnya disegel. Suatu strip yang panjang terbentuk, umumnya terdiri dari beberapa bungkusan, tergantung dari kapasitas mesin kemasannya. Strip berisi kemasan obat dipotong panjangnya sesuai dengan jumlah kemasan yang diinginkan (Kurniawan dan Sulaiman, 2012).

 

 Gambar 1. kemasan strip

 

 Kemasan blister dibentuk dengan melunakkan suatu lembaran resin termoplastik dengan pemanasan, dan menarik (dalam vakum) lembaran plastik yang lembek itu kedalam suatu cetakan. Sesudah mendingin, lembaran dilepas dari cetakan dan berlanjut ke bagian pengisian dari mesin kemasan (Kurniawan dan Sulaiman, 2012).

Blister setengah keras yang terjadi sebelumnya diisi dengan produk, dan ditutup dengan bahan untuk bagian belakang yang dapat disegel dengan pemanasan. Bahan untuk bagian belakangnya atau tutupnya, dapat digunakan dari jenis yang bisa didorong atau jenis yang dapat dikelupas (Kurniawan dan Sulaiman, 2012).

  Gambar 2. Kemasan Blister

2.Kemasan Gelas

Wadah gelas dapat dikelompokan berdasarkan sifat reaktivitas  dari komponen (formulasi) gelas.

Tabel 1. Komponen (formulasi gelas)

                               Gambar 3. Kemasan Botol/gelas

Pembuatan Gelas

Ada empat dasar pembuatan yaitu :

  1. Peniupan, menggunakan udara yang ditekan untuk membentuk cairan gelas ke dalam ruang cetakan dari logam. Kebanyakan botol dan wadah yang diperdagangkan dibuat dengan cara ini, menggunakan peralatan otomatis
  2. Penarikan, cairan gelas ditarik melalui cetakan atau gulungan yang member bentuk pada gelas yang lunak. Batang gelas, tube gelas, lembaran gelas dan jenis diameter lainnya yang seragam yang terdapat dalam perdagangan, umumnya dibuat dengan cara penarikan. Ampul, selongsong, dan vial yang ditarik dari tube mempunyai dinding yang lebih tipis dan ketebalan yang lebih merata, serta kurang berkerut dibandingkan dengan wadah-wadah yang dibuat dengan cara meniup lalu dicetak
  3. Penekanan, digunakan kekuatan mekanis untuk menekan cairan gelas pada sisi cetakan
  4. Menuang, menggunakan kekuatan gravitasi atau sentrifugal yang menyebabkan cairan gelas terbentuk dalam ruang cetakan

(Anonim, 1973).

3.Kemasan plastik

Untuk membuat polimer tinggi sering dibutuhkan katalisator dan pengendali polimerisasi. Oleh karena itu, secara umum diperlukan tambahan bahan pembantu untuk menghasilkan material plastik, yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Bahan pembantu tersebut adalah :

  1. Pembuat lunak, bahan ini digunakan untuk menghasilkan plastisitas, elastisitas dan fleksibilitas yang diperlukan.
  2. Stabilisator, bahan ini digunakan sebagai pelindung terhadap cahaya, panas, oksigen, kelembapan, sinar terionisasi serta perbaikan kemantapan penuaannya.
  3. Bahan pengisi, dalam hal ini digunakan misalnya utanium dioksida dan kalsium karbonat.
  4. Pengabsorbsi UV, bahan ini menurunkan permeabilitas cahaya UV dalam skala daerah yang luas dan melindungi bahan obat yang peka UV.
  5. Bahan pewarna, yang paling penting dalam hal ini adalah pigmen.

(Voight, 1995).

Teknologi pembuatan

Peracikan termoplastik pada hakekatnya dilakukan melalui cetakan semprot, ektrudisasi dan gelembung ekstrusi.

  1. Cetakan semprot, granulat bahan dasar mencapai ke dalam suatu silinder yang dipanaskan, ditakar dengan sebuah corong pengisi, dimana didalamnya bahan sintesis dileburkan. Sebuah torak, yang sekaligus memutuskan aliran masuk bahan dasar, kemudian menekan massa plastis ke dalam sebuah pencetak dimana potongan yang tercetak akan membeku. Suhu plastifikasi atau suhu semprotan, pada umumnya sesuai dengan bahan sintetisnya, berkisar antara 100-300˚C disertai tekanan yang singkat selama kira-kira 3 detik (tekanan penyemprotan 20-60 N/mm2, 200-600 kp/cm2, tekanan pemampatan 80-160 N/mm2, 800-1600 kp/cm2). Alat otomat dapat menghasilkan sampai dengan 100.000 cetakan kecil per jam (misalnya tablet).
  2. Ekstrudisasi, proses diatas dilakukan dengan sebuah ekstruder, dalam hal ini adalah suatu keong yang berputar (penekan keong). Dalam sebuah silinder yang dipanaskan, material yang dimasukkan ditransportasikan ke depan, dikomprimasi, diplastifikasi melalui sebuah corong pengisi dan ditekan melalui sebuah mulut corong. Panas peleburan, sebagian disuplai dari luar, sisanya terbentuk melalui gesekan bagian dalam silinder.
  3. Gelembung ekstrusi, merupakan cara yang paling penting untuk membuat bodi berongga. Ekstruder akan menekan massa plastis melalui mulut pipa melingkar, sehingga terbentuk sebuah pipa, yang kemudian ditekan ke dinding sebuah bodi berongga melalui peniupan udara bertekanan, sehingga membentuk wadah.

(Voight, 1995).

Jenis plastik yang sering digunakan :

  1. Poliolefin jenisnya adalah polietilen (PE), polipropilen (PP), politetrafluoroetilen (PTFE),.
  2. Senyawa polifinil jenisnya adalah polifinilklorida (PVC), polivinilidenklorida (PVDC).
  3. Poliester jenisnya adalah polietilentereftalat (PETF).
  4. Polikarbonat (PK)
  5. Poliamida (PA)
  6. Polistiren (PS)
  7. Poliakrilat, polimetakrilat
  8. Harsa fenol, harsa melamin
  9. Harsa epoksida
  10. Poliuretan
  11. Silicon

Cara Botol Kemas

      Nilai industrial yang tinggi pada pengemasan larutan dalam bidang farmasetik terutama untuk larutan infuse, berhasil diraih oleh cara botol kemas. Cara tersebut merupakan metode rasional dari pembuatan cairan siap pakai. Dalam alat otomat-botol-kemas bisa berlangsung pembuatan wadah bahan sintetis maupun pengisian dan penutupannya. Hal ini dihasilkan melalui tahapan operasi berikut.

      Sebuah ekstruder yang dimuati dengan material bahan sintetis (misalnya dengan polietilen) akan membentuk tabung bahan sintetis secara kontinyu dengan panjang dan stabilitasyang cocok (gambar I) di dalam sebuah kepala tabung. Di bawah kepala tabung bergerak suatu cetakan peniup botol 4 bagian, yang terdiri dari 2 buah untuk setengah bentuk bawah yang membentuk bodi botol dan 2 cetakan bagian kepala botol. Cetakan bagian bawah akan saling bertemu dan akan membentuk tabung bahan sintetis yang mesih panas. Alat pemotong akan memisahkan tabung dari kepala tabung. Sebuah wagon pengangkut cetakan bergerak menuju stasion pengisi (gambar II), dimana sebuah jarum pengisi akan bergerak masuk ke dalam tabung bahan sintetis yang dibiarkan terbuka dan masih tetap panas, sehingga cetakan botol tetap dapat mempertahankan bagian leher pencetak botol berbentuk krucut.jarum pengisi terdiri dari 3 saluran , pertama saluran peniupan udara (untuk meniup pipa), kedua saluran pengisi ( untuk mengisikan cairan ) dan ketiga untuk saluran udara keluar ( saluran pembuangan udara dan busa). Pembentukkan botol berlangsung dengan benturan udara, dimana tabung bahan sintetis plastis dalam kondisi panas menempel pada cetakan botol. Hal tersebut berlangsung selama 0,5 detik ( gambar III ). Sekarang cairan pengisi yang diukur dalam sebuah mesin penakar dimasukkan ke dalam botol yang telah dibentuk melalui saluran pengisi yang terdapat pada jarum pengisi dan sekaligus mendinginkannya. Udara yang ada di dalam botol dibuang melalui saluran pembuangan udara keluar (gambar IV). Setelah pengisian, jarum pengisi akan terangkat kembali dan membentuk ruang yang bebas pada kepala botol. Ruang tadi akan bertemu bersama melalui 2 silinder penutup sehingga botol tertutup kedap dan sebuah kepala terbentuk pada kondisi hampa udara (gambar V). jika kepala tersebut telah menunjukkan stabilitas bentuk yang memadai, maka pencetak dibuka kembali dan sisa buangan bodinya dipisahkan dari botol. Botol yang telah terisi meninggalkan mesin melalui bagian pembuangan. Pada waktu antara tersebut, ekstruder kembali membentuk tabung, dan peristiwa di atas akan berulang kembali.

Gambar cara botol kemas (fase kerja)

Berdasarkan proses pengemasannya, kemasan dibedakan atas kemasan aseptik dan non-aseptik.

  1. Pengemasan aseptis

Pengemasan aseptis adalah suatu cara pengemasan bahan di dalam suatu wadah yang memenuhi empat persyaratan, yaitu : produk harus steril, wadah pengemas harus steril, lingkungan tempat pengisian produk ke dalam wadah harussteril, dan wadah pengepak yang digunakan harus rapat untuk mencegah kontaminasikembali selama penyimpanan. Sistem pengemasan aseptis digunakan untuk mengemas berbagai macam produk seperti bahan pangan dan obat-obatan. Dalam sistem pengemasan aseptis, produk dan wadah pengemas disterilisasi secara terpisah, kemudian dilakukan pengisian produk ke dalam wadah dalam lingkungan steril sehingga diperoleh produk steril dalam kemasan yang tahan disimpan dalam jangka waktu lama.

Dalam sistem pengemasan aseptis, sterlisasi yang dilakukan terhadap wadah lebih bervariasi tergantung dari jenis wadahnya. Beberapa contoh cara sterilisasi terhadap berbagai wadah yang digunakan dalam pengemasan aseptis dapat dilihat pada Tabel 2. Misalnya untuk wadah yang terbuat dari metal digunakan uap panas atau udara panas. Untuk wadah yang terbuat dari plastik dapat digunakan etilen oksida, hidrogen peroksida atau dengan cara radiasi. Wadah gelas dapat digunakan etilen oksida. Masing-masing cara sterilisasi tersebut mempunyai keuntungan dan kelemahan.

Sterilisasi dengan uap panas dan udara panas akan menghasilkan suhu tinggi pada tekanan atmosfir, tetapi mempunyai kelemahan karena mikroorganisme lebih tahan di dalam uap/udara panas daripada di dalam uap jenuh. Sterilisasi wadah menggunakan hidrogen peroksida mempunyai keuntungan karena prosesnya cepat dan efisien, sedangkan radiasi dapat digunakan untuk sterilisasi wadah yang terbuat dari plastik yang sensitif terhadap panas, tetapi mempunyai kelemahan karena biayanya yang mahal dan lokasinya terbatas.

 

                                    Tabel 2. Berbagai cara sterilisasi wadah pengemas

 2. Pengemasan Non Aseptik

Pada proses pengemasan non-aseptik, kontaminasi mudah terjadi, sehingga masa simpan produk umumnya relatif lebih rendah. Untuk memperpanjang masa simpan, produk dapat ditambahkan gula, garam atau dikeringkan hingga kadar air tertentu.

Daftar pustaka

Anonim. 1973. Modern Packaging Encyclopedia and Planning Guide. Vol. 46. McGraw-Hill. New York.

Ansel, H.C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (terjemahan). UI press. Jakarta.

Kurniawan, Dhadhang W, dan Sulaiman, Teuku NS. 2012. Teknologi Sediaan Farmasi. Purwokerto: Laboratorium Farmasetika Unsoed.

Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia, 1990. Risalah Seminar Pengemasan dan Transportasi dalam Menunjang Pengembangan Industri, Distribusi dalam Negeri dan Ekspor Pangan. S.Fardiaz dan D.Fardiaz (ed). Jakarta.

Syarief, R., S.Santausa, St.Ismayana B. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan. Laboratorium Rekayasa Proses Pangan, PAU Pangan dan Gizi, IPB.

Voight,R.1995.Buku Pelajaran Teknologi Farmasi.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

About these ads
This entry was posted in TSF Mahasiswa 2009. Bookmark the permalink.

58 Responses to TEKNOLOGI PENGEMASAN UNTUK PRODUK FARMASI

  1. Andardian Widiniyah G1F009024 says:

    mencoba menjawab pertanyaan dari tri raden,.
    desain kemasan dalam industri farmasi sangat memegang peranan yang sangat penting, karena dalam pemilihan bahan untuk desain kemasan inilah yang akan menjaga stabilitas dan konsentrasi zat aktif tetap terjaga pada tahap penyimpanan, distribusi hingga sampai ke tangan konsumen (aman dan memiliki efikasi). selain itu suatu desain kemasan juga harus berisi informasi yang mendukung, seperti tanggal kadaluarsa, indikasi dan kontraindikasi, dosis dan aturan pakai, efek samping, komposisi bahannya, kategori obatnya, nomor bacth dll,.untuk meminimalisir kesalahan (human error) dalam penggunaan. kemasan sendiri hendaknya juga memiliki estetika seperti warna, ukuran tulisan yang mudah dibaca, dllagar memiliki daya tarik di mata konsumen dan meningkatkan penjualan.
    demikian. semoga membantu :)

  2. Andardian Widiniyah G1F009024 says:

    trimakasih telah berkunjung dan bertanya.. :)
    mencoba menjawab pertanyaan sdr. Susan.
    kalau misalkan hanya menggunakan kemasan primer doank, untuk skala industri yang nantinya akan dipasarkan tentu saja tidak bisa, karena dalam pendistribusiannya, jika hanya menggunakan kemasan primer saja maka kemungkinan produk itu akan rusak sangat besar, makanya dibutuhkan kemasan sekunder dan tersier seperti karton untuk menjaga stabilitas obatnya sampai ke tangan konsumen.
    sekian. semoga membantu. :)

  3. SUSAN , S says:

    Mba mas, mau nny..kemasan kan ada 3 yah? Bisa gk mslkan qt pake 1 kmasan aja, misalkan kmsan primer doank?tengkyu

  4. Tri RADen says:

    Mau nanya nih,,dlm teknologi pengemasan, bagaimna sih peranan desain kemasan bagi industri farmasi ?

  5. Septian says:

    My friend, artikelnya bagus nih. Aq mau tanya, Terkait dengan keamanan obat , kontrol apa aja yang perlu dilaksanakan dalam pelaksanaan pengemasan sediaan farmasi? tengks

  6. RENDI NURHIDAYAT G1F009023 says:

    untuk ILham… Pengemasan sediaan obat dari wadah ruah ke dalam wadah khusus penderita disebut pengemasan kembali atau pengemasan ulang atau pengemasan unit penggunaan. Pengemasan kembali biasanya dipertimbangkan apabila sediaan obat dapat dibeli dalam kuantitas ruah (kemasan rumah sakit dengan harga lebih menguntungkan kemudian dikemas kembali) dalam IFRS dengan biaya tenaga kerja lebih murah, dalam kemasan rangkaian terapi (kemasan selama terapi), maupun dalam kemasan dosis unit. smga bisa membantu:)

  7. ILham Fauzi says:

    mau nanya nih. kalo sistem pengemasan kembali itu sperti apa yah?soalnya d artikel anda blum dijelaskn. terima kasi

  8. RENDI NURHIDAYAT G1F009023 says:

    mau menjawab pertanyaan dien jalayudha. silikon kemasan , menurut kami beda dengan silikon yg oplas dilihat dari segi tujuan, bahan dan harganya..kalo untuk kemasan, silikon tsb menawarkan enam keuntungan: 1) pencocokan termal yang sangat baik, 2) kepadatan kemasan tinggi, 3) kesamaan fabrikasi IC menggunakan proses konvensional, 4) biaya rendah per fungsi, 5) dalam perbaikan, 6) dan pencampuran dari IC teknologi (MOS bipolar linear, dll) pada substrat silikon yang sama…berbda dengan silikon untuk oplas,karena siikon trb mmpunyai harga mahal, bahannya dirancang khusus untuk kondisi pembdahan dan tujuannya pun berbda dengan silikon kmsan .smga bermanfaat.:)

  9. RENDI NURHIDAYAT G1F009023 says:

    Untuk Ichal_adja.. waktu pembuatan kemasan sediaan farmasi (botol dan gelas) misalnya..itu tergantung dari beberapa faktor.. 1. bahan bakunya, apakah bahannya itu mudah untuk dibuat atau tidak. 2. SDM , yaitu orang yang membuat kemasan itu, apakah dia terampil dalam pembuatan kemasan tersebut ataukah tidak .3. faktor lainny Jadi, waktu pembuatan kemasan sediaan farmasi, tidak dapat diprediksi jangka waktunya krn bnyak faktor yg mempengaruhinya

  10. RENDI NURHIDAYAT G1F009023 says:

    mau menjawab pertanyaan neng Puput…Upaya pengembangan teknologi kemasan sediaan farmasi ,salah satunya yaitu kemasan plastik. Kemasan plastik biodegradable dewasa ini berkembang sangat pesat. (http://um.ac.id) Berbagai riset telah dilakukan di negara maju (Jerman, Prancis, Jepang, Korea, Amerika Serikat, Inggris dan Swiss) ditujukan untuk menggali berbagai potensi bahan baku biopolimer. Aktivitas penelitian lain yang dilakukan adalah bagaimana mendapatkan kemasan thermoplastic degradable yang mempunyai masa pakai (lifetimes) yang relatif lebih lama dengan harga yang lebih murah. Pengembangan lain yang sangat penting adalah perbaikan sifat-sifat fisik dan penggunaan bahan pemlastis. semoga bermanfaat:)

  11. Ayu Mayangsari G1F009022 says:

    untuk delta paramore..
    1. kami masih belum mengerti kemasan menurut kebutuhan yang di maksud delta itu bagaimana..apakah yang dimaksud kemasan seperti yang sudah kami jelaskan di atas seperti kemasan primer, sekunder dan tersier ? atau bagaimana ?
    2. sterilisasi yang efektif dan efisien itu pada tekanan 15 psi untuk autoklaf
    3. jika salah satu syarat dari kemasan steril tidak terpenuhi, maka tidak dapat di pasarkan karena kesterilitasan itu mutlak harus dipenuhi karena untuk menjamin kestabilan produk obat

  12. Ayu Mayangsari G1F009022 says:

    buat kang rian,,,
    gelas berwarna amber dan merah yang efektif untuk melindungi isi botol terhadap pengaruh cahaya matahari dengan menyaring keluar sinar ultraviolet yang berbahaya. gelas amber memenuhi spesifikasi ini, tetapi oksida besi yang ditambahkan untuk membuat warna ini dapat lepas dan masuk ke produk (obat), karena itu jika produk mengandung bahan-bahan yang cendenrung bereaksi dengan adanya katalisator besi, maka gelas amber tidak boleh digunakan.

  13. Kang rian says:

    mas,mba. Mau nanya. kalo untuk wadah gelas, yang seperti apa sih yang bisa melindungi sediaan di dalamnya dari pengaruh cahaya? Trims.

  14. Neng Puput says:

    melihat artikel ini, sy ckup tertarik untuk membacanya. buat temen2, sy mau nanya.. ada gak Upaya pengembangan teknologi salah satu kemasan ke depannya?kalo ada ,itu seperti apa?mksih

  15. Andardian Widiniyah G1F009024 says:

    terimakasih pertanyaanya sdr. Lukfi yasid :)
    yang dimaksud kerusakan fisik adalah kerusakan yang berkaitan dengan berubahnya bentuk fisik (warna, rasa, bau, kemasan, bentuk) dari sediaannya yang dapat mengurangi mutu sediaan itu sendiri, contohnya sirup yang tadinya berwarna bening berubah menjadi keruh, atau kemasan obat yang robek, berlubang,.dari kerusakan fisik ini dapat menimbulkan kerusakan kimia yaitu kerusakan yang berkaitan dengan struktur dan sifat kimia suatu obat karena adanya suatu proses penguraian, misalnya kemasan yang robek atau berlubang tadi, padahal berisi zat yang mudah terurai dengan adanya oksigen, maka akan terjadi reaksi kimia antara obat dan oksigen tadi sehingga menimbulkan kerusakan yang bisa berakibat berkurangnya atau hilangnya mutu atau khasiat suatu produk, malah bisa menimbulkan ketoksikan atau efek samping lain yang merugikan.
    demikian. semoga membantu :)

  16. Andardian Widiniyah G1F009024 says:

    trimakasih pertanyaannya rizqi permata..
    menurut Permenkes No.1010 tahun 2008. Dalam peraturan tersebut tertulis bahwa: “Penandaan adalah keterangan yang lengkap mengenai khasiat, keamanan, cara penggunaannya serta informasi lain yang dianggap perlu yang dicantumkan pada etiket, brosur dan kemasan primer dan sekunder yang disertakan pada obat.” dari peraturan itu dapat dilihat bahwa batas penulisan ED itu seharusnya sampai satuan strip (kemasan primer). jika memang terdapat kasus seperti itu maka patut diwaspadai karena obat tersebut bisa jadi obat palsu.
    demikian. semoga membantu :)

  17. tika says:

    keren nih (y)

  18. Ikbal Maulana Yusuf says:

    jujur saya orang awam yang masih belum tau apa2 mslah kedokteran atau kimia farma / obat2n ,, tapi lumayan membantu saya .. thanks for share ^_^

  19. Rizqi Permata H (G1F009045) says:

    Assalamu’alaikum…
    maaf sebelumnya, saya tidak tau apakah pertanyaan yang akan saya tanyakan sudah ditanyakan atau belum. jujur saya tidak membaca komen-komen di atas saya satu persatu, heheheheh..
    begini, saya pernah beberapa kali membeli obat dalam bentuk strip di apotek. ketika sakit saya sembuh, saya hentikan pemakaiannya, jika terserang, saya minum lagi dengan sisa obat tsb. namun, di strip tidak ada tanggal kadaluarsnya (saya perhatikan, obat-obat yang saya beli, tidak ada keterangan ED di stripnya).
    yang saya tanyakan…batas penulisan informasi ED itu sampai satuan box atau strip? jika box, bagaimana dgn kasus seperti yang saya alami… (ko curhat ya???hehehe)
    terima kasih

  20. lukfi yasid says:

    mau tanya nih Contoh kerusakan fisis/kimiawi Terhadap mutu produk itu apa aja sh? mhon dijawab yah

  21. silikon yg digunakan buat pengemasan sama untuk oplas ada bedanya gak?

  22. lukfi yasid says:

    jujur saya gaptek tentang dunia kedokteran,tp setelah membaca artikel ini sedikitnya membantu saya lebih tau akan dunia farmasi dan kedokteran thanks for share

  23. Andardian Widiniyah G1F009024 says:

    trimakasih atas pertanyaannya untuk herlina…lama tak jumpa :) dan maaf baru bisa terjawab.
    kemasan untuk tablet dan kapsul yang umum digunakan ada 2 yaitu strip dan blister,.kemasan strip contohnya untuk tablet obat dexteem, atupun ranitidine, dan blister contohnya panadol cold dan flu. dari penampilannya kemasan strip dapat lebih melindungi sediaan dari peruraian akibat cahaya karena kemasannya benar-benar tertutup, sedangkan kemasan blister, bagian atasnya ditutup dengan lembaran plastik bening yang lunak,.Jadi kemasan strip digunakan untuk kriteria tablet dan kapsul yang sangat mudah terurai karena cahaya dan terpengaruh oleh kelembapan.
    untuk sediaan tablet effervesent sendiri, kemasan strip dapat digunakan, contoh yang ada di pasaran adalah protecal solid strip,.Kemasan yang baik yang lain adalah menggunakan 2 bahan pengemas yaitu primer dan sekunder. untuk kemasan primer, banyak sekali pilihan bahan kemasan ini dibuat berdasarkan harga, bukan mempertimbangkan masalah stabilitas. Jenis yang paling umum dari kemasan adalah foil packets. Lubang kecil pada pori bahan ini adalah masalah umum dalam foil pocket. Jika mengganti dengan heavier-gauge foil (biasanya lebih mahal), akan sangat mengurangi jumlah lubang kecil yang ada. Daerah dalam foil packets harus cukup besar untuk mengemas tablet tanpa menciptakan tekanan pada foil. Namun, hal itu harus diusahakan sekecil mungkin untuk meminimalkan jumlah “rongga udara” yang terperangkap di dalam.
    kemasan yang satunya adalah kemasan sekunder berupa tabung. Tabung terbuat dari plastik, kaca, atau aluminium ekstrusi dengan cap yang mengandung desiccants. Desiccants digunakan untuk mengikat setiap kelembaban bebas dalam tablet atau di udara untuk mencegah berreaksi dengan effervescent. contoh kemasan effervesent jenis ini adalah redoxon. Jadi tidak semua tablet dapat dibungkus dengan kemasan strip, yang terpenting dilihat dulu kestabilan dari tablet itu sendiri.
    demikian. Semoga bermanfaat :)

  24. Andardian Widiniyah G1F009024 says:

    terimakasih ratih pertanyaannya..
    syarat bahan plastik yang dapat digunakan secara farmasetik itu:
    1. meterial plastik harus sedemikian tebal, sehingga lintasan untuk mikroorganisme tidak dimungkinkan dan sebaiknya tidak permeabel untuk uap dan gas.
    2. harus dapat disterilkan; jika mungkin dalam keadaan kosong maupun terisi
    3. tidak boleh membebaskan bahan asing ke dalam kandungannya (absorpsi dan adsorpsi). komponen toksis atau komponen lain dari bahan lain dari bahan sintesis yang dapat bermigrasi ke dalam kandungan harus serendah mungkin sehingga tidak bersifat merusak
    4. sebaiknya menunjukkan kemantapan absolut terhadap bahan obat, bahan pembantu galenik dan bahan pelarut semua jenis.
    5. tidak boleh menimbulkan perubahan konsentrasi yang mempengaruhi efek terapetik dari preparat.
    demikian,.semoga membantu :)

  25. ratih juwita g1f009049 says:

    mw tanya apa sih syarat bahan plastik yang digunakan secara farmasetik??

  26. Ayu Mayangsari G1F009022 says:

    terimakasih anjar pertanyaannya,,
    beberapa keuntungan kemasan unit tunggal yaitu, identifikasi positif masing-masing unit dosis setelah obat tidak berada di tangan ahli farmasi atau perawat dan mengakibatkan kurangnya kesalahankarena obat, berkurangnya kontaminasi dari obat tersebut berdasarkan pembungkusan pelindungnya, mengurangi penyiapan dan waktu penyaluran dan memudahkan pengontrolan barang di apotek atau di instalasi farmasi.

  27. anjar says:

    artikel yang menarik..
    saya mau tanya,,kebanyakan di rumah sakit memakai sistem dosis tunggal dengan menggunakan kemasan seperti strip. sebenernya apa kelebihan dari sistem dosis tunggal ?

  28. untuk akmal, terimakasih pertanyaannya..
    jadi begini,,pelepasan alkali dari gelas dapat ditentukan melalui cara yang berlainan. Untuk maksud tersebut dapat digunakan dua metode : metode serbuk gelas (metode lumatan) dan metode permukaan. Pada metode serbuk gelas, gelas diserbukan, disuspensikan dalam aseton. Setelah ditambahkan air harus dilakukan pemanasan dalam otoklaf dan ditetesi larutan indicator (merah metil) kemudian dititrasi dengan asam hidroklorida. Pada metode permukaan, wadah gelas yang diisikan dengan air bebas CO2 dan mengandung sejumlah asam hidroklorida atau asam sulfat tertentu dan merah metal sebagai indicator. Setelah disterilkan wadah tertutup dalam otoklaf tidak boleh menghasilkan perubahan warna.
    demikian akmal.. :)

  29. akmal says:

    mau tanya ne,,klo metode pengujian kemasan gelas itu sendiri bagaimana ? terimakasih untuk jawabannya… :)

  30. RENDI NURHIDAYAT G1F009023 says:

    MAU menjawab pertanyaannya sdr Laras…..sistem pengemasan Industri farmasi misalnya di negara maju berkembang pesat,karena industri tsb selalu mempunyai departemen “packaging”, yang melakukan pencarian metoda evaluasi dan memilih bentuk kemasan yang memenuhi standar keamanan, ditinjau dari berbagai aspek.
    Departemen ”packaging” industri farmasi yang melakukan penelitian dan pengembangan dari segala aspek menyangkut pengemasan mulai dari bentuk, sifat, evaluasi dan teknologi tentang kemasan. Sesuai dengan ketentuan, industri farmasi tidak dapat (boleh) hanya mempercayakan hasil evaluasi bahan pegnemasa kepada produsen bahan pengemas melalui sertifikat analisis (COA) saja. Ada ketentuan yang perlu diketahui tentang : pengujian ulang (retesting) yang harus dilakukan oleh industri farmasi, sebelum meloloskan bahan pengemas untuk digunakan dalam pengemasan obat di industri.cara sterilisasi menggunakan panas itu mksudnya adanya sistem dimana terjadi kontak antara medium pemanasan dalam hal ini uap panas dengan produk yang dipanaskan.Untuk sterilisasi dgn panas akan menghasilkan suhu tinggi pada
    tekanan atmosfir, tetapi mempunyai kelemahan karena mikroorganisme lebih tahan di
    dalam uap/udara panas daripada di dalam uap jenuh. Sterilisasi wadah menggunakan
    hidrogen peroksida mempunyai keuntungan karena prosesnya cepat dan efisien,
    sedangkan radiasi dapat digunakan untuk sterilisasi wadah yang terbuat dari plastik
    yang sensitif terhadap panas, tetapi mempunyai kelemahan karena biayanya yang
    mahal dan lokasinya terbatas. smga bermanfaat..^^

  31. ike amelia says:

    good job

  32. delta paramore says:

    siip… nnya dg….

    1. kalau kemasan berdasarkan kebutuhan ada g?
    2. berapa c tekanan yg efektif n efisien untuk proses sterilisasi nya??
    3. Pengemasan aseptis adalah suatu cara pengemasan bahan di dalam suatu wadah yang memenuhi empat persyaratan, yaitu : produk harus steril, wadah pengemas harus steril, lingkungan tempat pengisian produk ke dalam wadah harussteril, dan wadah pengepak yang digunakan harus rapat , bagaimana kalau ada slh satu syrt yg tdk terpenuhi??

    thx y..hhe

  33. Andardian Widiniyah G1F009024 says:

    sebelumnya trimakasih atas pertanyaannya untuk g1f007033
    saya akan mencoba menjawab.
    yang dimaksud “keong” pada tahap ekstrudiasi adalah merupakan suatu nama bagian alat ekstruder, nama tersebut kami dapat dari buku voigth tahun 1995 Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, memang nama bagian dari alat ekstruder tersebut adalah keong ekstruder, bentuknya berupa silinder yang dipanaskan yang akan berputar dengan sebuah penekan (penekan keong) yang berbentuk Ⱶ yang dapat mentransportasikan material atau bahan pembuat plastik kea rah depan, menuju proses berikutnya. Diberi nama keong mungkin karena perputaran silinder yang tidak cepat atau lama seperti kelambanan keong dalam berjalan. Ilustrasi gambar ekstruder dapat dilihat di gambar cara botol kemas.
    Sekian. Semoga penjelasannya membantu.

  34. Rizki says:

    kayanya pake sistem Pasteurisasi lebih efficient

  35. Ivan Budi Adi says:

    wadah.,,.artikel yang bagus niih,.,.nambah wawasan,.,. nice :) :D

  36. Ayu Mayangsari G1F009022 says:

    trima kasih pujian dan pertanyaan Andi Aryanto,,
    Dalam teknologi pengemasan farmasetik, kemampuan strelisasi bahan pengemas merupakan suatu poblem besar.
    Kemantapan akan suhu maksimal dari masing-masing bahan sintetis sejauh ini masih problematik,yang sangat bergantung dari beban yang muncul selama pemanasan. Bahan yang diisikan dalam bentuk padatan, sejenis pasta atau cairan mempunyai efek kerja tertentu,yang dapat diatasi oleh bentuk wadah semula, sedang dilain pihak dapat muncul gaya tekan tambahan didalam pengemas khususnya jika bahan yang diisikan, mudah menguap.
    Sterilisasi pengemas bahan sintetis yang berdinding tipis dengan panas ternyata sulit, oleh karena adanya tekanan berlebih yang terjadi pada saat pendinginan dapat menimbulkan perubahan bentuk dan perusakan. Juga kehilangan gas atau uap dimungkinkan melaui difusinya keluar wadah pengemas pun terjadi penurunan volume, yang berkaitan dengan terjadinya perubahan konsentrasi yang tidak dikehendaki. Pengemas berdinding tipis dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan, jika digunakan cara pendinginan bertekanan.
    Pada sterilisasi, akan dijumpai problem khusus, yakni permeabilitas bahan menguap dalam kaitannya dengan sifat fisika material.
    Pada sterilisasi dengan udara panas (180⁰C) hampir seluruh bahan sintetis akan memisah. Untuk sebagian besar bahan sintetis disarankan cara sterilisasi dengan menggunakan etilenoksid.

  37. Istiana Puji Utami says:

    Luar biasa :)
    Tetep semangat ya adek2ku :D

  38. ichal_adjha says:

    assalammualikum.Wr.Wb…
    deg bg mau tanyak untuk pembuatan botol atau gelas tmpat obatan itu membutuhkan wktu brpa lma…?

  39. Larastika g1f010055 says:

    alloo kakak – kakak unsoed..apakah sistem pengemasan itu sendiri berkembang pesat?sistem pengemasan seperti apa yang mengikuti perkembangan jaman?terus mungkin bisa dijelasin pada pengemasan aseptis, untuk cara sterilisasi menggunakan panas dari proses koekstruksi maksudnya gimana?apa kelemahan dan kelebihannya? makasiiih…

  40. Andi Aryanto says:

    ASSALAM WR WB. maaf, mau nanya. sblumnya sy lihat artikelnya menarik.. sy apresiasi sekali terhadap itu.kan gini, Dalam teknologi pengemasan farmasetik, kemampuan strelisasi bahan pengemas apakah merupakan suatu poblem? penjelasannya seperti apa?terima kasih

  41. herlina tri setiyowati says:

    assalamu’alaikum, mau nanya rendy dkk. untuk kemasan strip itu apa bisa untuk semua sediaan tablet dan kapsul? atau ada kriteria juga mengenai tablet seperti apa dan kapsul sperti apa. Saya mau bertanya juga mengenai tablet effervescent itu bagusnya dibuat kemasan seperti apa ya?

  42. RENDI NURHIDAYAT G1F009023 says:

    buat Rofiq Nizam…makasih yh atas pertanyaannya,,, Sebagai jenis pengemas khusus adalah kemasan pengaman bagi anak-anak. Jenis ini berfungsi untuk menghalangi atau menyulitkan pengambilan obat oleh anak kecil, sehingga bahaya keracunan obat dapat dihindari. Syarat ini direalisasikan misalnya pada larutan tetes melalui mekanisme penutup ganda, dan dipatenkan. Preparat peroral padat disimpan dengan menggunakan kemasan tekan, yang memerlukan sejumlah energy untuk membukanya.

  43. g1f007033 says:

    Wah, menambah lagi pengetahuan saya ttg metode pengemasan sediaan farmasi, tulisannya cukup bagus, mungkin lebih kelihatan menarik jika diberikan gambar2 penjelasan yang berwarna, semoga tulisan ini bermanfaat buat yg lain dan penulis tetap mengembangkan kreatifitas dan faktualitasnya…
    Saya ada satu pertanyaan, untuk pembuatan termoplastik dengan ekstrudisasi, terdapat istilah “keong” mohon dijelaskan “keong” itu sejenis apa? atau jika itu adalah terjemahan mohon diperbaiki, terimakasih…
    Sukses untuk kita semua.

  44. Rofiq Nizam says:

    REN MAU NANYA, kalo buat anak-anak ada jenis pengemas khusus gk, buat sediaan farmasi?

  45. RENDI NURHIDAYAT G1F009023 says:

    BUAT Mbak anita,,, Keutamaan bahan sintetis antara lain masanya rendah, tidak terkoyakan, sebagian sangat netral secara kimia dan ekonomis. Kerugiaan adalah dapat menyebabkan terjadinya lintasan dua arah yakni pelintasan komponen plastic (monomer) dan bahan pembantu plastic kedalam bahan yang dikemas serta sebaliknya adsorpsi bahan oleh material plstik. ..mungin seperti itu mbak..

  46. RENDI NURHIDAYAT G1F009023 says:

    makasih kang agung atas pertanyaannya…jadi gini,,Peracikan termoplastik pada hakekatnya dilakukan melalui cetakan semprot, ekstrudisasi dengan gelembung ekstrusi.
    Pada cetakan semprot, granulat bahan dasar mencapai kedalam suatu silinders yang dipanaskan, ditakar dengan sebuah corong pengisi, dimana didalamnya bahan sintetis dileburkan.
    Gelembung ekstrusi merupakan cara yang paling penting untuk membuat bodi berongga. Ekstruder akan menekan masa plastis melalui mulut pipa melingkar, sehingga terbantuk sebuah pipa, yang kemudian ditekan kedinding sebuah bodi berongga melalui peniupan udara bertekanan, sehingga membentuk wadah.,,jadi proses itu,bisa digunakan untuk sediaan bentuk granul dan yg kami tahu itu sudah cukup bnyak pabrik yg mlakukan proses itu krna hasilny ckup akuran tapi di stiap pabrik itu tidak semuanya menggunakan cara itu ….mdh2an bermanfaat

  47. anita sari says:

    mas, mau nanya.Keutamaan bahan sintetis seperti plastik dan kerugiannya apa aja yah sbg pengemas?

  48. RENDI NURHIDAYAT G1F009023 says:

    Buat aa jajang,,, pertanyaaanny ckup membangun kami,, …maksih yah!!:)jadi begini, yg kami tahu,syarat2nya itu :
    1. Material plastik harus sedemikian tebal, sehingga lintasan untuk mikroorganisme tidak dimungkinkan, dan sebaiknya tidak permeabel untuk uap dan gas,
    2. Harus dapat disterilkan; jika mungkin dalam keadaan kosong maupun terisi,
    3.Tidak boleh membebaskan bahan asing kedalam kandungannya (absorbsi, absorbsi). Komponen toksis atau komponen lain dari bahan sintetis yang dapat bermigrasi kedalam kandungan harus serendah mungkin, sehingga tidak bersifat merusak,
    4. Sebaiknya menunjukan kemantapan absolut terhadap bahan obat,bahan pembantu galenik dan bahan pelarut semua jenis.
    5. Tidak boleh menimbulkan perubahan konsentrasi. Yang mempengaruhi efek terapetik dari preparat.

  49. jajang says:

    friend, mau nanya…..kalo Penggunaan plastik sebagai bahan kemas farmasetik syarat2nya gmn?

  50. Assalamualikum Wr.wb saya masih bingung dengan tulisan mengenai peracikan termoplastik.. Peracikan termoplastik melalui cetakan semprot, ektrudisasi dan gelembung ekstrusi itu contoh sediaan nya apa saja yang dibuat? dan apakah menurut anda, di setiap pabrik menggunakan peracikan secara termoplastik??
    hatur nuhun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s