Packaging Pharmaceutical Product


Packaging Pharmaceutical Product

Disusun oleh :

Yessy Khoiriyani    G1F010008

Galih Samodra        G1F010012

Rizki Puspitasari     G1F010031

Abstrak

Pengemasan merupakan suatu perlakuan pengamanan terhadap bahan atau produk baik yang sudah mengalami pengolahan atau belum sampai ke tangan konsumen dengan kondisi baik. Dalam dunia farmasi biasa digunakan teknik pengemasan strip untuk sediaan solid. Untuk mengemas barang yang cukup banyak atau bulk material digunakan, multi wall paper sack. Saat ini manusia menggunakan teknologi untuk membuat kemasan plastik sintetik. Banyak faktor yang harus di pertimbangkan dalam memilih komponen-komponen pengemasan untuk bentuk-bentuk takaran bahan padat, seperti kecocokan produk hingga aspek kemudahan pengaksesan.

Kata kunci : pengemasan produk farmasi, teknik pengemasan produk farmasi, packaging pharmaceutical product

Pengemasan dalam dunia farmasi mempunyai peran penting, sebab suatu sediaan tidak akan berarti apabila pengemasannya buruk atau tidak sesuai dengan bentuk sediaan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan rusaknya bahan yang dikemas baik karena faktor fisik (penyimpanan) maupun faktor kimia (stabilitas bahan yang dikemas). Pada umumnya pengemasan berfungsi untuk menempatkan bahan atau hasil pengolahan atau hasil industri dalam bentuk yang memudahkannya dalam penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi sampai ke tangan konsumen. Secara garis besar fungsi pengemasan adalah sebagai berikut :

  1. Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga ke konsumen, agar produk tidak tercecer, terutama untuk cairan, pasta atau butiran.
  2. Melindungi dan mengawetkan produk, seperti melindungi dari sinar ultraviolet, panas, kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari kotoran dan mikroba yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk.
  3. Sebagai identitas produk, dalam hal ini kemasan dapat digunakan sebagai alat komunikasi dan informasi kepada konsumen melalui label yang terdapat pada kemasan.
  4. Meningkatkan efisiensi, misalnya : memudahkan penghitungan (satu kemasan berisi 10, 1 lusin, 1 gross dan sebagainya), memudahkan pengiriman dan penyimpanan. Hal ini penting dalam dunia perdagangan.
  5. Melindungi pengaruh buruk dari luar, melindungi pengaruh buruk dari produk di dalamnya, misalnya jika produk yang dikemas berupa produk yang berbau tajam, atau produk berbahaya seperti air keras, gas beracun dan produk yang dapat menularkan warna, maka dengan mengemas produk ini dapat melindungi produk-produk lain di sekitarnya.
  6. Memperluas pemakaian dan pemasaran produk, misalnya penjualan kecap dan sirup mengalami peningkatan sebagai akibat dari penggunaan kemasan botol plastik.
  7. Menambah daya tarik calon pembeli.
  8. Sarana informasi dan iklan.
  9. Memberi kenyamanan bagi pemakai (Julianti dan Mimi, 2006).

Klasifikasi kemasan berdasarkan struktur sistem kemas (kontak produk dengan kemasan):

a) Kemasan primer, yaitu kemasan yang langsung mewadahi atau membungkus bahan pangan. Misalnya kaleng susu, botol minuman.

b) Kemasan sekunder, yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok-kelompok kemasan lain. Misalnya kotak karton untuk wadah susu dalam kaleng, kotak karton untuk wadah strip obat dan sebagainya.

c) Kemasan tersier, kuartener yaitu kemasan untuk mengemas setelah kemasan primer, sekunder atau tersier. Kemasan ini digunakan untuk pelindung selama pengangkutan. Misalnya botol yang sudah dibungkus, dimasukkan ke dalam kardus kemudian dimasukkan ke dalam kotak dan setelah itu ke dalam peti kemas.

Material Tipe Kegunaan
Gelas Primer Botol, ampul, vial berisi solution atau tablet
Plastik PrimerSekunder Botol, ampul, vial berisi solution atau tabletPembungkus yang terdiri dari beberapa kemasan primer
Wol Primer Pengisi kosong
Logam Primer Penyusun aerosol, penutup bahan
Papan Sekunder Kotak berisi kemasan primer
Kertas Sekunder Leaflet, label
Liners Primer Penutup yang memberi segel kompresi

(Lund, 1994).

Dalam hal material, tidak semua bahan dapat berfungsi sebagai pengemas demikian pula persyaratan dan spesifikasi bahan pengemas untuk keperluan yang satu berbeda dengan yang lain. Beberapa persyaratan bahan pengemas adalah :

a)      Memiliki permeabilitas terhadap udara (oksigen dan gas lain) yang baik

b)      harus bersifat tidak toksik dan tidak bereaksi (inert), sehingga tidak terjadi reaksi kimia yang dapat menyebabkan atau menimbulkan perubahan warna, flavor dan citarasa produk yang dikemas

c)      harus mampu menjaga produk yang dikemas agar tetap bersih dan merupakan pelindung terhadap pengaruh panas, kotoran dan kontaminan lain

d)     harus mampu melindungi produk yang dikemasnya dari kerusakan fisik dan gangguan dari cahaya (penyinaran)

e)      harus mudah dibuka dan ditutup dan dapat meningkatkan kemudahan penanganan, pengangkutan dan distribusi

f)       harus mampu menjelaskan identifikasi dan informasi dari bahan yang dikemasnya, sehingga dapat membantu promosi atau memperlancar proses penjualan.

Dengan banyaknya persyaratan yang diperlukan untuk bahan kemas, maka tentu saja bahan kemas alami tidak dapat memenuhi semua persyaratan tersebut sehingga manusia dengan bantuan teknologi berhasil membuat bahan kemas sintetik yang dapat memenuhi sebagian besar dari persyaratan minimal yang diperlukan (Anonim, 2006).

Kualifikasi dan Validasi

CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, peralatan dan proses yang dapat mempengaruhi mutu Produk hendaklah divalidasi. Validasi adalah tindakan pembuktian  dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam produksi maupun pengawasan  mutu akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan (Anonim, 2006).

Validasi untuk mesin, peralatan produksi dan sarana penunjang disebut kualifikasi. Dimana kualifikasi tersebut adalah langkah pertama dalam melaksanakan validasi  di industri farmasi (Priyambodo, 2007).

Peralatan

Desain dan kontruksi peralatan pengemasan produk hendaklah memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  • Peralatan hendaklah didesain dan dikontruksikan sesuai dengan tujuannya. Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan awal, produk antara, produk jadi tidak boleh menimbulkan reaksi yang dapat menimbulkan identitas, mutu atau kemurnian di luar batas yang ditentukan.
  • Bahan yang diperlukan untuk pengoperasian alat khusus, misalnya pelumas atau pendingin tidak boleh bersentuhan dengan bahan yang sedang diolah sehingga tidak mempengaruhi identitas, mutu atau kemurnian bahan awal, produk antara ataupun produk jadi.
  • Peralatan hendaklah didesain sedemikian rupa agar mudah dibersihkan. Peralatan tersebut hendaklah dibersihkan sesuai prosedur tertulis yang rinci serta disimpan dalam keadaan bersih dan kering. Hendaklah tersedia alat timbang  dan alat ukur dengan rentang dan ketelitian yang tepat untuk proses produksi dan pengawasan. Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, memeriksa dan mencatat hendaklah diperiksa ketepatannya dan  dikalibrasi sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Hasil pemeriksaan dan kalibrasi hendaklah dicatat dan disimpan dengan baik (Anonim, 2006).

Kegiatan pengemasan produk dilaksanakan di bawah pengendalian yang ketat untuk menjaga identitas, keutuhan dan mutu produk akhir yang dikemas. Semua kegiatan pengemasan dilaksanakan sesuai dengan instruksi yang diberikan dan menggunakan bahan pengemas yang tercantum dalam prosedur pengemasan induk. Rincian pelaksanaan pengemasan dicatat dalam catatan pengemasan batch (Anonim, 2006).

Seluruh wadah, yang digunakan untuk penyimpanan obat dan tutupnya tidak boleh mempengaruhi kualitas obat yang tersimpan di dalamnya. Wadah dan tutupnya dibersihkan dulu sebelum digunakan. Dengan menggunakan cara yang cocok dapat dijamin bahwa persyaratan kemurnian mikrobiologis bagi bahan obat dan sediaan obat yang tercantum dalam Farmakope dapat terpenuhi. Setelah pembersihan dan pengeringan wadah, sejauh tidak digunakan, disimpan dalam kondisi tertutup. Wadah harus diberi tanda yang jelas sesuai dengan persyaratannya setelah diisi dengan obat. Wadah dan tutup yang terbuat dari plastik dan elastik, diuji seperti “Pengujian barang terbuat dari plastick dan elastik” (Voight, 1995).

Beberapa teknologi pengemasan produk farmasi yaitu :

1.      Strip packaging

Merupakan pengemasan yang menganut sistem dosis tunggal, biasanya untuk sediaan padat (tablet, kapsul, kaplet, dan lain-lain) yang digunakan secara per oral. Metodenya adalah mengemas dengan dua lapisan atas atau bawah, dan kemudian diseal dan dicut. Produk akan jatuh kedalam mold yang panas, kemudian dibentuk kemasan dan mewadahi produk tersebut. Produk yang disegel antara dua lapisan tipis ini biasanya mempunyai segel dan biasanya dipisahkan dari bungkus-bungkus yang bedekatan karena adanya perforasi. Pemilihan dari material harus tepat, agar tidak ada migrasi dari produk keluar. Ukuran dan kedalaman dari mold tersebut harus cukup untuk menampung produk dan membentuk kantong, dan jangan sampai produk tertekan. Contoh : noza, obat generik seperti dextromethorphan (Anandita, 2012).

Gambar contoh kemasan strip

Gambar stripping process

 Strip terdiri dari berbagai macam tergantung bahan penyusun dari strip. Diantaranya ada PLM (polycellonium), PLO (Polycello) dan PLN (Polynium).  PLM merupakan bahan strip yang paling umum, dimana kandungannya adalah polycello atau cellophan dan alumunium. Cellophan adalah sejenis bahan dari serat selulosa yang berbentu tipis transparan, fungsinya dalam kemasan adalah untuk menempelkan pewarna sehingga strip bisa colorfull. Bahan yang biasa dipakai adalah MST / MT dan PT cellophan. Alumunium sendiri berfungsi untuk menjaga obat dari pengaruh kelembapan. Semakin tebal alumunium yang digunakan akan semakin membuat tingkat proteksi menjadi lebih baik. Namun harus dilihat dari sisi mesin strip, apakah kompatibel atau tidak karena bisa jadi semakin tebal akan menggangu proses stripping. Antara selophan dan alumunium ini terdapat satu lapisan yakni PE atau Polyetilen yang berfungsi untuk melekatkan selophan dan alumunium. Lapisan setelah alumunium sendiri adalah PE lagi, fungsinya kali ini adalah untuk membuat dua PLM dapat saling melekat saat distripping. Jadi secara garis besar, ada 4 lapisan dalam PLM yakni selophan (terluar), PE, Alu, PE (terdalam). Pembuatan PLM secara garis besar yaitu selophan dicetak dan diberi warna lalu PE dicairkan. Kemudian Alu dan selophan dipasang dalam masing-masing silindernya, saat akan ditemukan maka diberi cairan PE, sehingga keduanya melekat. Lalu dilapis dengan PE kembali pada bagian dalam. Untuk PLO dan PLN hampir sama dengan PLM. Hanya saja PLO komposisinya adalah selophan dan PE sehingga sifatnya elastis dan tembus pandang (contoh : antimo tablet). Sedangkan PLN kandungannya adalah Alu dan PE (Anandita, 2012).

Sistem kerja mesin strip sendiri cukup sederhana yakni dengan menyiapkan dua PLM pada rollernya. kemudian ditengahnya dimasukkan dalam strip dan dipanasi sehingga PE mencair dan akan melekatkan kedua PLM (Anandita, 2012).

Pemeriksaan strip juga sederhana. Saat kedatangan barang, cukup diperiksa kesesuaian warna dan teks, lebar PLM dalam satu roll, dan kebersihan PLM. Saat produksi, dilakukan pengecekan kualitas PLM dengan tes kebocoran menggunakan metilen blue dalam presure chamber (Anandita, 2012).

2.      Blister pack

Dalam proses ini lembar plastik yang tebal dilewatkan pada rol yang telah dipanaskan, hingga akan terbentuk ruang untuk diisi produk. Produk yang akan dikemas kemudian dilepas melalui happer, kemudian lembar foil yang sudah dicoat dengan laquer dipakai untuk menutup lembar plastik yang sudah dibentuk dan berisi produk lalu dicut. Strip dibentuk dalam tray, dicut sesuai mold dan dimasukkan dalam karton box. Contoh : panadol atau supra livron (Anandita, 2012).

Gambar contoh kemasan blister

Gambar mesin pengemas blister

Kemasan blister terdiri dari dua lapisan kemasan yang berbeda yakni PTP dan Plastik. PTP merupakan singkatan dari Press Trough Packaging. Komposisi PTP ini adalah alu dan PE. Sedangkan plastik yang digunakan bisa PVC atau PVdC, tergantung dari bahan yang akan diblister. jika bahan sensitif dengan kelembapan maka akan lebih disarankan PVDC karena lebih protect. Proses produksi awalnya yaitu PVC dibentuk dengan dipanaskan terlebih dahulu dengan heater namun tidak sampai cair, lalu dibentuk sesuai dengan cetakannya atau nama kerennya “forming”. Proses forming sendiri prinsipnya adalah dengan memberikan tekanan udara untuk membentuk plastik panas dan cooler sehingga plastik yang tertekan udara dalam cetakan akan terbentuk namun tidak bisa kembali ke bentuk semula karena ada proses pendinginan. kemudian tablet dimasukkan dalam forming baik manual atau otomatis dan disealing dengan PTP menggunakan panas pada bagian sampingnya. Baru kemudian dipotong sesuai ukuran blister dengan menggunakan cutting khusus (Anandita, 2012).

3.      Pengemasan bulk produk

Untuk mengemas barang yang cukup banyak atau bulk material digunakan, multi wall paper sack. Heavy duty bag polyethylene, woven sack polipropylene dan jute bags, tetapi sekarang ini jute bags sudah kurang popular. Multiwall paper sack : terdiri dari beberapa lapisan kertas yang saling menunjang, dengan demikian maka beban yang didukung oleh kantong tersebut akan merata keseluruh lapisan. Jumlah lapisan bisa antara 2 sampai dengan 6 lapis. Dengan menggunakan beberapa lapisan kertas yang agak tipis adalah lebih fleksibel dan kuat daripada menggunakan satu atau dua lapisan kertas yang tebal. Multiwall paper bag dapat digunakan untuk berbagai produk terutama yang berbentuk bubuk (Julianti dan Mimi, 2006).

Gambar contoh kemasan bulk

Gambar mesin pengemas bulk

4.      Pengemasan botol

Kaca merupakan penelitian terdekat untuk bentuk botol yang steril. Hanya sumber potensial dari pergeresan gas didalam atau diluar botol kaca melalui segel antara penutup dan leher botol. Teknologi metode-metode evaluasi untuk kaca di dikenal baik dan dikemas dalam UPS/NF. Bagian-bagian yang penting dari botol kaca adalah tipe botol, bentuk, isi keseluruhan (juga dikenal dengan kapasitas yang berlebih), pengakhiran leher botol, warna dan pergeseran bentuk. Hal yang banyak digunakan tipe NP, sebuah kaca bentuk soda untuk produk yang tidak parental, yaitu produk yang didasari dengan penggunaan topikal dan oral. Warna yang banyak digunakan adalah kuning gading (Julianti dan Mimi, 2006).

Gambar kemasan botol

Gambar kemasan botol kaca untuk sediaan injeksi

Gambar mesin pengemas botol

5.      Pengemasan kaleng

Syarat-syarat pengaturan, membutuhkan panduan USP/NF yang mencakup pengalengan dan penutupan, memberikan petunjukan pengemasan dengan bentuk-bentuk takaran bubuk dalam pengalengan takaran yang banyak. Seorang ahli obat-obatan seharusnya tidak mengemas kembali sebuah produk dalam pengalengan yang lemah pertahanan. Pengalengan seharusnya bersih dan aman untuk menjamin identitas kekuatan, kualitas dan kemurnian dari produk-produk obat-obatan untuk ketahanan hidup. Perusahaan-perusahaan obat dibutuhkan untuk melakukan tes untuk menemukan hal yang standar ini. Hal yang kecil akan menjadi sebuah stabilitas penelitian dalam pengalengan bertanda dan penutupan yang digunakan untuk penjualan produk (Julianti dan Mimi, 2006).

Gambar kemasan kaleng

Perkembangan Teknologi Pengemasan

Saat ini telah dikembangkan teknologi pengemasan bahan pangan dan produk farmasi yang mencakup :

  1. Pengemasan atmosfir termodifikasi (Modified Atmosfer Packaging/MAP)

Merupakan pengemasan produk dengan menggunakan bahan kemasan yang dapat menahan keluar masuknya gas sehingga konsentrasi gas di dalam kemasan berubah dan ini menyebabkan laju respirasi produk menurun, mengurangi pertumbuhan mikrobia, mengurangi kerusakan oleh enzim serta memperpanjang umur simpan. Fabrikasi film kemasan dapat menghasilkan kemasan dengan permeabilitas gas yang luas serta tersedianya adsorber untuk O2, CO2, etilen, dan air. Keuntungan dari teknik kemasan aktif adalah tidak mahal (relatif terhadap harga produk yang dikemas), ramah lingkungan, mempunyai nilai estetika yang dapat diterima dan sesuai untuk sistem distribusi.

Adanya absorber oksigen dapat menyerap oksigen pada bahan-bahan pangan seperti hamburger, pasta segar, mie, kentang goreng, daging asap (sliced ham dan sosis), cakes, dan roti dengan umur simpan panjang, produk-produk konfeksionari, kacang-kacangan, kopi, herba (dalam farmasi) dan rempah-rempah. Penggunaan kantung absorber O2 memberikan keuntungan khususnya untuk produk-produk yang sensitif terhadap oksigen dan cahaya seperti produk bakery dan pizza, daging yang dimasak dimana pertumbuhan jamur dan perubahan warna merupakan masalah utamanya.

2. Pengemasan aktif (Active Packaging) dan Smart Packaging

Merupakan teknik kemasan yang mempunyai sebuah indikator eksternal atau internal untuk menunjukkan secara aktif perubahan produk serta menentukan mutunya. Tujuan dari kemasan aktif atau interaktif adalah untuk mempertahankan mutu produk dan memperpanjang masa simpannya.

(Julianti dan Mimi, 2006).

KESIMPULAN

Pengemasan dalam dunia farmasi mempunyai peran penting, yaitu untuk menempatkan bahan atau hasil pengolahan atau hasil industri dalam bentuk yang memudahkannya dalam penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi sampai ke tangan konsumen. Teknologi pengemasan sediaan farmasi meliputi strip, blister, bulk, botol, dan kaleng.

 

REFERENSI

Anindita, Dipta, 2012, Packaging Development at Pharmaceutical Industries-Strip and Blister, http://www.centro.web.id/2012/01/packaging-development-at-pharmaceutical.html Diakses tanggal 15 Mei 2012

Anonim, 2006, Pedoman Penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik, Badan Pengawasan Obat dan Makanan : Jakarta

Julianti, Elisa dan Mimi Nurminah, 2006, Buku Ajar Tekologi Pengemasan, Universitas Sumatera Utara Press : Sumatera

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=mencegah%20masuknya%20bau%20fungsi%20pengemasan&source=web&cd=2&ved=0CE0QFjAB&url=http%3A%2F%2Focw.usu.ac.id%2Fcourse%2Fdownload%2F3130000081-teknologi-pengemasan%2Fthp_407_textbook_teknologi_pengemasan.pdf&ei=XQ-xT46zA7CSiQejjLHVCA&usg=AFQjCNEQ0pxU788CA4pCcX7s-G5V9kuJ9w Diakses tanggal 14 Mei 2012

Lund, Walter, 1994, Pharmaceutical Codex Twelfth Edition, The Pharmaceutical Press : London

Priyambodo, B., 2007,  Manajemen Farmasi Industri, Global Pustaka Utama : Yogyakarta

Voight, Rudolf, 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Universitas Gadjah Mada Press : Yogyakarta

About these ads
This entry was posted in TSF Mahasiswa 2010 and tagged , , . Bookmark the permalink.

70 Responses to Packaging Pharmaceutical Product

  1. fiq says:

    salam,
    saya sedang mencari informasi supplier tentang botol kaca injeksi ( infusion bottle) dan tutup karet (rubber stopper) seperti posting anda, link gambar: http://tsffarmasiunsoed2012.files.wordpress.com/2012/05/infusion_glass_bottle.jpg?w=300&h=300http://tsffarmasiunsoed2012.files.wordpress.com/2012/05/infusion_glass_bottle.jpg?w=300&h=300

    atas infonya saya sampaikan terima kasih

  2. Terima kasih mba Ida sudah berkunjung dan bertanya. :)
    Untuk obat dalam bentuk sediaan apapaun entah itu tablet, kaplet, kapsul, sirup dsb. apabila kemasan sudah rusak atau seperti yang anda bilang ringsek meskipun belum kadaluarsa, sebaiknya jangan dikonsumsi lagi karena ditakutkan kandungan obat yang ada di dalamnya ikut rusak seiring dengan rusaknya kemasan. Karena salah satu fungsi atau tujuan dari dilakukannnya pengemasan adalah untuk melindungi sediaan dari kerusakan zat aktifnya. Tidak hanya itu, apabila ketika kita membeli obat dan ternyata kemasannya sudah ringsek atau tidak bagus lagi, jangan diterima obat tsb untuk menghindari adanya kerusakan obat.

    Yessy Khoiriyani
    G1F010008

  3. Ida Listyaningsih says:

    obat yang belum kadaluarsa, tetapi kemasannya sudah ringsek (tidak bagus lagi), masih layakkah obat tersebut dikonsumsi?karena biasanya obat (yang bukan dalam kemasan botol) dirumah yang kemasannya sudah tidak bagus lagi (tapi masih tertutup rapat) kami buang. trimakasih

  4. SALAM!! :) terimakasih kepada Saudara Kuncoro atas kunjungan dan pertanyaannya. Mungkin yang dimaksud Anda seperti ini, tingkat kebutuhan konsumsi obat-obatan yang dikemas dalam kemasan primer lebih praktis dibandingkan dengan obat yang dikemas dengan kemasan sekunder dan tersier. Maksudnya, sediaan yang dikemas hanya dengan kemasan primer dapat dikatakan sediaan tersebut sudah siap digunakan atau obat tersebut merupakan kelompok obat yang bebas atau tidak berbahaya, sehingga perlakuan ketika pengemasan hanya memerlukan kemasan primer untuk membungkusnya. Untuk sediaan yang telah dikemas dengan kemasan primer lalu dibungkus lagi dengan kemasan sekunder dan tersier maksudnya obat ini memerlukan perlakuan kemasan tambahan untuk menjamin bahan yang dikemas dalam keadaan baik ketika akan dikonsumsi.

    Rizki Puspitasari (G1F010031)

  5. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudara lingga, menurut saya ada jenis bahan industry yang dikemas dalam produk farmasi. Pertama ada alumunium foil, alumunium foil banyak digunakan sebagai bagian dari kemasan bentuk kantong bersama-sama/dilaminasi dengan berbagai jenis plastik dan banyak digunakan oleh industri makanan ringan, susu bubuk, dan sebagainya. Kedua ada kemasan aerosol, kemasan aerosol banyak digunakan untuk mengemas produk-produk non pangan seperti kosmetika (parfum), pembersih kaca, pengharum ruangan, cat semprot, pemadam kebakaran dan pestisida.

    GALIH SAMODRA
    G1F010012

  6. Kuncoro says:

    salam farmasi…hahahha
    dari artikel di atas (artikel yang menarik) jenis terbagi menjadi 3, kemasan primer, sekunder, dan tersier,, dari tingkat ke-urgen-an.nya apakah waktu mengkonsumsi obat degan kemasan primer itu lebih urgen ketimbang sekunder atau tersier?
    terima kasih…

  7. lingga says:

    halo teman2 saya mau tanya ni,,
    Adakah jenis bahan industri untuk dikemas dalam produk farmasi?

  8. Terimakasih kepada Saudari Aprila dan Indie yang sudah berkunjung :)
    Saudari Aprila… dalam dunia farmasi, bentuk-bentuk sediaan farmasi dapat dibedakan atas bentuk sediaan padat, semipadat, cair, dan gas. Bentuk padat contohnya serbuk (pulveres/puyer dan pulvis), kapsul, tablet, kaplet, suppositoria. Bentuk semipadat contohnya krim, pasta, gel, salep. Bentuk sediaan cair contohnya solutiones (solutio, mixtura, eliksir, sirup, dll. Bentuk sediaan gas contohnya inhalans, aerosol, dll. Dasar yang digunakan dalam pengklasifikasian ini yaitu berdasarkan bentuk sediaannya apakah padat, semipadat, cair, atau gas. Selain itu, pemilihan bentuk sediaan yang cocok untuk pasien juga didasarkan atas tujuan terapi yang dikehendaki apakah lokal atau sistemik serta waktu onset yang dikehendaki apakah cepat atau lambat, dan yang tidak kalah penting adalah umur pasien, untuk anak-anak bentuk sediaan larutan (sirup) lebih disukai karena rasanya manis demikian juga untuk manula bentuk sediaan larutan lebih disukai karena keterbatasan kondisi, sedangkan untuk remaja sampai dewasa lebih menyukai bentuk sediaan padat seperti tablet, kaplet, atau kapsul. Serta, kondisi pasien apakah dalam kondisi sadar sehingga mampu merespon (meminum atau memakan) obat yang kita berikan ataukah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dimana masing-masing bentuk sediaan tersebut pun berbeda-beda dalam pengemasannya. Untuk sediaan padat seperti serbuk terbagi (pulveres/puyer) biasa dikemas dalam kertas perkamen atau kertas sejenis lainnya yang kemudian dikemas dalam plastik, untuk sediaan larutan biasa dikemas dalam wadah botol baik kaca maupun plastik. untuk sediaan semipadat biasa dikemas dalam pot maupun tube, untuk sediaan gas biasa dikemas dalam wadah yang terbuat dari gelas maupun logam yang tidak dapat bereaksi dengan bahan kimia sehingga tidak mempengaruhi stabilitas bahan.

    Rizki Puspitasari (G1F010031)

  9. Indie says:

    nambah wawasan nih,thanks yaa :)

  10. April says:

    Jujur saya masih awam mengenai hal ini
    Yang saya ingin tanyakan, atas dasar apa kemasan obat dapat dikemas dalam berbagai macam bentuk seperti sirup,puyer (serbuk),pil,tablet,kapsul?
    Terimakasih :)

  11. Terimakasih kepada Saudara Adikeputran atas kunjungan dan pertanyaannya :)
    Dalam teknologi pengemasan farmasi (strip, blister, botol, bulk, kaleng) seperti yang dibahas dalam artikel memiliki nilai ekonomi yang berbeda-beda. Misalnya saja kemasan botol atau kaleng dapat dikatakan lebih mahal dibanding kemasan plastic. Hal ini disebabkan dari biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan dan pengolahan material kemasan tersebut. Mengenai dampak kemasan obat terhadap distribusi jelas berpengaruh. Misalnya sediaan yang dikemas dalam bentuk strip atau blister dan dalam bentuk botol atau kaleng. Untuk sediaan yang dikemas strip atau blister (kemasan primer) dimasukkan ke dalam kemasan sekunder seperti kardus akan lebih banyak dikarenakan berukuran kecil sehingga dalam distribusi akan bernilai lebih efektif dan efisien sedangkan untuk kemasan botol atau kaleng (kemasan primer) yang kemudian dikemas dalam kardus sebagai kemasan sekunder akan lebih sedikit dikarenakan lebih besar bentuknya sehingga memakan banyak tempat, hal ini berdampak pada proses distribusi yang kurang efektif dan efisien.

    Rizki Puspitasari (G1F010031)

  12. Terimakasih Saudara Putra atas kunjungan dan pertanyaannya. Tidak semua kemasan terbuat dari plastik, penjelasan lebih lengkap terdapat di artikel kami ada kemasan strip, blister, botol, kaleng, bulk, dan lain-lain. Yang terbuat dari plastik hanya beberapa saja tergantung dari sifat bahan yang dikemas. Material kemasan lainnya yaitu Gelas, Plastik, Elastik / karet, dan metal/logam. Mohon maaf artikel ini berfokus pada teknologi pengemasan produk farmasi, jadi untuk lebih jelasnya Anda dapat membuka artikel http://tsffarmasiunsoed2012.wordpress.com/2012/05/22/material-kemasan-produk-sediaan-farmasi/ yaitu artikel yang membahas mengenai material kemasan. Menurut saya, alasan digunakannya plastik sebagai kemasan dikarenakan plastik dibanding material lainnya memberikan bentuk kemasan yang tidak begitu menyulitkan ketika distribusi. Seperti ilustrasi berikut ini : untuk kemasan plastik (sebagai kemasan primer) dapat kita masukkan ke dalam kardus (sebagai kemasan sekunder) secara bertumpuk. Namun, apabila kita gunakan botol (apalagi botol kaca) tentunya ketika distribusi diperlukan perhatian khusus bahwa barang tidak boleh ditumpuk atau dengan kata lain botol kaca membutuhkan perhatian khusus ketika distribusi dibandingkan kemasan plastik.

    Rizki Puspitasari (G1F010031)

  13. Terimakasih kepada Saudari Septi Rahayu yang telah bertanya mengenai sterilisasi. sebenarnya artikel ini berfokus pada kemasan produk farmasi ya mba… mengenai sterilisasi di ruang operasi meskipun pada bidang kami juga dipelajari sedikit namun akan coba saya jawab. Seperti yang telah diketahui ruang operasi itu bukan sembarang ruangan, dan tidak sembarang orang boleh keluar masuk ruangan tersebut dengan bebas karena ruangan tersebut steril dan orang-orang yang masuk ke dalamnya juga harus dalam keadaan steril (memakai pakaian dan pelindung khusus) demikian juga alat-alat di dalamnya. Jadi, saya rasa sudah pasti terjamin kesterilannya di ruang operasi. Mengenai di ruangan umum tempat pemasangan alat KB, meskipun ruangan ini tidak seketat di ruang operasi namun, kesterilan alat sudah jelas terjamin karena setelah disterilisasi pasti alat tersebut tidak mungkin ditantang-tenteng (seperti yang Anda bilang) tanpa tempatnya. Alat tersebut pasti dibungkus dengan pelindung atau tersimpan dalam tempat khusus. Untuk sediaan farmasi tertentu misalnya suspensi untuk injeksi yang dikemas dalam vial atau flakon ditujukan untuk pemakaian satu kali pakai, sehingga setelah dipakai harus dibuang, tidak boleh digunakan lagi. Hal ini berkaitan dengan sifat zat dan sterilitas.

    Rizki Puspitasari (G1F010031)

  14. @Mba Kadek..
    Pada dasarnya obat mempunyai berbagai macam bentuk. Semua bentuk obat mempunyai karakteristik dan tujuan tersendiri. Ada zat yang tidak stabil jika berada dalam sediaan tablet sehingga harus dalam bentuk kapsul ada juga dalam sediaan emulsi, dsb. Semua sediaan diformulasikan khusus demi tercapainya efek terapi yang diinginkan. Jadi menurut saya, misal ketika suatu zat aktif akan dibuat sediaan tablet dimana zat aktifnya merupakan zat yang mudah terurai maka dalam pembuatannya digunakan eksipien yang sesuai untuk zat aktif tersebut. Dan menurut saya, ketika sediaan sudah mengalami pengemasan, sebelumnya sudah ditentukan pengemas yang sesuai dengan zat aktif tersebut sehingga tidak akan ada pengaruh atau interaksi antara pengemas dengan obat dan pengemas tersebut tentunya akan benar2 berfungsi sebagai pelindung obat sampai obat diterima oleh konsumen.

    Yessy Khoiriyani G1F010008

  15. @Mba Kadek :
    Pertimbangan yang digunakan dlm pemilihan kemasan selain disesuaikan dengan bentuk sediaan (misal sediaan cair dengan botol, sediaan tablet dengan strip atau blister dll), juga perlu dilakukan pertimbangan terhadap beberapa faktor berikut, yaitu :
    1. Faktor Pengamanan
    Melindungi produk terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menjadi penyebab timbulnya kerusakan barang. Misal : cuaca, sinar, jatuh, tumpukan, kuman.
    2. Faktor Ekonomi
    Perhitungan biaya produksi yang efektif termasuk pemilihan bahan, sehingga biaya tidak melebihi proporsi manfaat.
    3. Faktor Pendistribusian
    Mudah didistribusi dari pabrik ke distributor atau pengecer sampai ke tangan konsumen. Di tingkat distributor atau pengecer, kemudahan penyimpanan dan pemajangan perlu dipertimbangkan.
    4. Faktor Komunikasi
    Sebagai media komunikasi yang menerangkan atau mencerminkan produk, citra merek, dan juga sebagai bagian dari promosi, dengan pertimbangan mudah dilihat, dipahami, dan diingat.
    5. Faktor Ergonomi
    Berbagai pertimbangan agar kemasan mudah dibawa, dipegang, dibuka, dan mudah disimpan.
    6. Faktor Estetika
    Keindahan merupakan daya tarik visual yang mencakup pertimbangan penggunaan warna, bentuk, merek/ logo, ilustrasi, huruf dan tata letak untuk mencapai mutu daya tarik visual secara optimal.
    7. Faktor Identitas
    Secara keseluruhan, kemasan harus berbeda dengan kemasan yang lain, yakni memiliki identitas produk agar mudah dikenali, dan membedakannya dengan produk-produk lain.
    Mba Kadek makasih sudah berkunjung :)

    Yessy Khoiriyani G1F010008

  16. @Evan :
    Terima kasih sudah berkunjung.. :)
    Untuk pertanyaan Anda, sudah saya jawab di atas.. :)
    Untuk membedakan mana obat asli dan mana obat palsu, ada beberapa cara atau hal yang bisa dilakukan antara lain, belilah obat di apotek atau toko obat yang terdaftar atau memiliki izin (beda dengan warung2 biasa). Warung2 biasa (sebut saja mial warung kelontong) kadang memang juga menjual obat (MAAF BUKAN UNTUK PROMOSI DAN SEBAGAINYA). Tapi tidak semua obat tersedia disana. Karena ada aturan untuk pegedaran atau penjualan obat. Obat apa saja yang boleh dijual d warung, obat apa saja yg tidak dsb. Kedua, cermati obat yg akan kita beli. Untuk sekilas membedakan mana obat asli dan mana obat palsu, cermati label obat yg akan dibeli, pertama lihat apakah obat tersebut memiliki nomor registrasi dan Nomor Ijin Edar (NIE) dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Nomor registrasi tersebut terdiri dari 15 digit.Selanjutnya, perhatikan tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa yang biasnya tertuli ED (Expired Date). Ketika membeli obat di apotek, tanyakan pada apoteker mengenai obat tersebut. Yang paling penting, jangan diterima apabila kemasan rusak.

    Yessy Khoiriyani G1F010008

  17. kadek says:

    pertimbangan apa yang digunakan dlm pemilihan kemasan??untuk sediaan obat yang zat aktifnya mudah terurai sebaiknya dikemas menggunakan apa??

  18. adiekeputran says:

    menarik sekali artikelnya. sayang sekali saya tidak terjun di bidang ini. tapi saya tertarik untuk bertanya dari segi ekonomi.
    pengemasan juga berdampak pada harga jual obat. apakah setiap bentuk pengemasan itu memiliki rentang harga yang berbeda jauh atau tidak?
    adakah dampak signifikan dari pegemasan terhadap distribusi obat itu sendiri?
    sukses ya :smile:

  19. Evan says:

    Bagaimana cara membedakan obat yg asli sm yg palsu,cz ak pernah beli obat bwt praktikum wktu SMA dulu,ternya isi dari obat tersebut berisi kancing baju,itu kan sangat mebahayakan bagi konsumen,apalgi org awam

  20. Putra says:

    Kenapa si rata2x bahan dari pembungkus obat itu terbuat dr plastik?? Padahal plastik merupakan bahan yg sulit didekomposisi oleh organisme. Apakah ada bahan pembungkus yang lebih ramah lingkungan??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s